Apakah Anak yang Demam Berkepanjangan Berisiko Penyakit Serius – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Jocelyn Prima Utami

Are Children with Prolonged Fever at a Higher Risk for Serious Illness? A Prospective Observational Study

Nijman RG, Tan CD, Hagedoorn NN, et al.; PERFORM consortium. Are Children with Prolonged Fever at a Higher Risk for Serious Illness? A prospective Observational Study. Archives of Disease in Childhood. 2023 Aug;108(8):632-639. PMID: 37185174.

studilayak

Abstrak                                                              

Objektif: Mendeskripsikan karakteristik dan luaran klinis dari anak-anak dengan demam ≥5 hari yang masuk ke instalasi gawat darurat (IGD).

Desain: Studi prospektif observasional yang dilakukan di 12 IGD di Eropa.

Pasien: Anak usia <18 tahun yang demam antara Januari 2017 dan April 2018.

Intervensi: Anak-anak dengan demam ≥5 hari beserta risiko mereka untuk mengalami infeksi bakteri yang berat dan serius dibandingkan dengan anak-anak yang demam <5 hari. Perbandingan meliputi akurasi diagnostik untuk gejala yang non-spesifik, warning signs, dan C-reactive protein (CRP: mg/L).

Luaran utama: Infeksi bakteri dan penyakit serius lainnya yang non-infeksius.

Hasil: Sebanyak 3778/35705 (10.6%) dari anak yang demam mengalami demam ≥5 hari. Insiden infeksi bakteri pada anak yang demam ≥5 hari lebih tinggi daripada anak yang demam <5 hari (8.4% vs 5.7%). Urgensi triase, intervensi yang menyelamatkan nyawa, dan perawatan intensif sama pada kelompok anak yang demam ≥5 hari dengan yang <5 hari.

Beberapa warning signs menilai baik infeksi bakteri dengan spesifisitas >0.90, tetapi jarang diobservasi (0.4–17%). Tidak adanya warning signs tidak bisa cukup diandalkan untuk menyingkirkan infeksi bakteri (sensitivitas 0.92; 95%CI: 0.87–0.95; negative likelihood ratio 0.34 [0.22–0.54]). Nilai CRP <20 mg/L cukup bermanfaat menyingkirkan infeksi bakteri (negative likelihood ratio 0.16 (0.11–0.24)). Terdapat 66 kasus (1.7%) dari penyakit serius non-infeksius, yang meliputi 21 kasus penyakit Kawasaki (0.6%), 28 kondisi inflamasi (0.7%), dan 4 kasus keganasan.

Kesimpulan: Anak-anak dengan demam berkepanjangan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi bakteri, sehingga memerlukan penilaian klinis dan penegakkan diagnosis yang berhati-hati. Warning signs pada infeksi bakteri jarang terjadi, tetapi bila muncul, bisa meningkatkan kemungkinan infeksi bakteri berat. Walaupun jarang, klinisi perlu mempertimbangkan penyebab non-infeksius dari demam yang berkepanjangan.

Apakah Anak yang Demam Berkepanjangan Berisiko Penyakit Serius 

Ulasan Alomedika

Prolonged fever atau demam berkepanjangan sering didefinisikan dalam beberapa guideline sebagai demam yang berdurasi ≥5 hari dan merupakan faktor risiko infeksi bakteri serius pada anak-anak. Demam berkepanjangan juga bisa disebabkan oleh etiologi non-infeksius, seperti inflamasi dan keganasan.

Rekomendasi pendekatan diagnostik untuk mengevaluasi anak-anak dengan demam berkepanjangan sangat diperlukan. Namun, data mengenai jumlah anak yang demam berkepanjangan, karakteristiknya, dan luaran klinisnya belum banyak diketahui. Oleh sebab itu, guideline atau strategi penegakkan diagnosis dan peresepan antimikroba untuk anak dengan demam berkepanjangan masih sangat terbatas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi frekuensi anak dengan demam ≥5 hari yang datang ke IGD di Eropa, sekaligus membandingkan anak-anak tersebut dengan anak-anak yang tidak demam berkepanjangan.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kohort multinasional prospektif, yang mengambil data selama periode dari Januari 2017 hingga April 2018. Anak-anak yang dilibatkan adalah anak-anak usia 0-18 tahun yang demam lebih dari ≥38°C pada saat triase, atau punya riwayat demam di rumah dalam kurun waktu 72 jam.

