Glukosamin dan kondroitin adalah obat yang sering digunakan dalam tata laksana osteoarthritis. Namun, efikasi kedua obat tersebut untuk memperbaiki gejala dan mencegah progresi penyakit osteoarthritis masih belum jelas.[1-3]
Osteoarthritis sendiri merupakan penyakit degeneratif pada sendi sinovial yang disebabkan oleh kerusakan tulang rawan secara progresif. Pada osteoarthritis, sel sinovial yang mengalami inflamasi dan kondrosit yang rusak menyebabkan adanya produksi matriks metalloproteinase (MMP), aggrecanase, dan prostaglandin.[4,5]
Hal ini menyebabkan degradasi molekul kolagen dan proteoglikan, serta apoptosis kondrosit yang kemudian meningkatkan reaksi inflamasi lebih lanjut menjadi suatu siklus yang tidak pernah berakhir sehingga terjadi degenerasi tulang rawan dan tulang lebih lanjut dan luas.[4,5]
Teori Mengenai Manfaat Pemberian Glukosamin dan Kondroitin untuk Osteoarthritis
Pada osteoarthritis, proses degenerasi yang terjadi pada tulang rawan sendi hingga tulang memicu reaksi inflamasi, serta melibatkan membran sinovial sehingga menyebabkan nyeri, gangguan gerak sendi, penurunan massa otot dan deformitas pada sendi. Gejala-gejala tersebut dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Glukosamin dan kondroitin adalah obat yang termasuk dalam golongan symptomatic slow acting drugs for osteoarthritis (SYSADOA), yang mana keduanya merupakan substansi yang terdapat dalam tubuh dan dibutuhkan untuk pembentukan proteoglikan. Glukosamin dan kondroitin diharapkan dapat memperlambat proses degenerasi dan meredakan nyeri pada osteoarthritis.
Secara teoritis, glukosamin berperan sebagai prekursor sintesis glikosaminoglikan dan proteoglikan, sedangkan kondroitin sulfat merupakan komponen utama matriks kartilago yang diduga mampu menghambat degradasi tulang rawan melalui penurunan aktivitas enzim katabolik dan mediator inflamasi.[1-5]
Efikasi dan Keamanan Glukosamin dan Kondroitin pada Pasien Osteoarthritis
Hasil penelitian in vivo dan hewan menunjukkan bahwa glukosamin dan kondroitin dapat menekan progresivitas osteoarthritis. Dalam penelitian in vivo dan hewan, beberapa manfaat glukosamin dan kondroitin yang ditemukan adalah:
- Menstimulasi produksi matriks ekstraseluler kartilago
- Meningkatkan produksi kolagen
- Menekan mediator inflamasi
- Menghambat degenerasi kartilago
- Menurunkan aktivitas resorpsi pada tulang subkondral.[4,5]
Berdasarkan manfaat yang ditemukan dari studi-studi awal tersebut, dilakukan studi pada manusia untuk mengetahui efikasi glukosamin dan kondroitin pada pasien osteoarthritis.[7,8]
Basis Bukti dari Studi Observasional Mengenai Efikasi Glukosamin dan Kondroitin
Sebuah studi kohort prospektif observasional dilakukan di 51 layanan kesehatan di Rusia, melibatkan 1.102 pasien usia 45-75 tahun dengan pemantauan 64 minggu. Studi ini mengevaluasi efikasi dan keamanan glukosamin hidroklorida 500 mg dan kondroitin sulfat 400 mg pada pasien osteoarthritis lutut atau panggul derajat I–III menurut klasifikasi Kellgren–Lawrence.
Luaran yang diukur berupa skor KOOS (Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Score) atau HOOS (Hip Disability and Osteoarthritis Outcome Score) yang menilai nyeri, gejala, fungsi fisik, dan kualitas hidup. Hasil menunjukkan perbaikan bermakna seluruh domain KOOS dan HOOS, dengan perbaikan skor nyeri sekitar 22,9 poin pada osteoarthritis lutut dan 22,8 poin pada osteoarthritis panggul.
