Hyoscine-N-Butylbromide Tidak Efektif untuk Nyeri Abdomen – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Vania Azalia Gunawan, Sp.PD

Hyoscine-N-Butylbromide in Treating Abdominal Pain Caused by Gastroenteritis: A Double-Blind Randomized Placebo-Controlled Study

Yildirim Ç, Pamukçu Günaydin G. Turk J Med Sci. 2024. 54(5):887-892. doi: 10.55730/1300-0144.5864.

studilayak

Abstrak

Latar Belakang: Hyoscine-N-butylbromide (HBB) merupakan agen antikolinergik yang banyak digunakan untuk mengatasi nyeri akibat spasme pada sistem gastrointestinal dan urogenital. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas HBB dengan plasebo dalam mengatasi nyeri perut akibat gastroenteritis akut di instalasi gawat darurat (IGD).

Metode: Penelitian ini merupakan uji coba prospektif, acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo yang dilakukan di satu instalasi gawat darurat akademik pada periode September hingga November 2021. Pasien berusia 18–65 tahun dengan gejala gastroenteritis akut diikutsertakan.

Penelitian ini membandingkan efikasi HBB intravena (20 mg) dengan plasebo. Luaran primer adalah perubahan absolut skor nyeri 30 menit setelah pemberian terapi, sedangkan luaran sekunder meliputi penurunan nyeri pada menit ke-60, kejadian efek samping, dan kebutuhan analgesik tambahan.

Hasil: Sebanyak 50 pasien diacak (masing-masing 25 pasien dalam tiap kelompok). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada skor nyeri menit ke-30 maupun ke-60 antara kedua kelompok. Pada menit ke-60, penurunan nyeri dan kebutuhan analgesik tambahan serupa pada kedua kelompok. Perubahan skor nyeri sejak masuk hingga menit ke-30 dan ke-60 juga tidak berbeda bermakna antara kelompok.

Kesimpulan: Pemberian HBB intravena tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik maupun klinis dalam penurunan nyeri dibandingkan plasebo pada pasien gastroenteritis akut dengan nyeri perut kram di IGD.

Hyoscine-N-Butylbromide Tidak Efektif untuk Nyeri Abdomen

Ulasan Alomedika

Gastroenteritis akut merupakan salah satu kasus tersering yang menyebabkan pasien datang ke instalasi gawat darurat, ditandai dengan diare, mual, muntah, dan nyeri perut berupa kram. Nyeri abdomen adalah bentuk nyeri viseral yang cukup umum pada berbagai gangguan gastrointestinal, dan sering menjadi alasan utama pasien datang di fasilitas pelayanan kesehatan.

Hyoscine-N-butylbromide (HBB) merupakan obat antispasmodik, yang bekerja dengan memblokade reseptor muskarinik dan nikotinik pada otot polos saluran cerna sehingga menurunkan spasme. HBB sering digunakan pada kasus nyeri abdomen terkait gastroenteritis akut. Meski demikian, bukti ilmiah yang menilai efikasinya masih terbatas.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan uji klinis prospektif, tersamar ganda, acak, dan terkontrol plasebo yang dilaksanakan pada satu instalasi gawat darurat akademik selama September hingga November 2021. Studi ini mengikuti pedoman CONSORT, memperoleh persetujuan etik, terdaftar pada clinicaltrials.gov, dan dilaksanakan sesuai prinsip Deklarasi Helsinki.

Partisipan dan Intervensi Penelitian:

Intervensi yang diteliti adalah pemberian hyoscine-N-butylbromide (HBB) intravena dosis 20 mg dibandingkan cairan salin intravena sebagai plasebo pada pasien dengan kram abdomen akibat gastroenteritis akut. Subjek penelitian adalah pasien usia 18–65 tahun dengan keluhan diare cair kurang dari 2 minggu, disertai frekuensi buang air besar minimal 3 kali/24 jam serta nyeri perut.

