High Density Lipoproteins Associate with Age-Related Macular Degeneration in the All of Us Research Program
Chen JS, Esko JD, Walker E, Gordts PLSM, Baxter SL, Toomey CB. Ophthalmology. 2025: S0161-6420(25)00002-8. doi: 10.1016/j.ophtha.2024.12.039.
Abstrak
Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor klinis dan genetik dalam metabolisme lipoprotein serta risiko terjadinya age-related macular degeneration (AMD) menggunakan data dari program penelitian All of Us.
Desain: Analisis data retrospektif dengan pendekatan cross-sectional.
Subjek: Sebanyak 2.328 pasien AMD dan 5.028 individu sehat dari program All of Us.
Metode: Partisipan dengan dan tanpa AMD dicocokkan (matching) berdasarkan jenis kelamin, usia, dan ras dengan rasio 1:2. Status merokok, riwayat hiperlipidemia, dan penggunaan statin dikategorikan sebagai variabel biner, dengan statin dikelompokkan lebih lanjut berdasarkan mekanisme kerjanya (hepatic vs. non-hepatic). Kadar low-density lipoprotein (LDL), high-density lipoprotein (HDL), dan trigliserida (TG) diukur.
Analisis genetik dilakukan menggunakan perangkat PLINK untuk mengekstraksi single-nucleotide polymorphisms (SNPs) yang berhubungan dengan disregulasi LDL dan HDL. Hubungan antara kadar LDL, TG, dan HDL terhadap AMD dianalisis menggunakan kurva odds ratio. Seluruh variabel klinis dan genetik dimasukkan dalam model regresi logistik multivariabel untuk menghitung odds ratio dan p-value.
Hasil: Analisis regresi multivariabel menunjukkan bahwa penggunaan statin, serta kadar HDL yang rendah maupun tinggi, secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko AMD (p<0,001, p=0,004, dan p<0,001). Selain itu, SNPs yang terkait dengan metabolisme HDL ditemukan berkontribusi terhadap peningkatan risiko AMD. Gen LPA juga teridentifikasi sebagai SNP baru yang berhubungan dengan peningkatan risiko AMD (p=0,007).
Kesimpulan: Studi ini menemukan hubungan berbentuk U antara kadar HDL dan risiko AMD, di mana baik kadar HDL yang rendah maupun tinggi secara signifikan meningkatkan risiko AMD. Hasil ini memperkuat peran HDL dalam patogenesis AMD serta menggarisbawahi pentingnya faktor genetik dalam mekanisme penyakit ini.
Ulasan Alomedika
Age-related macular degeneration (AMD) merupakan penyebab utama kebutaan pada usia lanjut dan ditandai dengan akumulasi drusen yang kaya lipoprotein. Meskipun metabolisme lipoprotein berperan dalam patogenesis AMD, hasil penelitian mengenai hubungan kadar lipoprotein serum dan risiko AMD masih bervariasi.
Beberapa studi menemukan bahwa kadar HDL tinggi meningkatkan risiko AMD, sementara penelitian lain tidak menemukan hubungan yang signifikan atau bahkan menunjukkan efek protektif. Studi genetik juga telah mengidentifikasi variasi genetik terkait metabolisme lipoprotein yang dikaitkan dengan AMD, tetapi hasilnya belum konsisten.
Penelitian ini menggunakan data dari program All of Us yang disponsori oleh National Institutes of Health (NIH) dengan populasi yang besar dan beragam. Tujuan utama penelitian ini adalah menilai hubungan antara kadar lipoprotein sistemik dan risiko AMD menggunakan analisis kurva odds ratio dan regresi multivariabel.
Ulasan Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan analisis sekunder menggunakan data dari All of Us Research Program yang mencakup 413.457 partisipan dengan latar belakang yang beragam. Keuntungan utama dari dataset ini adalah ukuran sampel yang besar dan keberagaman populasi yang memungkinkan analisis yang lebih luas. Namun, keterbatasan yang perlu dicatat adalah ketergantungan pada data sekunder yang dapat mengandung bias atau data yang hilang (missing values).
Seleksi partisipan dilakukan berdasarkan diagnosis AMD menggunakan kode ICD-9/10, dengan mengecualikan individu yang memiliki data demografi tidak lengkap. Status AMD dikategorikan secara biner (ada/tidak ada) tanpa mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit karena banyaknya kasus yang tidak spesifik. Kelompok kontrol terdiri dari individu dengan kelainan refraksi tetapi tanpa penyakit mata signifikan lain.
