Pedoman Penanganan Sepsis pada Dewasa – Ulasan Guideline Terkini

Oleh :
dr. Gilang Pradipta Permana

Pedoman penanganan sepsis pada dewasa dipublikasikan oleh Surviving Sepsis Campaign (SSC) pada tahun 2026. Panduan internasional ini merupakan pembaruan dari versi sebelumnya yang dipublikasikan tahun 2021 dan berisikan rekomendasi-rekomendasi yang didasarkan pada bukti ilmiah yang lebih baru.

Beberapa hal yang diperbarui adalah saran target mean arterial pressure/MAP yang lebih rendah untuk lansia, serta penggunaan antibiotik empiris tanpa cakupan bakteri anaerob yang lebih dianjurkan (kecuali ada kecurigaan kuat keterlibatan bakteri anaerob). Selain itu, stabilisasi hemodinamik awal dianjurkan menggunakan kristaloid, tetapi infus vasopressor bisa diberikan segera untuk hipotensi yang menetap.[1]

Pedoman Penanganan Sepsis pada Dewasa

Tabel 1. Tentang Pedoman Klinis Ini

Penyakit Sepsis
Tipe Diagnosis dan penatalaksanaan
Yang Merumuskan

Society of Critical Care Medicine (SCCM) dan European Society of Intensive Care Medicine (ESICM)

Tahun 2026
Negara Asal Internasional
Dokter Sasaran Dokter Jaga IGD, Dokter ICU, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Anestesi

Penentuan Tingkat Bukti

Panel penyusun panduan ini terdiri dari berbagai ahli klinis yang relevan terhadap penanganan sepsis dan panel penasihat pasien dan keluarga. Proses penentuan tingkat bukti dilakukan dengan metode Grading of Recommendations, Assessment, Development, and Evaluations (GRADE). Melalui pendekatan tersebut, kepastian bukti diklasifikasikan ke dalam empat tingkatan, yaitu tinggi (high), moderat (moderate), rendah (low), atau sangat rendah (very low).

Selain itu, panel penyusun menggunakan kerangka kerja Evidence to Decision (EtD) untuk mendukung formulasi pernyataan yang konsisten, transparan, dan terstruktur dengan mempertimbangkan berbagai domain seperti keseimbangan antara efek yang diinginkan dan tidak diinginkan, kepastian bukti, nilai serta preferensi pasien, intensitas penggunaan sumber daya, ekuitas, dan efektivitas biaya.

Berdasarkan hasil sintesis bukti tersebut, rekomendasi dikelompokkan menjadi rekomendasi kuat yang menggunakan frasa "kami merekomendasikan" atau rekomendasi kondisional yang menggunakan frasa "kami menyarankan". Untuk finalisasi setiap rekomendasi dan pernyataan yang terkait, panel mewajibkan tingkat respons minimal 75% dengan tingkat persetujuan minimal 80% dari anggota melalui proses pemungutan suara.[1]

Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda

Pedoman tahun 2026 ini memasukkan beberapa rekomendasi baru, serta mengubah kekuatan rekomendasi pada beberapa poin yang dahulu dimasukkan dalam pedoman tahun 2021.[1]

Implementasi Strategi Peningkatan Kualitas (Quality Improvement /QI) Penanganan Sepsis di Rumah Sakit

Pedoman SSC kini merekomendasikan rumah sakit untuk secara sistematis menggunakan strategi peningkatan kualitas guna memperbaiki proses perawatan sepsis, seperti ketepatan waktu pemberian antibiotik, atau sistem peringatan dini sepsis pada rekam medis elektronik.[1]

Skor qSOFA Tidak Digunakan Sebagai Alat Skrining Tunggal

Pedoman ini menyarankan penggunaan alat skrining seperti NEWS / NEWS2 (National Early Warning Score 2), MEWS (Modified Early Warning Score), atau kriteria SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome) dibandingkan penggunaan tunggal skor qSOFA (Quick Sequential Organ Failure Assessment) sebagai alat skrining sepsis.[1]

Resusitasi Cairan

Pada pasien dengan tanda hipoperfusi akibat sepsis, resusitasi awal dianjurkan dengan bolus cairan kristaloid intravena, yang mana pedoman ini  menyarankan pemberian minimal 30 mL/kg cairan kristaloid intravena dalam 3 jam pertama. Pemberian vasopresor dapat dilakukan bila hipotensi menetap. Apabila akan memberikan vasopresor pada pasien dengan syok septik, akses perifer dapat digunakan dibandingkan menunda hingga akses vena sentral tersedia.[1]

Target MAP Lebih Rendah untuk Lansia

Khusus untuk pasien dewasa berusia 65 tahun ke atas, target tekanan arteri rerata (mean arterial pressure/MAP) awal yang disarankan adalah 60–65 mmHg, lebih rendah dari target standar populasi dewasa lain.[1]

Pemberian Antibiotik Pra-Rumah Sakit

Pada pasien syok septik dengan perkiraan waktu tempuh ke rumah sakit lebih dari 60 menit, antibiotik disarankan diberikan langsung di alat transportasi medis seperti saat di ambulans.[1]

Pemilihan Cakupan Antibiotik Empiris

Untuk antibiotik empiris, pedoman ini menyarankan antibiotik empiris tanpa cakupan anaerob, kecuali bila terdapat faktor risiko infeksi anaerob. Antibiotik yang memiliki cakupan anaerob, seperti piperacillintazobactam, dapat dipertimbangkan bila memang diperlukan, misalnya pada kecurigaan infeksi dengan patogen resisten.

