Early Peanut Introduction

Oleh :
dr.Eva Naomi Oretla

Early peanut introduction atau EPI merupakan strategi preventif yang mengacu pada pemberian makanan yang mengandung kacang tanah kepada bayi sejak usia dini. Hal ini umumnya dilakukan pada bayi yang berusia 4–6 bulan, dengan tujuan menurunkan risiko terjadinya alergi kacang tanah di kemudian hari.[1,2]

Pendekatan ini berkembang sebagai respons terhadap meningkatnya prevalensi alergi kacang tanah dalam beberapa dekade terakhir dan terbatasnya angka resolusi spontan pada kondisi tersebut.[2-4]

Early Peanut Introduction, pemberian makanan yang mengandung kacang tanah kepada bayi sejak usia dini

Sekilas tentang Alergi Kacang Tanah

Alergi kacang tanah merupakan salah satu bentuk alergi makanan yang paling sering dijumpai di populasi pediatrik. Manifestasi klinis umumnya muncul pada tahun pertama kehidupan (sering teridentifikasi mulai usia 4 bulan) dan sebagian besar kasus muncul dalam 2 tahun pertama kehidupan.[3,4]

Secara patofisiologis, alergi kacang tanah dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE), yang memicu spektrum manifestasi klinis mulai dari gejala ringan pada rongga mulut hingga reaksi sistemik berat berupa anafilaksis yang berpotensi mengancam jiwa.[3,4]

Sejumlah studi menunjukkan bahwa alergi kacang tanah cenderung bersifat persisten dengan kemungkinan resolusi rendah dibandingkan alergi makanan lainnya. Selain itu, tingkat keparahan reaksi alergi dilaporkan dapat meningkat seiring bertambahnya usia, sehingga memberikan beban morbiditas jangka panjang yang signifikan.[2-4]

Rasionalisasi Dilakukannya Early Peanut Introduction

Pendekatan EPI berasal dari studi berskala besar, yaitu Learning Early About Peanut Allergy (LEAP), yang menunjukkan bahwa pemberian kacang tanah secara teratur pada bayi usia 4–10 bulan dengan risiko tinggi alergi (eczema dan/atau alergi telur) secara signifikan menurunkan insiden alergi kacang tanah hingga 81% dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkan paparan kacang tanah.[2,5]

Hasil penelitian tersebut selanjutnya diadopsi beberapa rekomendasi klinis, termasuk American Academy of Pediatrics (AAP). Laporan pascaimplementasi EPI menunjukkan penurunan insiden alergi kacang tanah sebesar 27% setelah penerapan pedoman tahun 2015 dan mencapai 43% setelah pembaruan pedoman tahun 2017, dibandingkan periode sebelum strategi EPI diterapkan.[5,6]

Mekanisme Early Peanut Introduction untuk Menurunkan Risiko Alergi Kacang

Perubahan paradigma dalam strategi pencegahan alergi makanan, khususnya alergi kacang tanah, menandai pergeseran dari pendekatan penghindaran alergen (allergen avoidance) menuju introduksi dini, yang dilandasi mekanisme imunologis dan dinamika sensitisasi. Strategi allergen avoidance jangka panjang telah terbukti tidak menurunkan insiden alergi kacang tanah dan justru berpotensi meningkatkan sensitisasi, terutama pada bayi dengan faktor risiko tinggi.[3,7-9]

Secara imunologis, efektivitas EPI berkaitan erat dengan induksi toleransi oral. Paparan alergen melalui saluran gastrointestinal pada usia awal kehidupan memicu aktivasi sel dendritik intestinal yang mempresentasikan antigen secara tolerogenik, sehingga dapat mengarahkan diferensiasi sel T regulator (Treg) spesifik alergen.[3,7]

Sel Treg menghasilkan sitokin imunomodulator, termasuk interleukin-10 (IL-10) dan transforming growth factor-beta (TGF-β), yang menekan respons imun tipe Th2 dan produksi imunoglobulin E (IgE) spesifik alergen. Mekanisme ini membentuk toleransi sistemik terhadap protein kacang tanah dan mencegah timbulnya reaksi alergi klinis pada paparan berikutnya.[3,4,7]

Introduksi dini kacang tanah melalui saluran gastrointestinal pada periode neonatal dan infancy memiliki keunggulan dibanding paparan terlambat, karena sistem imun pada tahap ini berada dalam fase tolerogenik, dengan proporsi Treg yang relatif tinggi dan maturasi sel dendritik yang belum lengkap. Kondisi ini memungkinkan stimulasi imunologis yang lebih efektif untuk induksi toleransi.[3,7]

Data longitudinal menunjukkan bahwa keterlambatan introduksi kacang tanah dikaitkan dengan peningkatan risiko alergi persisten dan manifestasi klinis lebih berat. Paparan dini tidak hanya menurunkan insiden alergi, tetapi juga mengurangi kemungkinan reaksi anafilaksis. Landasan imunologis serta bukti klinis yang ada, mendukung integrasi EPI sebagai strategi preventif primer alergi kacang tanah pada populasi pediatrik.[7-9]

Stratifikasi Risiko Individu

Implementasi EPI dalam praktik klinis memerlukan pendekatan yang sistematis dan berbasis stratifikasi risiko. Identifikasi kategori risiko menjadi determinan utama dalam menetapkan indikasi, waktu introduksi, metode pemberian, dan kebutuhan evaluasi klinis sebelum pemberian dini kacang tanah dilakukan.[1,9]

Kategori Risiko Tinggi terhadap Alergi Kacang Tanah

Bayi dengan eczema berat dan/atau alergi telur maupun riwayat alergi pada keluarga dimasukkan ke kelompok risiko tinggi karena ada disfungsi barrier dan kecenderungan respons imun tipe Th2 yang dominan. Alergi telur pada awal kehidupan juga merupakan penanda predisposisi atopik dan disregulasi imun yang meningkatkan kemungkinan sensitisasi silang terhadap alergen makanan lain, termasuk kacang tanah.[2,3,7,8]

Selain itu, riwayat alergi pada keluarga mencerminkan faktor genetik dan lingkungan yang memperkuat risiko atopik, sehingga populasi ini memerlukan pendekatan preventif yang lebih proaktif.[3,7,8]

Kategori Risiko Sedang-Rendah terhadap Alergi Kacang Tanah

Pada bayi yang dikategorikan sebagai kelompok risiko sedang-rendah, yaitu bayi yang memiliki eczema ringan-sedang maupun bayi tanpa faktor risiko, introduksi dapat dilakukan di rumah sekitar usia 6 bulan tanpa kebutuhan evaluasi klinis khusus, dengan tetap memperhatikan kesiapan perkembangan untuk menerima MPASI.[1,9]

Pemeriksaan Penapisan untuk EPI

National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) menyarankan pemeriksaan IgE spesifik kacang tanah atau skin prick test pada bayi dengan eczema berat dan/atau alergi telur sebelum pemberian pertama. Hasil pemeriksaan akan menentukan apakah introduksi dapat dilakukan di rumah, atau perlu pengawasan medis, atau perlu rujukan ke spesialis alergi-imunologi untuk uji provokasi oral terkontrol.[1,2,9]

Pada kelompok risiko rendah, penapisan rutin tidak dianjurkan karena prevalensi alergi yang rendah dan potensi hasil positif palsu yang dapat menyebabkan pembatasan diet yang tidak perlu. Dengan demikian, stratifikasi risiko memungkinkan implementasi EPI yang aman, rasional, dan berbasis bukti, sekaligus meminimalkan risiko reaksi alergi berat pada populasi pediatrik yang rentan.[1,9]

Diagram di bawah menerangkan skema EPI berdasarkan stratifikasi risiko dan indikasi yang sesuai dengan rekomendasi NIAID dan AAP.[1,9]

Early Peanut Introduction

Gambar 1. Diagram Alur Early Peanut Introduction Sesuai Stratifikasi Risiko (Sumber: dr. Eva Naomi Oretla, 2026).

Guideline dan Konsensus Terkini untuk Early Peanut Introduction

Secara keseluruhan, guideline dan konsensus mengenai early peanut introduction (EPI) merekomendasikan pemberian kacang tanah pada populasi pediatrik mulai usia 4–6 bulan untuk mengurangi risiko alergi. Penapisan sebelum EPI tidak diwajibkan, tetapi beberapa pedoman menyarankan penapisan awal guna mencegah risiko alergi berat setelah pemberian pertama kacang tanah.[1,2,8,9]

Rekomendasi NIAID

Bayi dengan risiko tinggi alergi kacang tanah sebaiknya mulai diperkenalkan makanan yang mengandung kacang tanah sejak 4–6 bulan, dengan evaluasi menggunakan IgE spesifik kacang tanah atau tes tusuk kulit sebelumnya.[1,5]

Bayi dengan eczema ringan-sedang dapat diperkenalkan makanan yang mengandung kacang tanah pada usia sekitar 6 bulan. Bayi tanpa eczema atau alergi makanan dapat mengonsumsi makanan yang mengandung kacang tanah sesuai usia secara bebas (bersama makanan padat lain) sesuai praktik keluarga dan budaya.[1,2,5]

Pengenalan makanan padat lain sebelum kacang tanah dianjurkan untuk memastikan kesiapan perkembangan bayi. Jumlah protein kacang tanah yang sebaiknya dikonsumsi secara teratur per minggu adalah sekitar 6–7 gram, dibagi menjadi minimal tiga kali pemberian. Belum ada durasi spesifik yang ditetapkan untuk konsumsi kacang.[1,2,9]

Rekomendasi American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology

Untuk pencegahan alergi kacang tanah dan/atau telur, kedua makanan ini sebaiknya diperkenalkan pada bayi sekitar usia 6 bulan, tetapi tidak sebelum 4 bulan. Penapisan sebelum pemberian tidak diwajibkan, meskipun beberapa keluarga mungkin memilih melakukannya.[1,3]

Selain kacang tanah dan telur, sebaiknya alergen lain juga diperkenalkan pada periode usia 4–6 bulan. Pengenalan makanan pendamping yang beragam dianjurkan karena dapat mendukung pencegahan alergi makanan, sekaligus memastikan kesiapan bayi menerima makanan padat.[1,7,10]

Tidak ada dosis spesifik yang direkomendasikan, sehingga fokus orang tua sebaiknya pada pemberian makanan yang dapat ditoleransi anak dengan frekuensi tertentu. Konsistensi dan keberlanjutan pemberian makanan selama beberapa tahun disarankan untuk memaksimalkan efek pencegahan alergi pada masa bayi dan anak-anak.[1,9-11]

Tabel 1. Rekomendasi Usia, Dosis, dan Frekuensi Pemberian Kacang pada EPI

Kategori Usia Mulai Bentuk Kacang Tanah yang Aman Dosis Awal dan Frekuensi Pemberian Keterangan

Risiko Tinggi (eczema berat dan/atau alergi telur)

4-6 bulan Pasta kacang tanah dengan konsistensi yang encer dan lembut yang dicampur puree buah atau sayur

Mulai 2 gram protein kacang tanah (± ½ sendok teh pasta) frekuensi pemberian 3x/minggu

 

Konsultasi dokter terlebih dahulu; pertimbangkan tes alergi. Pemberian pertama kali dapat dilakukan di fasilitas kesehatan

Risiko Sedang (eczema ringan-sedang)

6 bulan Pasta kacang tanah dengan konsistensi lembut Mulai 2 gram protein kacang tanah (± ½ sendok teh pasta) frekuensi pemberian 2-3x/minggu Pemberian pertama dapat dimulai di rumah, terutama jika tidak ada riwayat alergi berat

Risiko Rendah / Normal

(tidak memiliki eczema maupun alergi)

6 bulan

Pasta kacang tanah dengan konsistensi lembut, bumbu kacang

 

Mulai sedikit (½ sendok teh), tingkatkan pemberian sesuai toleransi Aman untuk diperkenalkan di rumah, dengan pengawasan biasa
Bayi dengan usia <4 bulan Tidak dianjurkan - - Pemberian terlalu dini tidak aman, berisiko tersedak, dan saluran cerna belum matang secara anatomi maupun fungsional

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam EPI:

●      Jangan memberikan kacang tanah utuh atau makanan yang mengandung kacang dengan ukuran potongan besar karena berisiko tersedak.

●      Awasi reaksi selama 2 jam pertama setelah pemberian makanan yang mengandung kacang tanah.

●      Jika muncul gejala alergi ringan setelah pemberian, hentikan dan segera lakukan konsultasi dokter.

●      Orang tua, pendamping, maupun pengasuh anak harus mengenali gejala alergi ringan maupun berat. Jika terjadi gejala reaksi alergi berat setelah pemberian, segera kunjungi fasilitas kegawatdaruratan.

●      Pengenalan makanan yang mengandung kacang tanah harus berkelanjutan; pemberian sekali saja untuk uji coba lalu berhenti dapat mengurangi efek toleransi.

Sumber: dr. Eva Naomi Oretla, 2026.

Bukti Efektivitas Early Peanut Introduction untuk Mencegah Alergi Kacang Tanah

Berbagai studi telah dilakukan untuk mengetahui efektivitas early peanut introduction sebagai prevensi primer alergi kacang tanah pada populasi pediatrik.[2,12]

Studi Logan et al

Logan et al. menganalisis gabungan data dari dua uji klinis besar, yaitu Learning Early About Peanut Allergy (LEAP) dan Enquiring About Tolerance (EAT), untuk memperoleh bukti yang lebih kuat. Hasil utama adalah analisis intention-to-treat, yang menunjukkan bahwa pemberian kacang tanah sejak bayi menurunkan risiko alergi kacang tanah sebesar 75%. Hasil ini sangat bermakna secara statistik (p<0,0001).[2]

Efek perlindungan ini terlihat pada semua tingkat keparahan eczema, baik pada anak yang sudah maupun belum tersensitisasi kacang tanah. Semakin dini kacang tanah diperkenalkan, semakin besar efektivitas perlindungannya.[2]

Pada analisis per-protocol (PP), risiko alergi menurun hingga 98%. Analisis inferensi kausal menguatkan temuan ini dengan estimasi penurunan risiko relatif rata-rata 89%. Bahkan, pada anak tanpa eczema, analisis multivariat menunjukkan penurunan risiko hingga 100%, yang juga bermakna secara statistik.[2]

Studi Gabryszewski et al

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perubahan angka kejadian alergi makanan yang dimediasi imunoglobulin E (IgE) khususnya alergi kacang tanah, setelah diterbitkannya pedoman early peanut introduction (EPI).[12]

Penelitian menggunakan data rekam medis elektronik anak usia 0–3 tahun di Amerika Serikat yang dikelola oleh American Academy of Pediatrics. Subjek dikelompokkan ke dalam tiga periode, yaitu periode sebelum pedoman EPI, setelah pedoman awal EPI, dan setelah pedoman tambahan.[12]

Hasil menunjukkan penurunan bermakna kejadian alergi kacang tanah dan seluruh alergi makanan yang dimediasi IgE setelah publikasi pedoman EPI. Insiden kumulatif alergi kacang menurun dari 0,79% sebelum pedoman menjadi 0,53% setelah pedoman, lalu menjadi 0,45% setelah pedoman tambahan.[12]

Risiko relatif juga menurun signifikan (hazard ratio <1; p<0,0001), dengan pola serupa pada seluruh alergi makanan yang dimediasi IgE. Analisis interrupted time series juga mengonfirmasi tren penurunan diagnosis alergi pascaimplementasi pedoman.[12]

Kesimpulan

Early peanut introduction (EPI) merupakan strategi pencegahan primer alergi kacang tanah, yang didukung bukti ilmiah dan landasan imunologis. Pergeseran paradigma dari pendekatan allergen avoidance menuju introduksi dini didorong oleh meningkatnya prevalensi alergi kacang tanah dan rendahnya angka resolusi spontan pada kondisi ini.

Implementasi EPI harus dilakukan secara sistematis dan berbasis stratifikasi risiko, sesuai dengan rekomendasi dan konsensus yang ada. Evaluasi klinis dan imunologis sebelum introduksi diperlukan pada kelompok risiko tinggi, sedangkan bayi dengan risiko rendah dapat diperkenalkan kacang tanah tanpa penapisan rutin.

Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis bukti, EPI dapat menjadi intervensi preventif primer yang efektif dan aman untuk menurunkan beban alergi kacang tanah pada populasi pediatrik.

Referensi