Infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV) bukan sekadar infeksi saluran napas biasa pada pasien asma dan penyakit paru obstruksi kronik (PPOK). Pada pasien dengan komorbid penyakit pernapasan, RSV dapat menjadi pemicu eksaserbasi berat yang mempercepat penurunan fungsi paru, meningkatkan angka rawat inap, hingga berujung pada gagal napas dan kematian.[1-3]
Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan salah satu penyebab utama infeksi saluran pernapasan pada berbagai kelompok usia. Dalam beberapa tahun terakhir, RSV semakin diakui sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan, terutama pada lansia, pasien imunokompromais, serta penderita penyakit paru kronis seperti asma dan PPOK.[1,4]
Melalui video ini, dokter diharapkan dapat memahami besarnya dampak RSV, mengenali kelompok pasien berisiko tinggi, serta menentukan strategi pencegahan yang tepat untuk melindungi pasien dari komplikasi yang lebih berat.
Poin-Poin Penting
Beberapa poin penting dari video ini adalah:
- Infeksi RSV meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada lansia, serta memperburuk kondisi komorbid pernapasan, seperti penderita PPOK dan asma.[1-3]
- Infeksi RSV menyebabkan eksaserbasi akut pada pasien PPOK dan asma yang memerlukan penanganan rumah sakit dan memperpanjang waktu perawatan.[1]
- Infeksi RSV sebagai pemicu tripledemic, yaitu peredaran bersamaan ketiga penyakit RSV, COVID-19, dan influenza.[5]
- Terapi definitif infeksi RSV belum ada, sehingga pencegahan penularan sangat penting. Vaksinasi RSV menjadi strategi utama, terutama pada kelompok berisiko tertentu dan yang memiliki komorbiditas.[1]
- Vaksin RSV beradjuvan (RSVPreF3 Adjuvanted Vaccine) terbukti memiliki efikasi tinggi dalam pencegahan infeksi saluran pernapasan bawah akibat RSV (LRTD-RSV), yaitu 82,6% pada individu yang berusia >60 tahun dan 94,6% pada individu dengan komorbid.[1,6]
- Profil keamanan Vaksin RSV beradjuvan (RSVPreF3 Adjuvanted Vaccine) juga dilaporkan baik, di mana efek samping hanya ringan hingga sedang. [1,6]
- Kebijakan vaksinasi RSV akan sangat berkontribusi terhadap herd immunity, dalam kaitan penanganan pandemi maupun [5]