Faktor risiko infeksi terkait bakteri anaerob yang disebutkan dalam pedoman ini meliputi:

  • Sumber intraabdomen atau ginekologi/obstetri
  • Infeksi jaringan lunak nekrotik
  • Infeksi kepala–leher (THT)
  • Abses atau empiema sistem saraf pusat.

Perlu diingat pula bahwa de-eskalasi penggunaan antibiotik merupakan hal yang cukup ditekankan dalam pedoman ini. Hal ini berarti bahwa penggunaan antibiotik sebisa mungkin harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan kultur dan mikrobiologi jika tersedia. Jika tidak ada patogen yang diidentifikasi pada kultur, maka de-eskalasi antibiotik harus segera dilakukan.[1]

Prolonged Infusion untuk Antibiotik Beta-Laktam

Penggunaan prolonged infusion untuk dosis pemeliharaan antibiotik beta-laktam kini menjadi rekomendasi kuat karena terbukti menurunkan angka kematian.[1]

Selective Decontamination of The Digestive Tract (SDD)

Dekontaminasi saluran cerna secara selektif disarankan pada pasien dengan ventilasi mekanis di unit dengan tingkat resistensi antimikroba yang rendah untuk menurunkan mortalitas dan infeksi aliran darah.[1]

Penggunaan High-Flow Nasal Cannula (HFNC)

HFNC kini disarankan sebagai terapi awal dibandingkan oksigen konvensional atau ventilasi tekanan positif non-invasif pada pasien sepsis dengan gagal napas hipoksemik akut tertentu.[1]

Uji Coba Awake Proning

Untuk pasien sepsis dengan gagal napas hipoksemik akut yang tidak menjalani intubasi, disarankan melakukan uji coba awake proning atau posisi tengkurap guna memperbaiki oksigenasi dan mengurangi kebutuhan intubasi.[1]

Pengeluaran Cairan secara Aktif (Active Fluid Removal).

Setelah fase resusitasi akut selesai, dokter disarankan menggunakan strategi pengeluaran cairan aktif, seperti diuretik, untuk mencegah komplikasi akibat kelebihan beban cairan.[1]

Perbandingan dengan Pedoman Klinis Lain

Pada lingkup nasional, Kementerian Kesehatan telah membuat pedoman nasional pelayanan kedokteran (PNPK) sepsis di tahun 2017. PNPK ini disusun dengan mengacu pada pedoman SSC tahun 2012, sehingga sudah banyak perubahan dalam rekomendasi dibandingkan dengan pedoman SSC tahun 2026.

Dalam hal skrining atau identifikasi awal sepsis, PNPK masih mencantumkan qSOFA sebagai alat skrining pilihan, sedangkan SSC 2026 sudah dengan tegas merekomendasikan untuk tidak menggunakan qSOFA sebagai alat tunggal karena sensitivitasnya yang rendah. SSC 2026 juga memperluas cakupan layanan hingga fase pra-rumah sakit dengan menyarankan skrining standar di ambulans, sesuatu yang belum dibahas secara rinci dalam PNPK 2017.

Perubahan lain ada pada target MAP, di mana SSC 2026 memperkenalkan target lebih rendah (60–65 mmHg) khusus bagi populasi lansia di atas 65 tahun, sedangkan PNPK masih menggunakan target umum 65 mmHg untuk semua dewasa.

Dalam strategi resusitasi cairan, PNPK sangat menekankan protokol Early Goal-Directed Therapy (EGDT) dengan parameter statis, sedangkan pedoman SSC 2026 lebih menyarankan penggunaan ukuran dinamis untuk menilai responsivitas pasien terhadap cairan. Terkait waktu pemberian antibiotik, SSC 2026 menetapkan target ketat segera atau maksimal 1 jam untuk pasien syok, sedangkan PNPK masih menggunakan jendela waktu 3 dan 6 jam.[1,2]

Kesimpulan

Surviving Sepsis Campaign (SSC) melakukan pembaruan terhadap pedoman penanganan sepsis pada dewasa di tahun 2026. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari pembaruan pedoman ini adalah:

  • Skor qSOFA tidak dianjurkan sebagai alat skrining tunggal untuk sepsis. Skrining dianjurkan untuk menggunakan instrumen yang lebih sensitif seperti NEWS, NEWS2, atau SIRS.
  • Pada pasien sepsis atau syok sepsis yang memiliki tanda hipoperfusi dan hipotensi, resusitasi cairan dianjurkan menggunakan kristaloid. Vasopressor bisa dipakai jika hipotensi menetap.
  • Target mean arterial pressure (MAP) pada populasi dewasa masih 65 mmHg, tetapi target MAP pada lansia ditetapkan lebih rendah (60–65 mmHg).
  • Setelah fase resusitasi akut selesai, penggunaan diuretik disarankan untuk mencegah edema.
  • Pada pasien dengan waktu tempuh menuju rumah sakit melebihi 60 menit, pedoman SSC menyarankan agar antibiotik diberikan lebih cepat, yakni dapat diberikan saat dalam transportasi medis.
  • Dalam hal pemilihan antibiotik empiris, antibiotik tanpa cakupan patogen anaerob lebih dipilih. Antibiotik dengan cakupan patogen anaerob, seperti piperacillin-tazobactam, digunakan hanya jika pasien memiliki faktor risiko atau kecurigaan klinis adanya infeksi patogen anaerob atau patogen resisten.
  • Dukungan pernapasan juga diperbarui dengan menyarankan penggunaan high-flow nasal cannula (HFNC) dan uji coba awake proning pada kasus kegagalan napas tertentu.

Referensi