Kemungkinan positif palsu pada pemeriksaan HIV generasi keempat masih menjadi kekhawatiran bagi tenaga medis maupun pasien. Hingga saat ini HIV masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan utama di dunia, sehingga pemeriksaan HIV perlu mendapatkan perhatian khusus.[1-4]
Indonesia berkomitmen bersama negara lain untuk melakukan pendekatan fast track 90-90-90 dengan cara mendeteksi 90% orang yang diperkirakan terinfeksi, memberikan terapi antiretroviral (ARV) dini pada 90% orang yang terinfeksi, serta mampu mencapai keadaan virus tak terdeteksi pada 90% orang yang diterapi ARV.[1-4]
Pendekatan fast track tersebut diharapkan dapat menurunkan angka infeksi baru HIV secara optimal. Oleh karena itu, pemeriksaan HIV sangat penting dilakukan, terutama pada individu berisiko tinggi dan ibu hamil. Skrining HIV dianjurkan setidaknya satu kali pada semua individu berusia 15-65 tahun terlepas dari faktor risikonya.[1-4]
Bermacam Pemeriksaan HIV
Pada tahun 1985, diperkenalkan pemeriksaan HIV generasi pertama yang mampu mendeteksi IgG dan memberikan hasil positif 6–12 minggu pascainfeksi. Generasi kedua pada tahun 1987 lalu menambahkan antigen rekombinan, sementara generasi ketiga pada tahun 1991 mampu mendeteksi IgM, sehingga mengurangi waktu deteksi menjadi 3–6 minggu pascainfeksi.[5-7]
Setelah itu, sejak 1997, pemeriksaan generasi keempat dan kelima mampu mendeteksi antigen-p24 serta antibodi IgG dan IgM HIV-1 dan HIV-2, yang mempersingkat jendela diagnostik menjadi 2 minggu pascainfeksi.[5-7]
Pada tahun 2017, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Association of Public Health Laboratories (APHL) menganjurkan pemeriksaan generasi keempat HIV-1/2 Ag/Ab sebagai pemeriksaan inisial untuk mendeteksi HIV. Rekomendasi saat ini dari FDA juga menyetujui pemeriksaan HIV generasi keempat untuk skrining HIV.[4,6]
Menurut FDA dan CDC, hasil skrining HIV-1/2 Ag/Ab reaktif harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan antibody differentiation HIV-1/2. Bila ada perbedaan hasil antara kedua pemeriksaan tersebut, hasil dilaporkan sebagai indeterminate dan divalidasi dengan pemeriksaan HIV nucleic acid testing (NAT).[6]
Hasil NAT dianggap definitif bila pasien tidak dalam pengobatan supresi antiviral. Jika HIV tidak terdeteksi pada pemeriksaan NAT, pemeriksaan skrining HIV-1/2 Ag/Ab reaktif dengan antibodi HIV-1/2 nonreaktif diklasifikasikan sebagai positif palsu. Sebaliknya, jika pemeriksaan skrining HIV-1/2 Ag/Ab reaktif diikuti dengan antibodi HIV-1/2 reaktif, pasien didiagnosis HIV terlepas dari hasil NAT reaktif atau tidak.[6]
Akurasi Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
Pemeriksaan HIV generasi keempat HIV-1/2 Ag/Ab menunjukkan nilai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, melebihi 99%. Tingkat sensitivitas yang tinggi ini mengakibatkan timbulnya beberapa laporan hasil positif palsu HIV. Pemeriksaan immunoassays yang tergantung pada kemampuan deteksi antibodi atau antigen akan rentan terhadap berbagai faktor pengganggu, yang dapat berujung pada hasil positif maupun negatif palsu. Hasil HIV positif palsu tentunya berdampak besar bagi pasien, dokter, maupun laboratorium.[7,8]
Secara global, pemeriksaan HIV generasi keempat menunjukkan tingkat positif palsu 0,09% pada populasi yang berisiko rendah. Faktor yang meningkatkan risiko terjadinya hasil positif palsu adalah kehamilan, usia >60 tahun, keganasan, penyakit autoimun, kondisi inflamasi, reaksi silang dengan protein lain, dan berbagai infeksi (COVID-19, malaria, tuberkulosis, toxoplasmosis, schistosomiasis, dan rickettsiosis).[8,9]
Faktor yang Memengaruhi Positif Palsu pada Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
Terdapat faktor eksogen maupun endogen yang dapat menyebabkan hasil positif palsu pada pemeriksaan generasi keempat. Faktor eksogen meliputi kesalahan pra-analitik sampel, metodologi pemeriksaan, interpretasi hasil, dan pelaporan hasil. Sementara itu, faktor endogen berasal dari dalam sampel itu sendiri, seperti adanya faktor rheumatoid, autoantibodi, hiperglobulinemia, antibodi heterofil, antibodi human anti-animal, lisozim, reaksi silang antigen, paraprotein, dan biotin.[7,10]
Kesalahan pra-analitik sampel meliputi kontaminasi sampel dengan protein bakteri lain (misalnya E. coli) atau dengan antibodi anti-HIV yang dapat menyebabkan hasil positif palsu pada sampel yang diperiksa alat otomatis di area prevalensi tinggi HIV.[7,8]
Kesalahan analitik dapat terjadi karena rendahnya spesifisitas pemeriksaan. Hal ini bisa terjadi bila pilihan pemeriksaan yang dikerjakan di area tersebut tidak sesuai prevalensi HIV area saat awal pemeriksaan tersebut divalidasi. Namun, kasus positif palsu HIV relatif jarang ditemukan dan dapat diidentifikasi dengan algoritma indeterminate yang digunakan di area lokal tersebut.[7,8]
Reaksi silang dengan antigen lain cukup sering dijumpai, terutama untuk protein HIV envelope gp41 dan gp121. Kondisi ini dilaporkan bisa terjadi pada infeksi tuberkulosis, leprosy, Treponema pallidum, hepatitis C, COVID-19, dan dengue. Faktor inang juga berperan dalam reaksi silang ini, antara lain aktivasi sel-B, hipergamaglobulinemia yang menghasilkan antibodi spektrum luas, atau konsentrasi tinggi antibodi yang menyerupai faktor rheumatoid pada kasus infestasi parasit.[7]
Perlu ditekankan bahwa semua pemeriksaan HIV membutuhkan konfirmasi lanjutan dengan metode serologi dan sampel yang berbeda untuk menekan hasil positif palsu serta meningkatkan nilai prediktif positif.[7]
Pengaruh COVID-19 dan Infeksi Virus Lain
Ada banyak temuan positif palsu HIV pada kasus COVID-19, di mana penderita berisiko 2,93 kali untuk mendapatkan hasil positif palsu HIV. Mekanisme pastinya masih belum diketahui tetapi diduga berkaitan dengan inflamasi generalisata pada COVID-19.[4,7,8]
Penelitian Zhang et al. mengonfirmasi ada empat protein spike pada virus penyebab COVID-19 (SARS-COV-2) yang mirip dengan protein HIV-1, sehingga berpotensi menyebabkan reaksi silang antara kedua antigen virus tersebut. Namun, keterkaitan ini bersifat singkat, coincidental, dan tidak spesifik, sehingga tidak selalu menyebabkan hasil positif palsu HIV.[4,7,8]
Menurut studi, dibutuhkan kemiripan antigen SARS-CoV-2 dalam jumlah yang cukup agar dapat menghasilkan sinyal positif yang terdeteksi oleh alat. Hal ini menjelaskan mengapa angka kejadian positif palsu pada SARS-COV-2 tidak dapat terprediksi. Struktur protein spike SARS-CoV-2 yang menyerupai HIV-1 juga ditemukan pada virus lain seperti virus dengue, Zika, dan MERS-CoV.[4,7,8]
Pengaruh Vaksinasi
Kasus seropositif HIV akibat vaksinasi telah dilaporkan sebanyak 41,7%, terutama pada vaksin influenza, rubella, COVID-19, dan hepatitis B. Seseorang yang baru mendapat vaksinasi dalam waktu 4 minggu, berkemungkinan mendapat hasil positif palsu HIV dengan pemeriksaan generasi keempat yang sangat sensitif. Namun, jangka waktu seropositif dengan inisial vaksin belum dapat ditentukan.[7]
Pengaruh Infeksi Bakteri dan Parasit
Beberapa infeksi bakteri dan parasit yang berhubungan dengan terjadinya hasil positif palsu HIV generasi keempat adalah tuberkulosis, Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, Schistosoma, Babesia, Trypanosoma cruzi, Trypanosoma brucei, dan Leishmania.[7]
Hasil positif palsu HIV pada infeksi-infeksi tersebut mungkin disebabkan oleh aktivasi sel-B poliklonal dan/atau kadar tinggi antibodi yang menyerupai faktor rheumatoid. Hal ini akan menyebabkan reaktivitas non-spesifik dengan kadar yang tinggi terhadap komponen peptida sintetik pemeriksaan HIV.[7]
Reaksi silang antara protein envelope gp120 HIV dengan tuberkulosis telah dilaporkan. Spirocheta seperti Treponema pallidum juga dapat bereaksi silang dengan HIV. Hasil positif palsu HIV pada malaria akut kemungkinan disebabkan oleh aktivasi imunologis oleh parasit malaria dan hipergammaglobulinemia, terutama pada anak-anak dengan imunitas anti-malaria yang rendah. Reaksi silang pada infeksi Trypanosoma cruzi terjadi karena protein parasit yang menyerupai enzim reverse transcriptase HIV.[7]
Pengaruh Kanker
Penelitian oleh Chiu et al. mendapatkan hasil positif palsu HIV generasi keempat pada pasien kanker sebanyak 29%. Temuan kasus terutama terjadi pada individu berusia >60 tahun, wanita, dan menerima terapi alkaloids. Pada penelitian ini, stadium kanker tidak menjadi prediktor signifikan terhadap hasil positif palsu HIV.[8]
Namun, analisis univariat mendapatkan kelompok positif palsu HIV terjadi pada pasien dengan acute lymphocytic leukemia, chronic lymphocytic leukemia/small lymphocytic lymphoma, atau myelodysplastic syndrome/myeloproliferative neoplasm. Positif palsu HIV kemungkinan disebabkan oleh produksi antibodi yang berlebihan pada keganasan, adanya reaksi silang agen kemoterapi, atau paparan terhadap terapi alkaloids (seperti paclitaxel, docetaxel, vinblastine, dan vincristine).[8]
Kesimpulan
Terlepas dari kemajuan pemeriksaan immunoassays HIV yang terus berkembang, hasil positif palsu masih dapat terjadi. Maka dari itu, diperlukan pedoman algoritma diagnosis HIV yang terus diperbaharui secara berkala. Kehati-hatian dalam menginterpretasi hasil positif pada pemeriksaan HIV generasi keempat sangat dibutuhkan.
Klinisi wajib waspada terhadap pola serologis dan kemungkinan terjadinya reaksi silang pada pemeriksaan HIV. Pemeriksaan NAT dengan PCR RNA HIV kuantitatif ataupun PCR DNA HIV kualitatif dibutuhkan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat.[7]
Penulisan pertama oleh: dr. Immanuel Natanael Tarigan