Analisis dilakukan terhadap data klinis dan laboratorium, termasuk faktor demografi, riwayat merokok, dan profil lipid. Data ekstrem dikeluarkan dan missing values diimputasi menggunakan rata-rata populasi. Hiperlipidemia diklasifikasikan berdasarkan survei mandiri (self-reported), penggunaan obat-obatan (statin), diagnosis klinis, dan hasil laboratorium, meskipun pendekatan self-reported berisiko menyebabkan kesalahan klasifikasi.
Ulasan Hasil Penelitian
Penelitian ini melibatkan 2.328 pasien AMD dan 5.028 individu sebagai kelompok kontrol. Rerata usia antara kelompok serupa (75,6 ± 7,2 tahun untuk kontrol dan 75,5 ± 8,1 tahun untuk AMD), dengan mayoritas populasi berkulit putih (82,9% di kelompok kontrol dan 84,2% di kelompok AMD).
Kaitan Lipoprotein dengan Age-Related Macular Degeneration:
Hasil utama penelitian ini menunjukkan hubungan berbentuk U antara kadar HDL dan risiko AMD, di mana baik kadar HDL yang rendah maupun tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko AMD. Hubungan ini tetap signifikan setelah disesuaikan dengan faktor jenis kelamin, riwayat merokok, penggunaan statin, atau penyakit kardiovaskular. Sebaliknya, peningkatan kadar LDL dan trigliserida menunjukkan korelasi positif dengan AMD, tetapi tidak mencapai signifikansi statistik.
Analisis regresi logistik multivariabel menegaskan bahwa kadar HDL rendah dan tinggi, serta LDL tinggi, merupakan faktor risiko independen terhadap AMD. Sebaliknya, kadar LDL dan trigliserida rendah tidak memiliki hubungan signifikan dengan AMD. Selain itu, merokok dan penggunaan statin juga diidentifikasi sebagai faktor risiko independen.
Kaitan Genetik dengan Age-Related Macular Degeneration:
Dari sisi genetik, variasi pada gen CFH dan ARMS2 memiliki hubungan kuat dengan risiko AMD. Sementara itu, gen yang terkait dengan metabolisme HDL (ABCA1 dan LIPC) menunjukkan efek protektif terhadap AMD. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara gen yang berkaitan dengan metabolisme LDL dan AMD, tetapi lipoprotein(a) (LPA) memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan risiko AMD, yang menunjukkan potensi perannya dalam patogenesis penyakit ini.
Kelebihan Penelitian
Studi ini memiliki beberapa keunggulan, termasuk jumlah sampel yang besar dan beragam, pemeriksaan laboratorium profil lipid yang lengkap, serta analisis genetik yang komprehensif. Selain itu, berbagai metode statistik yang diterapkan memungkinkan kontrol faktor perancu secara optimal, sehingga meningkatkan validitas hasil.
Limitasi Penelitian
Meskipun memiliki kelebihan, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Desain retrospektif yang digunakan tidak memungkinkan penentuan hubungan kausalitas. Selain itu, binerisasi status AMD dapat menyebabkan hilangnya informasi terkait tingkat keparahan penyakit. Risiko bias juga dapat muncul akibat penggunaan data self-reported untuk beberapa variabel, seperti riwayat merokok dan penggunaan statin.
Aplikasi Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menyoroti hubungan berbentuk U antara kadar HDL dan risiko AMD, yang menunjukkan bahwa kadar HDL yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Namun, perlu diingat bahwa HDL secara umum dikenal memiliki efek protektif terhadap sistem kardiovaskular, sehingga temuan ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Karena penelitian ini bersifat observasional, tidak dapat disimpulkan apakah HDL merupakan penyebab langsung AMD atau hanya biomarker risiko.
Selain itu, hubungan antara penggunaan statin dan peningkatan risiko AMD menimbulkan pertanyaan mengenai dampak terapi lipid terhadap metabolisme retina. Faktor genetik juga tampak berperan penting, yang dapat menjadi indikator risiko individu terhadap AMD. Studi ini juga mengidentifikasi LPA sebagai faktor risiko potensial untuk AMD, yang memerlukan eksplorasi lebih lanjut.
Untuk implikasi klinis, meskipun hasil penelitian ini menarik, tidak cukup kuat untuk mengubah praktik klinis terkait tata laksana profil lipid. Pengelolaan risiko kardiovaskular tetap harus menjadi prioritas utama, dan diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain longitudinal serta stratifikasi yang lebih baik berdasarkan subtipe dan tingkat keparahan AMD.