Cara bleeding control sebagai langkah resusitasi pada pasien abortus/KET dengan syok hemoragik - Diskusi Dokter

general_alomedika

Alo dokter. Izin bertanya utk pasien syok hemoragik akibat abortus/KET di IGD. Pasien tsb tentunya dipasang 2 IV line dan loading cairan kristaloid. Tapi...

Diskusi Dokter

  • Kembali ke komunitas
  • Cara bleeding control sebagai langkah resusitasi pada pasien abortus/KET dengan syok hemoragik

    Dibalas 1 jam yang lalu
    Anonymous
    Anonymous
    Dokter Umum

    Alo dokter. Izin bertanya utk pasien syok hemoragik akibat abortus/KET di IGD. Pasien tsb tentunya dipasang 2 IV line dan loading cairan kristaloid.

    Tapi apakah boleh menggunakan asam traneksamat untuk menghentikan perdarahan pada kasus abortus/KET  yang tidak stabil selama di IGD?

    Ataukah ada cara lain untuk stop perdarahan tersebut dokter?

    Mohon ilmunya dokter terima kasih

1 jam yang lalu

ALO Dokter.

Prinsip Tata Laksana Kehamilan Ektopik Ruptur Unstable

Kehamilan ektopik adalah kondisi yang mengancam jiwa. Ruptur tuba falopi menyebabkan perdarahan intra-abdomen (kehilangan darah bisa mencapai 4 liter akibat perdarahan tersembunyi). 

Gunakan pendekatan resusitasi C-A-B

Prioritaskan pengendalian perdarahan masif sebelum menangani jalan napas (airway) dan pernapasan (breathing). Untuk sirkulasi, pasang dua akses IV ukuran besar (16G atau 18G) atau akses intraoseus jika akses perifer gagal. Mulailah dengan bolus kristaloid untuk mencapai target tekanan darah sistolik 80–90 mmHg (MAP sekitar 50–60 mmHg) hingga perdarahan aktif terkendali. Tekanan darah yang terlalu tinggi berisiko melepaskan bekuan darah yang telah terbentuk. 

Segera beralih ke transfusi darah jika kondisi pasien tetap tidak stabil setelah pemberian 1–2 liter kristaloid. 

Lakukan penggantian faktor pembekuan darah secara dini menggunakan rasio 1:1:1 antara packed red blood cells (PRC), fresh frozen plasma (FFP), dan trombosit, atau gunakan whole blood

Asam traneksamat dapat diberikan namun bukan merupakan terapi definitif. Resusitasi bukanlah terapi definitif, melainkan upaya menjaga perfusi organ vital hingga tindakan hemostasis definitif dapat dilakukan.

Pada kasus kehamilan ektopik ruptur, tindakan definitif tersebut adalah pembedahan. Ingatlah syarat koagulasi yang optimal bagi pasien: 

  • suhu tubuh hangat (gunakan penghangat cairan jika tersedia)
  • tidak mengalami asidosis (perbaiki perfusi dan hindari penggunaan kristaloid berlebihan)
  • memiliki faktor pembekuan darah yang cukup (hindari pengenceran akibat pemberian kristaloid berlebih; ​​ganti dengan FFP). 


Pembedahan adalah terapi definitif yang dibutuhkan pasien ini, sehingga tim bedah harus dilibatkan sejak awal resusitasi, tanpa menunggu untuk melihat apakah kondisi pasien menjadi lebih stabil atau justru memburuk.