Penanganan Intoksikasi Magic Mushroom

Oleh :
dr. Gilang Pradipta Permana

Penanganan pasien yang mengalami intoksikasi magic mushroom atau hallucinogenic mushroom umumnya bersifat suportif tanpa antidotum khusus. Magic mushroom adalah istilah yang digunakan untuk jamur yang mengandung zat psikoaktif berupa psilocybin, misalnya jamur Psilocybe caerulipes dan Psilocybe cubensis.[1,2]

Intoksikasi akibat jamur-jamur tersebut dapat terjadi karena penyalahgunaan dengan tujuan rekreasional maupun ingesti secara tidak sengaja karena mengira jamur tersebut adalah jamur yang aman dikonsumsi. Mekanisme kerja psilocybin diduga berkaitan dengan agonisme reseptor serotonin 5-HT2A sehingga memberikan efek pada sistem saraf.[1,2]

Psilocybin,Mushrooms,In,Man's,Hand,,Macro,View.,Psychedelic,Magic,Trip.

Efek Konsumsi Magic Mushroom

Ambang batas intoksikasi psilocybin diduga ada pada dosis 40 µg/kg. Pada dosis total 3–30 mg (setara 5–50 gram jamur segar), psilocybin dapat menyebabkan gejala mual, muntah, nyeri perut, peningkatan frekuensi napas, peningkatan denyut jantung, dan peningkatan tekanan darah. Kondisi yang lebih berat dapat terjadi, misalnya paranoia, cemas, panik, disorientasi, halusinasi, gangguan kesadaran, dan kejang.[1,3]

Pada umumnya, gejala intoksikasi membaik dalam 6–8 jam ketika psilocybin dieliminasi oleh tubuh. Prognosis kasus intoksikasi ini sebenarnya cukup baik. Dosis psilocybin yang letal adalah 6 gram, yang setara dengan ±10 kg jamur. Kemungkinan kematian akibat dosis tersebut sangat kecil karena seseorang akan mengalami muntah sebelum dapat mengonsumsi jamur sebanyak 10 kg.[1,3]

Namun, hal yang mengancam nyawa adalah perilaku membahayakan diri yang dapat terjadi saat pasien mengalami reaksi panik dan gangguan persepsi serta gangguan pengambilan keputusan. Hal-hal tersebut bisa menyebabkan kecelakaan atau bahkan percobaan bunuh diri. Selain itu, beberapa studi juga melaporkan terjadinya efek jangka panjang konsumsi psilocybin terhadap kesehatan mental.[1,3]

Kebiasaan menggunakan zat lain bersamaan dengan magic mushroom menjadi salah satu penyebab munculnya gejala yang lebih berat. Gejala seperti psikosis dapat muncul karena kecenderungan pengguna magic mushroom rekreasional untuk mengonsumsi zat lain sebelum magic mushroom. Sebanyak 53% pengguna dilaporkan menggunakan kanabis sebelum magic mushroom, dan sebanyak 19% mengonsumsi alkohol sebelum magic mushroom.[1]

Pemeriksaan Pasien Intoksikasi Magic Mushroom

Tidak terdapat rangkaian pemeriksaan spesifik untuk intoksikasi magic mushroom. Hal utama yang dapat menegakkan diagnosis adalah anamnesis riwayat ingesti jamur pada orang sekitar pasien. Dokter menanyakan jumlah jamur yang dikonsumsi, asal jamur, dan jarak waktu antara konsumsi jamur dan munculnya gejala. Intoksikasi ringan akibat magic mushroom umumnya memiliki onset gejala <5 jam. Hal ini berbeda dengan kasus ingesti jamur beracun yang fatal (misalnya Cortinarius spp.) yang biasanya mempunyai onset gejala >5 jam setelah ingesti.[4]

