Peningkatan resistensi antibiotik pada bakteri Gram-negatif, termasuk organisme multidrug-resistant (MDR), semakin membatasi pilihan terapi yang efektif. Ceftazidime-avibactam (CAZ/AVI), kombinasi sefalosporin dengan inhibitor β-laktamase, menjadi salah satu pilihan penting untuk menangani infeksi Gram-negatif resisten, dengan bukti klinis yang terus berkembang.[1,2]
Penggunaan Antibiotik yang Rasional untuk Mencegah Multidrug Resistance
Pemberian antibiotik yang rasional amat diperlukan untuk mencegah atau mengurangi infeksi MDR-GNB. Penting bagi para dokter untuk memberikan terapi empirik setelah mempertimbangkan patogen yang paling mungkin, sumber dan tingkat keparahan infeksi, serta faktor risiko pasien.[3]
Riwayat kultur dan hasil uji kepekaan sebelumnya, paparan antibiotik dalam 3 bulan terakhir, serta pola resistensi lokal juga perlu diperhatikan. Terapi kemudian harus dievaluasi dan disesuaikan berdasarkan hasil kultur dan uji kepekaan antibiotik.[3]
Risiko infeksi MDR-GNB lebih tinggi pada pasien dengan riwayat kolonisasi atau infeksi MDR-GNB, paparan antibiotik sebelumnya, perawatan di fasilitas kesehatan, serta kondisi imunosupresi atau penyakit berat. Faktor-faktor tersebut perlu dipertimbangkan bersama epidemiologi lokal dalam menentukan terapi empirik.[3,4]
Pemilihan Antibiotik pada Infeksi Bakteri Gram-Negatif Multidrug-Resistant
Pada infeksi yang dicurigai disebabkan oleh bakteri MDR-GNB, pemilihan terapi empiris perlu mempertimbangkan sumber dan tingkat keparahan infeksi, riwayat kolonisasi atau infeksi MDR, paparan antibiotik sebelumnya, serta pola resistensi lokal. Kultur dan uji kepekaan antibiotik perlu dilakukan sedini mungkin pada pasien dengan risiko tinggi agar terapi dapat disesuaikan berdasarkan patogen dan profil kepekaannya.[3,4]
Ceftazidime-avibactam (CAZ/AVI) digunakan secara selektif pada infeksi yang disebabkan oleh patogen Gram-negatif yang sensitif terhadap obat ini. Pemilihan CAZ/AVI perlu mempertimbangkan data mikrobiologi karena resistensi terhadap CAZ/AVI telah dilaporkan dan menunjukkan peningkatan, terutama pada bakteri Gram-negatif non-fermentatif.[7]
Keterbatasan Antibiotik untuk Infeksi Bakteri Gram Negatif Multidrug-Resistant
Pilihan terapi untuk infeksi MDR-GNB bergantung pada spesies bakteri, mekanisme resistensi, lokasi infeksi, dan hasil uji kepekaan antibiotik. Antibiotik β-lactam baru, termasuk ceftazidime-avibactam, meropenem-vaborbactam, imipenem-relebactam, ceftolozane-tazobactam, aztreonam-avibactam, dan cefiderocol, kini menjadi pilihan utama untuk berbagai infeksi MDR-GNB tertentu.
Antibiotik seperti aminoglikosida, tigecycline, eravacycline, fosfomycin, dan polymyxin tetap memiliki peran pada kondisi tertentu, tetapi umumnya sebagai pilihan alternatif atau untuk indikasi spesifik.[3,4]
Aktivitas In Vitro Ceftazidime Avibactam Terhadap Bakteri Gram Negatif Multidrug-Resistant
Ceftazidime-avibactam (CAZ/AVI) menggabungkan aktivitas ceftazidime yang menghambat sintesis dinding sel bakteri melalui pengikatan penicillin-binding proteins (PBP) dengan avibactam sebagai inhibitor β-laktamase yang menghambat β-laktamase kelas A, C, dan sebagian kelas D. Kombinasi ini mempertahankan aktivitas ceftazidime terhadap sejumlah bakteri Gram-negatif penghasil β-laktamase, tetapi tidak aktif terhadap bakteri penghasil metallo-β-lactamase (MBL).[6,7]
Surveillance ATLAS terhadap 5.014 isolat dari sub-Sahara Afrika menunjukkan sensitivitas CAZ/AVI sebesar 96,2% pada Enterobacterales dan 88,9% pada Pseudomonas aeruginosa. Namun, sensitivitas lebih rendah pada isolat dengan difficult-to-treat resistance dan bakteri penghasil MBL. [8] Meta-analisis 2025 terhadap 136 studi menemukan resistensi CAZ/AVI sebesar 6,1% pada Enterobacterales dan 25,8% pada bakteri Gram-negatif non-fermentatif, dengan proporsi resistensi meningkat dari 5,6% pada 2015–2020 menjadi 13,2% pada 2021–2024.[9]
