Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan fungsi ginjal. Di praktik, OAINS sering digunakan untuk mengatasi nyeri, demam, atau kondisi inflamasi kronis seperti rheumatoid arthritis. Contoh obat dari golongan OAINS adalah ibuprofen, naproxen, dan diklofenak.[1,2]
Saat ini semakin banyak bukti yang mengaitkan penggunaan OAINS dengan insiden merugikan pada ginjal. Hasil dari sebuah meta analisis menunjukkan bahwa paparan terhadap OAINS berkaitan dengan sekitar 1,5 kali peningkatan risiko cedera ginjal akut, khususnya untuk pasien dengan latar belakang penyakit ginjal kronis.[3,4]
Efek Farmakologi OAINS Terhadap Ginjal
Organ ginjal menerima sekitar 25% dari cardiac output dan merupakan organ utama untuk ekskresi metabolisme obat. Oleh karena itu, arteriol ginjal dan kapiler glomerulus cukup rentan terhadap obat-obatan yang memengaruhi aliran darah tersebut.[1,5]
Dampak merugikan OAINS terhadap ginjal secara keseluruhan dapat dibagi ke dalam dua mekanisme patologi. Pertama, cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI) yang disebabkan oleh penurunan renal blood flow dan glomerular filtration rate (GFR) akibat dari penurunan prostaglandin yang meregulasi vasodilatasi di tingkat glomerulus. AKI yang tidak pulih akan berlanjut menjadi penyakit ginjal kronis.[6-9]
OAINS bekerja dengan menginhibisi siklooksigenase (COX) yang mana menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin. Inhibisi prostaglandin ginjal akan menghasilkan deteriorasi akut fungsi ginjal setelah pemberian OAINS.[1,4]
Mekanisme kedua ialah timbulnya reaksi imun dari paparan berkepanjangan OAINS yang ditandai oleh infiltrasi difus sel-sel inflamasi, khususnya sel limfosit T, ke jaringan interstitial ginjal, termasuk ke podosit ginjal. Hal tersebut akan menimbulkan kondisi yang dikenal dengan acute interstitial nephritis (AIN).[8-11]
Faktor yang Meningkatkan Risiko Efek Merugikan OAINS Terhadap Ginjal
Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko timbulnya efek merugikan dari OAINS terhadap ginjal. Ini mencakup adanya komorbiditas, usia lanjut, dan penggunaan obat lain yang juga bersifat nefrotoksik.[1,12-14]
Komorbiditas
Pasien dengan komorbiditas yang juga memengaruhi fungsi ginjal, seperti hipertensi, diabetes, gagal hati, dan dehidrasi, akan lebih berisiko mengalami gangguan ginjal ketika mengonsumsi OAINS. Lebih lanjut, sebuah studi menemukan bahwa paparan OAINS pada individu yang sudah mengalami penyakit ginjal kronis berkontribusi terhadap kenaikan risiko sebesar 67% untuk progresi ke tahap lanjut.[12,13]
Usia Lanjut
Seiring penuaan, ginjal turut mengalami penurunan kemampuan filtrasi. Selain itu, pasien usia lanjut juga berisiko tinggi mengalami AKI. Menurut sebuah laporan di Cina, konsumsi ibuprofen menempati peringkat pertama sebagai penyebab gangguan ginjal terkait konsumsi OAINS (46,7%), sedangkan celecoxib merupakan penyebab yang paling jarang (7,3%). Aspirin memiliki tingkat mortalitas tertinggi akibat cedera ginjal terkait OAINS (18,7%).[13,14]
Penggunaan Obat Nefrotoksik Bersama dengan OAINS
Penggunaan OAINS dengan obat lain yang berpotensi nefrotoksik, seperti calcineurin inhibitor, aminoglikosida, dan diuretik, akan meningkatkan risiko terjadinya reaksi merugikan pada ginjal. Contoh obat tersebut adalah furosemide, hydrochlorothiazide, lithium, dan neomycin.[13]
Apakah Besaran Dosis dan Lama Paparan Memengaruhi Risiko Gangguan Ginjal Terkait OAINS?