Untuk menjaga homogenitas sampel dan menghindari faktor perancu, diberlakukan beberapa kriteria eksklusi berikut:

  • Pasien dengan penggunaan analgesik sebelumnya
  • Ketidakmampuan membaca skala visual analog (VAS)
  • Kondisi hemodinamik tidak stabil
  • Tanda peritonitis

  • Pasien yang alergi dengan obat HBB, ibu hamil, serta pasien yang memiliki diabetes atau kondisi neuropati yang mengubah persepsi nyeri
  • Terdapat kondisi yang merupakan kontraindikasi untuk pemberian HBB injeksi.

Pengacakan dan Pengukuran Luaran:

Randomisasi dilakukan menggunakan program komputer dengan rasio 1:1 dalam blok berisi sepuluh peserta, untuk memastikan distribusi seimbang. Pemberian obat dilakukan oleh dokter, namun persiapan larutan intervensi dilakukan oleh perawat yang tidak terlibat dalam penilaian klinis, sehingga menjaga blinding pada tenaga medis dan peserta.

Setelah pemberian obat, intensitas nyeri dinilai menggunakan Visual Analog Scale (VAS) pada menit ke-0, 30, dan 60. Apabila nyeri tidak membaik pada menit ke-30 atau 60, analgesik penyelamat berupa dexketoprofen IV 50 mg diberikan.

Luaran primer berupa perubahan absolut skor nyeri pada menit ke-30, dan luaran sekunder meliputi perubahan nyeri pada menit ke-60, kejadian efek samping, serta kebutuhan analgesik tambahan. Seluruh peserta yang sudah masuk dalam proses randomisasi tetap dianalisis hingga akhir menggunakan prinsip intention-to-treat.

Ulasan Hasil Penelitian

Penelitian melibatkan 76 pasien yang memenuhi kriteria gastroenteritis akut sesuai WHO, yang setelah dieksklusi menghasilkan 50 pasien. Peserta yang memenuhi syarat kemudian diacak menjadi dua kelompok, masing-masing 25 orang (kelompok treatment HBB dan placebo). Tiga pasien (1 di kelompok HBB dan 2 di kelompok plasebo) keluar setelah evaluasi 30 menit, tetapi tetap dianalisis dalam analisis intention-to-treat.

Tidak terdapat perbedaan bermakna antara skor nyeri awal pada kedua kelompok (VAS pada menit ke-0) maupun skor nyeri pada menit ke-30. Pada menit ke-60, median skor nyeri juga tidak berbeda secara statistik antara kelompok plasebo dan kelompok HBB. Perubahan skor nyeri dari awal hingga menit ke-30 maupun menit ke-60 antara kedua kelompok juga tidak menunjukkan perbedaan bermakna, meskipun rerata perubahan dari 0 ke 60 menit memang lebih besar pada kelompok HBB.

Tingkat kebutuhan analgesik tambahan dan kejadian efek samping juga serupa di kedua kelompok. Pada menit ke-30, keluhan dizziness sedikit lebih sering dilaporkan di kelompok HBB (8,0%) dibandingkan plasebo (4,0%), tetapi perbedaannya tidak signifikan secara statistik dan rescue analgesia diperlukan oleh jumlah pasien yang sama (16,0% di setiap kelompok; p = 1,000).

Tidak ada efek samping baru yang dilaporkan pada menit ke-60 di kedua kelompok, dan kebutuhan analgesik tambahan pada menit ke-60 juga tidak berbeda signifikan antara plasebo dan HBB (13,0% vs 8,3%; p = 0,666). Dengan demikian, pemberian HBB intravena 20 mg tidak menunjukkan keunggulan yang bermakna secara statistik ataupun klinis dibandingkan plasebo dalam mengurangi nyeri abdomen pada gastroenteritis akut.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini memiliki desain prospective, randomized, double-blind, placebo-controlled trial, yang merupakan baku emas dalam penelitian intervensi. Randomisasi berbasis komputer dengan block randomization dan persiapan obat oleh perawat independen dapat menurunkan risiko bias seleksi dan bias performa. Blinding terhadap pasien, dokter, perawat, dan analis statistik meminimalkan bias pengukuran dan analisis.