Selain itu, studi ini juga melaporkan penurunan proporsi pasien yang mengalami nyeri setiap hari dari sekitar 63–65% menjadi 13%, serta penurunan penggunaan analgesik dari sekitar 44% menjadi 11–13% pada akhir masa pemantauan. Lebih lanjut, sekitar 78–80% pasien melaporkan puas atau sangat puas terhadap terapi. Kejadian efek samping yang berkaitan dengan konsumsi obat juga relatif jarang (2,8%) dan umumnya berupa gangguan gastrointestinal ringan.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa tingkat kekuatan bukti dari studi ini tergolong sedang hingga rendah, karena desain penelitian adalah observasional tanpa kelompok kontrol atau plasebo. Hal ini mengakibatkan perbaikan yang ditemukan tidak dapat dipastikan sepenuhnya disebabkan oleh intervensi dan masih berpotensi dipengaruhi oleh faktor perancu, efek plasebo, maupun perjalanan alami penyakit.[1]
Basis Bukti dari Meta Analisis Mengenai Efikasi Glukosamin dan Kondroitin
Suatu meta analisis mengevaluasi hasil dari 30 randomized controlled trial (RCT) dengan tingkat bias rendah dan melibatkan 7172 pasien. Hasil analisis menunjukkan bahwa kondroitin dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi gerak persendian jika dibandingkan dengan plasebo. Sementara itu, glukosamin terbukti dapat mengurangi kekakuan sendi jika dibandingkan dengan plasebo.
Meski begitu, perlu dicatat bahwa studi ini mengungkapkan bahwa mengombinasikan glukosamin dan kondroitin tidak menunjukan efikasi yang signifikan dalam mengurangi nyeri maupun perbaikan fungsional bila dibandingkan placebo. Namun, tidak ditemukan efek samping bermakna dalam penggunaan glukosamin dan kondroitin dibandingkan plasebo.[7]
Meta analisis lain mengevaluasi 29 RCT dengan total partisipan 6120 pasien. Hasil menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan glukosamin atau kondroitin saja terbukti dapat mengurangi nyeri bila dibandingkan dengan plasebo, tetapi hal serupa tidak didapati pada kombinasi glukosamin dan kondroitin.
Dalam meta analisis tersebut, baik glukosamin, kondroitin, maupun kombinasi keduanya juga tidak menghasilkan perubahan signifikan terhadap nilai indeks Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis (WOMAC) yang meliputi penilaian terhadap nyeri, kekakuan sendi dan fungsionalitas fisik. Durasi konsumsi glukosamin dan kondroitin juga tidak berefek signifikan dalam meredakan nyeri dan indeks WOMAC.[8]
Kesimpulan
Secara teoritis, glukosamin dan kondroitin memiliki dasar biologis untuk digunakan sebagai symptomatic slow-acting drugs for osteoarthritis (SYSADOA). Teori ini juga telah didukung oleh hasil studi eksperimental yang menunjukkan bahwa glukosamin dan kondroitin mampu menghambat proses inflamasi serta degradasi kartilago. Meski demikian, bukti klinis pada manusia masih menunjukkan hasil yang tidak konsisten.
Sebuah studi observasional skala besar di Rusia menunjukkan adanya perbaikan nyeri, fungsi sendi, kualitas hidup, serta penurunan kebutuhan analgesik dan profil keamanan yang baik pada penggunaan glukosamin dan kondroitin. Namun, kekuatan buktinya terbatas karena metodologi observasional dan tidak adanya kelompok kontrol.
Di sisi lain, telah ada meta analisis yang mengindikasikan bahwa glukosamin atau kondroitin sebagai terapi tunggal dapat memberikan manfaat simptomatik ringan pada beberapa luaran klinis, meskipun kombinasi keduanya tidak menunjukkan keunggulan bermakna dibandingkan plasebo dalam mengurangi nyeri maupun memperbaiki fungsi sendi.
Atas dasar itu, di praktik klinis glukosamin dan kondroitin belum bisa direkomendasikan secara meyakinkan sebagai terapi utama untuk osteoarthritis. Kedua obat ini mungkin dapat dipertimbangkan sebagai adjuvan mengingat profil keamanan yang baik, terutama bila respons terhadap terapi lini pertama belum optimal atau terapi analgesik jangka panjang perlu dibatasi. Namun, terapi utama osteoarthritis tetap berfokus pada penggunaan analgesik atau antiinflamasi sesuai indikasi, latihan fisik, dan penurunan berat badan bila diperlukan.
Penulisan pertama oleh: dr. Gisheila Ruth Anggita
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
