Pemberian Probiotik pada Bacterial Vaginosis

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Saat ini pemberian probiotik mulai dipertimbangkan untuk terapi bacterial vaginosis atau BV. Probiotik juga diperkirakan dapat mengurangi risiko rekurensi bacterial vaginosis bila dipadukan dengan terapi antibiotik, yang selama ini masih menunjukkan angka rekurensi bacterial vaginosis yang cukup tinggi.

Bacterial vaginosis (BV) merupakan penyakit infeksi vagina yang menyerang wanita usia reproduktif (termasuk ibu hamil). BV terjadi akibat ketidakseimbangan mikroba dalam vagina, yaitu ketika flora normal Lactobacillus digantikan oleh bakteri anaerobik seperti Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis, Prevotella, dan Streptococcus.[1-3]

Pemberian Probiotik pada Bacterial Vaginosis, vaginal douching

Pasien dikatakan mengalami bacterial vaginosis jika memenuhi kriteria Amsel, yaitu pH vagina >4,5, mengalami keputihan berwarna putih-keabuan, keputihan berbau amis (fishy odor) jika ditambahkan larutan KOH 10%, dan adanya clue cells pada sediaan NaCl 0,9%.[4]

Sampai saat ini, tata laksana bacterial vaginosis adalah antibiotik berupa metronidazole atau clindamycin. Antibiotik ini bisa diberikan secara oral ataupun intravaginal. Namun, kedua obat ini kadang tidak mampu mencegah rekurensi. Oleh sebab itu, alternatif terapi untuk membantu penanganan dan pencegahan rekurensi BV diperlukan.[1-5]

Manfaat Probiotik

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Ketika masuk ke dalam tubuh, probiotik dapat menjaga kondisi psikokimiawi saluran cerna.

Beberapa spesies yang digunakan sebagai produk probiotik adalah bakteri penghasil asam laktat seperti Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus, serta bakteri penghasil non-asam laktat seperti Bacillus dan Propionibacterium. Jamur non-patogen seperti Saccharomyces juga dapat digunakan dalam probiotik.

Manfaat probiotik bagi kesehatan yang sudah banyak diteliti adalah untuk penanganan diare, penanganan intoleransi laktosa, pengurangan infeksi saluran pernapasan dan saluran kemih, serta antikarsinogenik. Selain itu, bakteri penghasil asam laktat adalah mikroorganisme penjaga kondisi vagina, sehingga diduga bermanfaat dalam menjaga kesehatan saluran reproduksi.[6]

Rasionalisasi Pemberian Probiotik pada Kasus Bacterial Vaginosis

Berbagai studi membuktikan bahwa rendahnya jumlah Lactobacillus vaginal berkaitan dengan kejadian BV. Penelitian Alvarez-Olmos, et al. menemukan ada korelasi negatif antara keberadaan Lactobacillus vagina dan angka kejadian BV pada wanita berusia 14–18 tahun. Korelasi negatif berarti bahwa salah satu variabel akan meningkat ketika variabel yang lain berkurang.

Probiotik bekerja dengan cara menghambat pembentukan dan penempelan bakteri penyebab BV. Probiotik dapat memproduksi hidrogen peroksida (H2O2), asam laktat, dan bakteriosin yang bersifat toksik bagi bakteri patogen. Produk-produk ini dapat menjaga keasaman pH vagina, sehingga bakteri patogen sulit berkembang biak.

Selain itu, probiotik (terutama Lactobacillus) dapat menghambat penempelan bakteri Gardnerella vaginalis ke epitelium vagina. Probiotik juga dinilai dapat menurunkan inflamasi vagina dan meningkatkan imunitas daerah vagina.[7-9]

Basis Bukti Efektif Tidaknya Probiotik untuk Terapi Bacterial Vaginosis

Basis bukti mengenai efikasi probiotik dalam terapi bacterial vaginosis masih menunjukkan hasil yang bertentangan. Sebuah meta-analisis terhadap 20 randomized controlled trials (RCT) dengan total 2093 partisipan menunjukkan bahwa penggunaan probiotik sebagai terapi adjuvan meningkatkan angka kesembuhan dibandingkan antibiotik. Meski demikian, RCT yang dianalisis memiliki heterogenitas yang tinggi.[2]

Meta-analisis lain mengevaluasi 12 RCT dengan total 1.304 pasien. Hasil menunjukkan bahwa probiotik dapat meningkatkan angka kesembuhan BV hingga 1,53 kali lebih tinggi daripada terapi antibiotik saja. Meta-analisis ini juga menemukan bahwa pemberian probiotik oral memiliki angka keberhasilan lebih tinggi daripada probiotik intravaginal. Namun, RCT yang dianalisis dalam studi ini juga masih sangat heterogen dan banyak faktor perancu tidak dikendalikan.[10]

Sebuah RCT single-center dan double-blind melibatkan 55 partisipan juga menemukan bahwa probiotik, baik oral dan vaginal, efektif dalam terapi BV. Meski demikian, serupa dengan studi lain, kekuatan buktinya terbatas karena ukuran sampel kecil, drop-out yang tidak seimbang antar kelompok, dan durasi follow-up yang pendek.[11]

RCT lain melibatkan 127 peserta dan menunjukkan bahwa probiotik oral maupun vaginal secara signifikan menurunkan skor Nugent dan memperbaiki gejala, terutama dalam 4 minggu pertama. Meski demikian, kekuatan bukti penelitian ini juga memiliki keterbatasan, yaitu tingginya angka drop-out, analisis yang menggabungkan BV dan kandidiasis, serta beberapa hasil mikrobiologis yang tidak konsisten atau tidak signifikan.[12]

Kesimpulan

Probiotik berfungsi menjaga stabilitas flora normal vagina dan menjaga keasaman pH vagina. Bukti yang ada saat ini mengindikasikan bahwa probiotik oral maupun intravaginal yang dikombinasikan dengan terapi antibiotik konvensional efektif untuk bacterial vaginosis.

Namun, penelitian yang ada masih memiliki berbagai keterbatasan dan memiliki tingkat heterogenitas yang sangat tinggi, baik dalam hal spesies probiotik yang digunakan, dosis probiotik, cara pemberian probiotik, maupun durasi pemberian probiotik. Sampel yang digunakan juga umumnya kecil, serta risiko bias dari penelitiannya cukup tinggi.

Sejauh ini, belum ada laporan mengenai munculnya efek samping akibat penggunaan probiotik oral maupun vagina, sehingga probiotik mungkin masih bisa dipakai sebagai adjuvan dalam penatalaksanaan BV. Ke depannya, penelitian lebih besar dengan metodologi yang lebih terstandar diharapkan dapat mengonfirmasi efikasi probiotik dalam tata laksana BV.

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi