Pendekatan komprehensif perlu dilakukan dalam mengelola obesitas. Obesitas bukan sekadar masalah peningkatan berat badan, tetapi merupakan penyakit kronis multifaktorial yang dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, evaluasi perlu mencakup pemahaman mengenai mekanisme obesitas, identifikasi faktor risiko dan komplikasi, serta penilaian kondisi metabolik, fisik, dan psikologis pasien untuk menentukan strategi terapi yang tepat.
Biologi dan Mekanisme Obesitas
Dalam keadaan sehat, berat badan sangat dipengaruhi aksis otak usus yang berperan dalam menjaga homeostasis energi dalam tubuh melalui pengaturan nafsu makan dan pengeluaran energi. Kita akan membahas mulai dari pengaturan nafsu makan.
Ada tiga komponen utama alasan orang untuk makan, yaitu:
- Homeostatis atau makan karena lapar
- Hedonic atau makan untuk rasa senang
- Executive function atau keputusan untuk makan
Rasa lapar diatur oleh sinyal hormon dan saraf yang dikirim antar sinyal otak dan tubuh. Beberapa sinya seperti hormon ghrelin yang disekresi oleh otak dan saluran pencernaan bertujuan untuk mempromosikan rasa lapar. Hormon Glucagon-Like Peptide -1 (GLP 1), leptin dan insulin yang disekresikan oleh saluran pencernaan dan jaringan adiposa memberikan sinyal pada tubuh untuk menciptakan rasa kenyang.
Peningkatan nafsu makan timbul dari sinyal rasa lapar dan sinyal rasa kenyang yang sedikit. Makan dapat menyebabkan pelepasan dopamine serta merangsang reseptor opioid dan kanabinoid yang menciptakan perasaan ingin atau suka makan.
Makan karena rasa senang juga terkait dengan genetika. Beberapa orang memiliki varian genetika sehingga mereka rentan terhadap keinginan makan yang memicu obesitas. Nafsu makan juga dipengaruhi oleh proses pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh korteks prefrontal.
Selanjutnya, kita akan bahas mengenai pengeluaran energi. Jika kita mengkonsumsi banyak makan maka harus diimbangi dengan peningkatan pengeluaran energi. Sebagian besar energi yang dibuang oleh tubuh bukan berasal dari aktivitas fisik tetapi energi yang kita gunakan saat aktivitas istirahat.
Energi saat istirahat berfungsi untuk menjaga kita tetap hidup seperti, pernapasan , peredaran darah dan menjaga suhu tubuh. Energi ini dipengaruhi oleh hormon, genetika, usia, kesehatan dan obat-obatan.
Saat aktivitas fisik ada beberapa faktor yang mempengaruhi energi yang terbakar. Kondisi fisik dan mobilitas dapat mempengaruhi kemampuan orang untuk olahraga atau berjalan. Faktor lingkungan seperti, stress, kurang tidur, obat-obatan, keuangan dan pendidikan mempengaruhi terjadinya obesitas.
Obesitas itu penyebabnya multifaktorial. Obesitas juga terkait dengan faktor risiko diabetes, hipertensi dan kardiovaskular. Pemilihan terapi obesitas juga harus berbasis bukti untuk meningkatkan kesejahteraan pasien.[1-15]
Evaluasi Komprehensif pada Obesitas
Obesitas adalah penyakit kronis yang serius yang memiliki dampak negatif pada kesejahteraan fisik dan mental sehingga dibutuhkan tata laksana yang kuat berdasarkan bukti ilmiah.
Hanya sebesar 55% pasien yang mendapatkan diagnosa formal dan yang mendapatkan layanan kesehatan jangka panjang obesitas masih sedikit. Evaluasi obesitas harus fokus pada pendekatan holistik.
Untuk melakukan evaluasi obesitas dapat gunakan kerangka 5 A, yaitu:
- Ā Ask, bertanya untuk meminta izin pasien membicarakan berat badannya
Ā Assess, menilai riwayat kesehatan pasien
Ā Advise, memberikan pilihan tata laksana seperti perubahan lifestyle, farmakoterapi maupun terapi pembedahan
Ā Agree, pasien menyetujui tata laksana dan menetapkan goal yang ingin dicapai
Ā Assist, bantu pasien dalam manajemen jangka panjang
Pengukuran antropometri yang dapat dilakukan yaitu indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Pastikan timbangan dapat mengukur lebih dari 200 kg dan lakukan pengukuran di area yang privat.
Penting untuk melakukan identifikasi penyebab berat badan berlebih dan menilai komplikasi terkait obesitas. Untuk menilai risiko kardiometabolik disarankan untuk melakukan pengukuran fisik seperti pengukuran tekanan darah di kedua lengan, gula darah puasa atau HbA1C, dan profil lipid. Pemeriksaan hematologi tambahan seperti, fungsi ginjal dan hari dapat dilakukan.
Pasien dengan obesitas memiliki peningkatan risiko komplikasi seperti, penyakit kardiovaskular, penyakit hati, osteoarthritis, dan gangguan mental. Staging tool seperti Edmonton Obesity Staging System (EOSS) memberikan klasifikasi yang lebih komprehensif. Ada 5 stage sistem yang menilai gangguan metabolik, fisik, dan psikologis. Tujuan EOSS ini yaitu agar klasifikasi dan pendekatan terapi obesitas disesuaikan pada setiap individu.
Manajemen obesitas harus berdasarkan bukti yang kuat dan berfokus untuk meningkat kesehatan dan kualitas hidup pasien.[16-27]
Implikasi pada Hasil Penelitian SELECT
Materi ini akan membahas mengenai implikasi hasil studi Semaglutide Effects on Heart Disease and Stroke in Patients with Overweight or Obesity (SELECT) yaitu efek semaglutide 2,4 mg terhadap hasil kardiovaskular dan faktor risiko untuk mengidentifikasi dampak manajemen obesitas yang efektif terhadap kesehatan secara keseluruhan.
Studi ini membandingkan kelompok yang mengonsumsi semaglutide 2,4 mg dengan kelompok plasebo. Hasilnya menunjukkan semaglutide 2,4 mg secara signifikan menurunkan 20% kejadian kardiovaskular yang merugikan pada pasien overweight atau obesitas dan pasien dengan penyakit kardiovaskular tanpa diabetes.
Studi SELECT ini juga menunjukkan penurunan beberapa risiko berikut:
- 19% resiko kematian
- 18% gagal jantung
- 28% risiko non-fatal infark miokardium
- 7 % risiko non-fatal stroke
- 22% risiko nefropati
Penurunan yang signifikan yang terjadi pada semua faktor risiko kardiovaskular seperti, berat badan, lingkar pinggang, glukosa darah, tekanan darah, penurunan C-reactive protein (CRP), penurunan trigliserida dan penurunan kolesterol total.
Perbaikan kadar glukosa dan penurunan progresi diabetes juga ditemukan pada orang yang tidak memiliki diabetes. [28]