Hasil Penelitian terkait Efikasi Ceftazidime Avibactam
Beberapa studi telah meneliti manfaat ceftazidime avibactam untuk kasus infeksi dengan resistansi antibiotik. Meta analisis (2025) yang mencakup 17 studi klinis, termasuk 9 uji acak terkontrol, menunjukkan bahwa CAZ/AVI)memiliki efikasi klinis yang secara umum sebanding dengan antibiotik pembanding pada berbagai infeksi Gram-negatif.[1]
Hasil ini mendukung penggunaan CAZ/AVI sebagai salah satu pilihan terapi pada infeksi Gram-negatif yang disebabkan oleh patogen resisten dan masih sensitif terhadap CAZ/AVI.[1]
Data real-world (2026) dilaporkan dari studi retrospektif multisenter di 22 pusat kesehatan di Amerika Serikat, yang melibatkan 613 pasien dengan infeksi MDR-GNB. Pneumonia merupakan sumber infeksi tersering (55,5%), sedangkan patogen yang paling banyak ditemukan adalah Pseudomonas aeruginosa (36,1%) dan carbapenem-resistant Enterobacterales (34,7%). Clinical success secara keseluruhan mencapai 64,8%.[10]
Pada pasien yang belum mendapatkan terapi antimikroba aktif sebelumnya, pemberian CAZ/AVI dalam ≤42 jam sejak kultur dikaitkan dengan clinical success yang lebih tinggi (73,3% vs 63,4%) dan mortalitas 30 hari yang lebih rendah (10,7% vs 19,1%).[10]
Rekomendasi Penggunaan Ceftazidime Avibactam
Ceftazidime-avibactam telah memperoleh persetujuan FDA Amerika Serikat dan EME Eropa untuk beberapa infeksi bakteri Gram-negatif yang sensitif, termasuk complicated urinary tract infection (cUTI), complicated intra-abdominal infection (cIAI), serta hospital-acquired pneumonia (HAP) ataupun ventilator-associated pneumonia (VAP). Pada cIAI, ceftazidime-avibactam digunakan bersama metronidazole.[11,12]
Berdasarkan IDSA 2026, CAZ/AVI merupakan salah satu pilihan utama untuk cUTI akibat CRE, serta terapi pilihan untuk infeksi invasif akibat KPC-producing Enterobacterales dan OXA-48-like-producing Enterobacterales. Pada infeksi Pseudomonas aeruginosa dengan difficult-to-treat resistance (DTR), CAZ/AVI juga merupakan salah satu terapi pilihan untuk infeksi di luar saluran kemih, tetapi ceftolozane-tazobactam lebih diprioritaskan pada pneumonia akibat DTR-P. aeruginosa.[3]
Sebaliknya, CAZ/AVI tidak direkomendasikan sebagai monoterapi untuk infeksi akibat NDM-producing Enterobacterales. IDSA 2026 merekomendasikan aztreonam-avibactam atau cefiderocol sebagai pilihan utama; CAZ/AVI yang dikombinasikan dengan aztreonam merupakan alternatif apabila aztreonam-avibactam tidak tersedia.[3]
Kesimpulan
Infeksi multidrug-resistant Gram-negative bacteria (MDR-GNB) merupakan tantangan terapi yang memerlukan pemilihan antibiotik berdasarkan sumber dan keparahan infeksi, faktor risiko resistensi, pola resistensi lokal, serta hasil kultur dan uji kepekaan antibiotik. Penggunaan antibiotik secara rasional diperlukan untuk mempertahankan efektivitas terapi dan membatasi munculnya resistensi lebih lanjut.
Antibiotik golongan ceftazidime-avibactam (CAZ/AVI) merupakan salah satu pilihan penting untuk infeksi Gram-negatif resisten, terutama pada infeksi akibat KPC-producing dan OXA-48-like-producing Enterobacterales, serta beberapa infeksi akibat Pseudomonas aeruginosa dengan difficult-to-treat resistance (DTR).
Namun, CAZ/AVI tidak efektif terhadap bakteri penghasil metallo-β-lactamase (MBL) sebagai monoterapi. Resistensi terhadap CAZ/AVI juga terus dilaporkan. Oleh karena itu, penggunaannya perlu dilakukan secara selektif berdasarkan indikasi klinis, mekanisme resistensi, dan hasil uji kepekaan antibiotik.
Penulis pertama: dr. Eduward Jansen Thendiono, Sp.PD