Kriteria inklusi dan eksklusi yang diterapkan dapat membuat populasi studi relatif homogen, yaitu pasien dewasa dengan diare akut dan nyeri perut tanpa kondisi lain yang dapat memengaruhi persepsi nyeri atau keamanan obat. Hal ini meningkatkan validitas internal, sehingga perbedaan (atau ketiadaan perbedaan) efek dapat lebih diyakini berasal dari intervensi HBB itu sendiri, bukan faktor perancu.

Dari sisi klinis, penelitian ini juga relevan karena dilakukan di unit gawat darurat dengan beban pasien tinggi, menggunakan rute IV dan obat yang memang sering dipakai dalam praktik. Penggunaan VAS sebagai luaran nyeri merupakan metode yang sudah banyak digunakan di praktik. Selain itu, analisis dilakukan secara intention-to-treat, sehingga tetap mencerminkan kondisi praktik nyata (real-world effectiveness), meskipun ada pasien yang keluar lebih awal.

Limitasi Penelitian

Studi ini hanya mengevaluasi nyeri hingga 60 menit setelah pemberian intervensi, sehingga tidak menilai perjalanan nyeri yang dapat berulang, kebutuhan analgesia ulang, atau kemungkinan efek tertunda dari hyoscine-N-butylbromide. Desain single-center di sebuah IGD akademik di Turki juga membatasi validitas eksternal, karena karakteristik pasien, etiologi gastroenteritis, serta pola praktik klinis dapat berbeda di wilayah lain.

Terdapat pula potensi bias tambahan yang mungkin memengaruhi hasil. Perbedaan usia antar kelompok yang bermakna secara statistik (28,6 vs 33,6 tahun; p = 0,008) dapat berdampak pada persepsi nyeri dan kebutuhan analgesia, meskipun skor nyeri awal setara. Periode rekrutmen yang relatif singkat juga membuka kemungkinan bias musiman, karena insiden dan karakteristik gastroenteritis akut dapat bervariasi sepanjang tahun.

Selain itu, dosis HBB yang digunakan (20 mg IV tunggal) mungkin tidak mencerminkan efektivitas maksimal, mengingat beberapa literatur menyarankan rentang 20–40 mg atau pemberian berulang. Penelitian ini juga memiliki ukuran sampel yang kecil (hanya 25 pasien per kelompok) yang memungkinkan terjadinya type II error (efek kecil yang nyata secara klinis tetapi tidak terdeteksi secara statistik karena kurangnya daya).

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Penelitian ini memiliki relevansi tinggi bagi praktik klinis di Indonesia karena gastroenteritis akut merupakan penyebab umum kunjungan medis. Studi ini menunjukkan bahwa pemberian HBB intravena tidak memberikan perbaikan nyeri perut yang lebih baik dibandingkan plasebo pada pasien dewasa dengan gastroenteritis akut di IGD, baik pada 30 maupun 60 menit, dengan selisih penurunan VAS yang kecil dan tidak bermakna secara klinis.

Dalam praktik klinis, hal ini menyiratkan bahwa HBB intravena tidak perlu digunakan secara rutin untuk nyeri atau kram abdomen pada gastroenteritis akut. Tata laksana bisa difokuskan pada rehidrasi, koreksi elektrolit, serta analgesik yang sudah terbukti efektif. Diperlukan penelitian lanjutan dengan ukuran sampel yang lebih besar, desain multisenter, serta durasi tindak lanjut yang lebih panjang untuk mengonfirmasi temuan bahwa HBB tidak efektif.

 

Referensi