Dokter juga menanyakan apakah ada jamur yang tersisa untuk identifikasi. Selain itu, tanyakan riwayat penyalahgunaan zat lain atau alkohol. Pemeriksaan fisik mencakup tanda vital, tingkat kesadaran, dan pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan laboratorium umumnya hanya bermanfaat untuk mengevaluasi ada tidaknya komplikasi, misalnya hepatotoksisitas atau gagal ginjal akut akibat jamur tertentu.[4]

Tata Laksana Pasien Intoksikasi Magic Mushroom

Pasien dianjurkan untuk diobservasi di fasilitas kesehatan karena gejala seperti panik, gangguan persepsi, maupun gangguan pengambilan keputusan dapat mengarah pada perilaku yang membahayakan diri. Selain itu, kondisi lain seperti dehidrasi berat akibat muntah-muntah dapat terjadi.[1,4]

Di fasilitas kesehatan, hal pertama yang perlu dievaluasi dan dimanajemen adalah ABC (airway, breathing, circulation). Bilas lambung atau pemberian activated charcoal diduga bermanfaat untuk mengeliminasi psilocybin bila dilakukan ≤60 menit setelah konsumsi magic mushroom. Namun, bukti untuk hal ini sebenarnya masih terbatas. Bilas lambung sendiri tidak bebas dari risiko, sehingga sudah tidak dianjurkan mayoritas literatur.[4,5]

Saat ini tidak terdapat antidotum yang direkomendasikan untuk terapi intoksikasi magic mushroom. Penanganan umumnya bersifat suportif, misalnya pemberian cairan secara intravena jika pasien mengalami dehidrasi akibat mual dan muntah yang berat. Obat antipiretik umumnya tidak diperlukan karena demam pada kasus ini biasanya lebih disebabkan oleh agitasi dan peningkatan aktivitas motorik.[4,5]

Jika ada gejala agitasi atau serangan panik yang parah ataupun kejang, pemberian benzodiazepine durasi singkat dapat dilakukan. Pastikan pasien berada di ruang yang tenang dan pencahayaan redup. Bila ada psikosis berkelanjutan, konsultasikan dengan spesialis kesehatan jiwa dan pertimbangkan pemberian antipsikotik.[4,5]

Saat ini belum terdapat patokan baku berapa lama pasien harus diobservasi. Sebagian besar kasus akan mengalami perbaikan dalam 6–8 jam dengan terapi suportif. Namun, beberapa pasien mungkin mengalami gejala hingga beberapa hari. Keputusan untuk observasi lebih lanjut sebaiknya disesuaikan dengan status mental dan riwayat psikiatri masing-masing pasien.[4,5]

Kesimpulan

Intoksikasi magic mushroom umumnya terjadi karena penyalahgunaan dengan tujuan rekreasional maupun karena ingesti yang tidak disengaja. Magic mushroom merupakan jamur yang mengandung zat psikoaktif psilocybin. Intoksikasi zat ini dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, nyeri perut, kenaikan tekanan darah, dan peningkatan denyut jantung. Pasien juga dapat mengalami serangan panik, paranoia, kecemasan, halusinasi, disorientasi, gangguan kesadaran, dan kejang.

Saat ini tidak ada antidotum khusus untuk intoksikasi magic mushroom. Terapi biasanya bersifat suportif, misalnya dengan pemberian cairan intravena jika ada dehidrasi atau pemberian benzodiazepine untuk kasus agitasi, serangan panik, dan kejang. Tindakan bilas lambung dan pemberian activated charcoal diduga bermanfaat jika dilakukan <60 menit setelah konsumsi jamur, tetapi buktinya terbatas. Bilas lambung juga sebenarnya tidak banyak dianjurkan dalam literatur saat ini karena dinilai berisiko.

Prognosis umumnya cukup baik. Episode umumnya membaik dalam 6–8 jam dengan terapi suportif yang adekuat. Namun, keputusan untuk observasi dan terapi lebih lanjut sebaiknya disesuaikan dengan status mental dan riwayat psikiatri setiap pasien.

Referensi