Penggunaan Kortikosteroid pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut

Oleh :
dr. Michael Susanto

Penggunaan kortikosteroid tidak direkomendasikan secara rutin untuk semua kasus infeksi saluran pernapasan akut, karena manfaatnya tidak melebihi risiko efek sampingnya. Kortikosteroid merupakan obat antiinflamasi kuat yang sering digunakan dalam penatalaksanaan bermacam penyakit.[1,2]

Efek antiinflamasi dan imunosupresan kortikosteroid berasal dari kerjanya dalam menurunkan jumlah dan kerja sel inflamatori serta permeabilitas vaskuler. Kortikosteroid juga menghambat pembentukan prostaglandin dan leukotriene dengan menginhibisi pengeluaran asam arakidonat dari fosfolipid.[2]

Penggunaan Kortikosteroid pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut

Penggunaan Steroid pada Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)

Penatalaksanaan utama ISPA akut umumnya hanya simtomatik untuk mengurangi keluhan atau gejala. Kortikosteroid tidak dibutuhkan pada kasus ringan, tetapi dapat diberikan pada kasus yang lebih berat.

Epiglotitis dan Laringotrakeitis

Epiglotitis dan laringotrakeitis, terutama pada pasien usia muda, berisiko menyebabkan obstruksi saluran napas akibat edema mukosa. Pada kasus sedang hingga berat, pasien perlu dirawat inap dan dipantau ketat untuk menjaga patensi jalan napas.

Kortikosteroid sistemik, seperti dexamethasone, direkomendasikan sebagai terapi adjuvan karena terbukti menurunkan inflamasi saluran napas atas, memperbaiki gejala lebih cepat, serta mengurangi kebutuhan intervensi lanjutan, termasuk intubasi, khususnya pada laringotrakeitis (croup).[3,4]

Sinusitis

Berdasarkan pedoman penanganan sinusitis tahun 2025, kortikosteroid intranasal dapat dipertimbangkan untuk meredakan gejala sinusitis akut seperti nyeri wajah dan hidung tersumbat karena peradangan lokal, meskipun manfaatnya relatif kecil dan lebih jelas terlihat saat digunakan bersama irigasi salin dan dekongestan.[5]

Sebaliknya, kortikosteroid oral tidak direkomendasikan sebagai monoterapi pada sinusitis akut. Bukti mengenai penggunaannya bersama antibiotik masih terbatas, dengan manfaat jangka pendek yang moderat, sehingga pemberiannya perlu memperhatikan risiko efek samping sistemik.[6]

Faringitis Akut

Pedoman BMJ Rapid Recommendation menyatakan bahwa kortikosteroid dapat sedikit mengurangi nyeri pada faringitis akut, namun tidak memberikan perbaikan bermakna terhadap luaran klinis lain seperti durasi sakit, kekambuhan, atau komplikasi. Oleh karena itu, penggunaannya diklasifikasikan sebagai rekomendasi lemah (weak recommendation) dan tidak dianjurkan secara rutin.[7]

Bahkan, meta analisis tahun 2024 juga menemukan bahwa meskipun steroid dapat mempercepat pereda nyeri dalam 24 jam, tetapi efeknya pada 48 jam tidak signifikan. Selain itu, ada heterogenitas besar antar studi yang membuat bukti keseluruhan belum cukup kuat.[8]

Penggunaan Steroid pada Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB)

Pemberian kortikosteroid pada eksaserbasi akut penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan asma yang dipicu infeksi dapat menguntungkan pasien dan telah rutin digunakan.[9]

Uji klinis oleh Hay et al tahun 2018 menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan bawah tanpa asma dan tanpa antibiotik tidak disarankan, karena tidak menurunkan durasi maupun keparahan gejala. Hasil uji ini sejalan dengan pedoman penatalaksanaan saat ini.[10]

Analisis data dari uji klinis oral steroids for acute cough (OSAC) di tahun 2020 menunjukkan bahwa prednisolon tidak memperbaiki durasi atau tingkat keparahan batuk pada pasien dengan ISPB akut tanpa diagnosis asma yang jelas atau PPOK, kortikosteroid oral tidak efektif untuk mengurangi durasi batuk atau keparahan gejala dibandingkan plasebo. Oleh karenanya, sehingga penggunaannya dalam konteks ini tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin.[11]

Focused update guideline yang dipublikasikan tahun 2024 merekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada pasien kritis, termasuk syok sepsis, acute respiratory distress syndrome (ARDS), dan pneumonia komuniti. Kortikosteroid direkomendasikan secara bersyarat untuk syok sepsis dan ARDS, serta direkomendasikan kuat untuk pneumonia komuniti dengan gejala berat pada pasien rawat inap.[1]

Risiko Penggunaan Steroid

Di Indonesia, penggunaan kortikosteroid pada infeksi saluran pernapasan harus mempertimbangkan adanya risiko reaktivasi tuberkulosis paru, terutama pada individu dengan infeksi tuberkulosis laten.

Kortikosteroid bekerja sebagai imunosupresan yang menekan respons imun seluler (termasuk fungsi makrofag dan produksi interferon‑γ), sehingga mengganggu mekanisme kontrol bakteri tuberkulosis yang tersembunyi dalam granuloma dan meningkatkan kemungkinan reaktivasi menjadi tuberkulosis aktif.[12]

Selain reaktivasi tuberkulosis, penggunaan steroid jangka panjang dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti infeksi, tromboemboli vena, fraktur, diabetes mellitus, hipertensi, dan sindrom Cushing.[13]

Sementara itu, studi kohort oleh Waljee et al menunjukkan bahwa penggunaan steroid jangka pendek atau <30 hari tetap dapat menyebabkan terjadinya efek samping, berupa peningkatan risiko sepsis dan tromboemboli vena. Berdasarkan studi ini, pemberian kortikosteroid jangka pendek tetap tidak disarankan apabila tidak betul-betul dibutuhkan.[13]

Kesimpulan

Kortikosteroid memiliki efek anti inflamasi yang dapat digunakan pada beberapa infeksi saluran pernapasan akut, tetapi harus dibatasi untuk kasus dengan indikasi jelas, seperti pneumonia komunitas berat, syok sepsis, ARDS, epiglotitis, atau laringotrakeitis sedang hingga berat. Pada kondisi ini, steroid dapat membantu mengurangi inflamasi, memperbaiki gejala lebih cepat, dan menurunkan kebutuhan intervensi lanjutan.

Untuk infeksi saluran pernapasan atas ringan, termasuk faringitis akut, sinusitis, batuk, atau pilek tanpa komplikasi, bukti ilmiah menunjukkan bahwa manfaat kortikosteroid tidak signifikan secara klinis dibandingkan risiko efek samping, sehingga penggunaannya tidak dianjurkan secara rutin.

Pada infeksi saluran pernapasan bawah, kortikosteroid hanya direkomendasikan pada pasien dengan eksaserbasi akut PPOK atau asma yang jelas. Risiko penggunaan steroid, termasuk reaktivasi tuberkulosis paru, infeksi, tromboemboli, dan gangguan metabolik, harus menjadi pertimbangan sebelum terapi, bahkan untuk penggunaan jangka pendek.

 

 

Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini

Referensi