Sebuah studi di Cina melaporkan bahwa median onset terjadinya cedera ginjal terkait konsumsi OAINS adalah 6 hari, yang mana sebesar 79,3% efek samping terkait ginjal terjadi dalam 30 hari dari penggunaan OAINS. Tidak hanya itu, paparan OAINS ≥7 hari dalam dosis terapeutik juga telah dilaporkan bisa meningkatkan risiko AKI sebesar 1,3 kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada dosis OAINS yang aman dari risiko AKI.[15]
Apakah Ada Perbedaan Risiko antara Penggunaan OAINS Tipe Selektif dan Nonselektif ?
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna terkait risiko gangguan ginjal antara penggunaan OAINS tipe selektif, seperti celecoxib dan etoricoxib, maupun nonselektif, seperti ibuprofen dan asam mefenamat. Secara teori, kedua jenis OAINS ini tetap dapat memengaruhi fungsi ginjal melalui inhibisi prostaglandin, yang mana bisa mengganggu renal homeostasis.[9,16]
Hal itu didukung oleh hasil dari sebuah meta analisis yang melibatkan 41.904 pasien yang mendapat OAINS. Meta analisis ini tidak menemukan adanya perbedaan risiko AKI antara pengguna OAINS selektif dan nonselektif (aOR 0,99).[9]
Rekomendasi Penggunaan OAINS yang Aman
Dalam tata laksana nyeri, pendekatan nonfarmakologi seperti fisioterapi, sebaiknya dimasukkan dalam program penatalaksanaan untuk mengurangi kebutuhan terhadap analgesik. Apabila terapi farmakologi diperlukan, paracetamol umumnya menjadi pilihan, terutama pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Selain itu, penggunaan OAINS topikal dapat dipertimbangkan karena absorpsi sistemik jauh lebih rendah dibandingkan sediaan oral.[13,17]
Pada penyakit ginjal kronis, National Kidney Foundation menyatakan bahwa OAINS masih dapat digunakan secara aman untuk jangka pendek, yaitu kurang dari 5 hari, selama laju filtrasi glomerulus (GFR) >30 mL/menit/1,73 m². Penggunaan melebihi 5 hari masih dimungkinkan berdasarkan pertimbangan klinis individual, tetapi disertai pemantauan fungsi ginjal dan tanda nefrotoksisitas. OAINS kontraindikasi jika GFR <30 mL/menit/1,73 m² atau pada pasien hiperkalemia.[17]
Pada penyakit ginjal kronis, dosis terapeutik maupun frekuensi pemberian OAINS dianjurkan dikurangi hingga sekitar 50% dari regimen standar, serta dipilih agen dengan waktu paruh yang lebih singkat, seperti diklofenak atau ibuprofen. Sebaliknya, OAINS dengan waktu paruh panjang, seperti piroxicam, sebaiknya dihindari karena berpotensi meningkatkan paparan obat dan memperbesar risiko kerusakan ginjal.
Mengingat risiko progresivitas penyakit ginjal kronis meningkat seiring penggunaan OAINS, terapi sebaiknya diberikan dalam dosis efektif terendah dan selama durasi sesingkat mungkin untuk meminimalkan risiko efek buruk terhadap ginjal.[17]
Kesimpulan
Obat antiinflamasi nonsteroid atau OAINS telah diketahui berpotensi menyebabkan efek samping bermakna pada ginjal. Risiko gangguan ginjal ini akan meningkat pada pasien dengan komorbiditas yang memengaruhi fungsi ginjal (seperti hipertensi, diabetes, dehidrasi, dan penyakit ginjal kronis), pasien usia lanjut, serta pada penggunaan OAINS bersama dengan obat lain yang nefrotoksik (seperti diuretik dan aminoglikosida).
Untuk mengurangi risiko tersebut, dokter sebaiknya mengutamakan pendekatan nonfarmakologi dibandingkan pemberian OAINS jika memungkinkan. Apabila terapi farmakologi tetap diperlukan, paracetamol bisa dipilih karena relatif lebih aman dibandingkan OAINS. Selain itu, penggunaan OAINS topikal bisa mengurangi paparan sistemik, sehingga menurunkan risiko efek buruk pada ginjal.
Pada pasien dengan penyakit ginjal kronis, OAINS masih dapat digunakan jangka pendek (kurang dari 5 hari) pada pasien dengan laju filtrasi glomerulus (GFR) di atas 30 mL/menit/1,73 m². Sebaliknya, OAINS kontraindikasi jika GFR sudah kurang dari 30 mL/menit/1,73 m² atau pasien mengalami hiperkalemia.