Ulasan Hasil Penelitian

Sebanyak 3778/35705 (10.6%) anak mengalami demam ≥5 hari. Usia anak umumnya lebih tua pada kelompok yang berdurasi demam ≥5 hari daripada kelompok berdurasi demam lebih singkat.

Penelitian ini juga mengevaluasi karakteristik dari kelompok anak-anak yang mengalami demam berkepanjangan. Kelompok anak yang demam ≥5 hari diberikan antibiotik lebih sering sebelum datang ke IGD. Anak yang demam ≥5 hari juga lebih banyak mengalami gejala respirasi non-spesifik (1560 [50%] vs. 9927 [37%], p<0.001) dan lebih sering menjalani pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan radiologis.

Insiden infeksi bakteri yang serius secara signifikan lebih tinggi pada anak-anak yang mengalami demam ≥5 hari (n=319, 8.4%) daripada anak yang durasi demamnya lebih singkat (n=1812, 5.7%). Anak-anak dengan demam ≥5 hari yang disertai dengan infeksi bakteri serius lebih sering memiliki fokus infeksi pada saluran napas bawah (n=172 [54%] vs. n=628 [35%]) dan lebih sering mengalami kasus infeksi saluran kemih.

Warning signs seperti takikardi, takipneu, peningkatan usaha napas, dan kondisi yang tampak sakit berat lebih sering terjadi pada anak yang mengalami infeksi bakteri serius dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami infeksi serius.

Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada anak demam ≥5 hari berbeda-beda di setiap IGD, dengan pemeriksaan umum berupa pemeriksaan marker inflamasi darah (leukosit 56%, CRP 57%), urinalisis (27%), rontgen dada (26%), dan pemeriksaan respiratori (21%). Penelitian ini juga menunjukkan ada 66 anak (1.7%) yang mengalami kondisi serius lainnya (non-infeksius), meliputi 21 kasus (0.6%) penyakit Kawasaki, dan 28 kasus (0.7%) inflamasi. Kasus baru keganasan jarang ditemukan (n=4 (0.1%)).

Kelebihan Penelitian

Kelebihan penelitian ini adalah ukuran sampel yang cukup besar, yang melibatkan data anak-anak yang mengalami demam berkepanjangan dari 12 IGD lintas Eropa, sehingga memberikan validitas dan generalisasi yang baik. Penelitian ini juga mengevaluasi karakteristik pasien yang mengalami demam ≥5 hari dan membandingkannya dengan pasien yang demam <5 hari.

Limitasi Penelitian

Limitasi penelitian ini adalah keterbatasan data pada awal perjalanan penyakit pasien yang mengalami episode demam, sehingga tidak bisa memberikan gambaran tentang progresivitas penyakit. Beberapa data klinis juga hilang karena banyak anak dengan demam ≥5 hari tidak mengikuti investigasi lebih lanjut. Hal ini meningkatkan risiko bias. Selain itu, penelitian ini masih perlu mempertimbangkan variabel prevalensi infeksi patogen yang dipengaruhi oleh musim.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami demam ≥5 hari memiliki risiko infeksi bakteri serius yang lebih tinggi, sehingga memerlukan pemeriksaan yang lebih berhati-hati. Anamnesis dan pemeriksaan klinis perlu mempertimbangkan banyak diagnosis banding. Etiologi infeksius umumnya lebih sering terjadi, tetapi etiologi yang non-infeksius juga tetap perlu dipertimbangkan.

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk pelayanan kesehatan di Indonesia, di mana kasus demam dengan durasi yang panjang cukup sering dijumpai pada anak-anak. Namun, mengingat adanya perbedaan profil penyakit infeksi di Indonesia dan Eropa, maka penelitian lebih lanjut dengan sampel pasien Indonesia masih diperlukan untuk konfirmasi.

Referensi