Leukositosis pada kehamilan dapat disebabkan oleh perubahan hematologi fisiologis saat hamil, tetapi dapat juga disebabkan oleh proses patologis. Dokter harus mampu membedakan keduanya.
Leukositosis adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar sel darah putih (white blood cells / WBC) dengan kadar WBC di atas nilai rujukan, umumnya di atas 11.000 per mm3 pada seseorang yang sedang tidak hamil.
Peningkatan kadar WBC dalam praktik sehari-hari yang ditemukan pada orang yang sedang tidak hamil, dapat diartikan sebagai tanda infeksi atau disebabkan oleh hal-hal lainnya seperti stres, trauma, dehidrasi, pascaoperasi, olahraga, obat-obatan (kortikosteroid), asplenia, merokok, obesitas dan penyakit inflamasi kronis. Peningkatan WBC juga dapat menjadi pertanda adanya keganasan seperti leukemia.[1,2]
Pada kehamilan, peningkatan kadar WBC di atas nilai rujukan tidak selalu menandakan adanya suatu masalah atau kelainan, justru sebaliknya merupakan suatu hal yang fisiologis. Untuk itu, dokter harus dapat membedakan manakah leukositosis yang bersifat fisiologis dan manakah leukositosis yang bersifat patologis pada kehamilan, untuk mencegah kesalahan diagnosis serta pemberian terapi yang tidak perlu bagi ibu hamil.
Leukositosis Fisiologis pada Kehamilan
Leukositosis pada kehamilan merupakan hal yang umum terjadi dan bersifat fisiologis. Hal ini dikarenakan selama masa kehamilan terjadi suatu stres fisiologis dan peningkatan respon inflamasi. Respon inflamasi tersebut merupakan bentuk suatu toleransi imun selektif tubuh, imunosupresi dan imunomodulasi dari fetus.[4,5]
Leukositosis mulai muncul pada trimester pertama kehamilan dan terus bertahan selama masa kehamilan hingga pasca melahirkan. Di antara seluruh tipe leukosit, jumlah sel neutrofil adalah yang paling tinggi di antara sel-sel lainnya pada pemeriksaan differential count. Hal ini disebabkan oleh terjadinya gangguan apoptosis neutrofil akibat respon inflamasi.[6]
Kadar neutrofil dapat meningkat hingga dua kali lipat pasca melahirkan dan akan kembali normal secara bertahap dalam waktu 4 minggu. Selain sel neutrofil, sel monosit juga diduga mengalami peningkatan, sedangkan sel lainnya seperti basofil, eosinofil dan limfosit menurun pada trimester awal namun cenderung stabil setelahnya hingga menjelang persalinan.[6]
Meskipun referensi trimester sangat membantu, studi terbaru pada populasi besar (17.737 kehamilan) menekankan pentingnya pemantauan lebih spesifik pada awal trimester pertama.[13]
Studi ini mengidentifikasi 'titik balik' pada usia gestasi 7 minggu, di mana terjadi lonjakan median leukosit yang sangat drastis dari 5,8 menjadi 9,1 × 10⁹/L. Berdasarkan temuan ini, rentang acuan untuk usia gestasi ≤2 minggu tetap mengikuti standar non-hamil (4,0–10,0 × 10⁹/L), namun meningkat menjadi 4,7–11,9 × 10⁹/L pada usia 3–5 minggu, dan mencapai 5,7–14,4 × 10⁹/L saat memasuki usia ≥6 minggu.[13]
Tabel 1. Nilai Rujukan WBC pada Ibu Hamil
| Fase Kehamilan | Rentang Normal (x10⁹/L) | Keterangan Klinis |
| Pra-hamil / ≤2 minggu | 4,0 – 10,0 | Menggunakan standar umum |
| Minggu 3 – 5 | 4,7 – 11,9 | Mulai terjadi lonjakan awal |
| Minggu ≥6 s.d Melahirkan | 5,7 – 14,4 | Batas fisiologis tertinggi |
| Pascapersalinan (0-6 hari) | s.d 11,3 (Median) | Puncak respon stres persalinan |
| 4 Minggu Pascasalin | Kembali ke ~7,0 | Kembali ke level basal |
Sumber: dr. Eurena, ALOMEDIKA (2026)
Leukositosis Patologis pada Kehamilan
Leukositosis patologis adalah peningkatan kadar WBC yang melebihi batas atas nilai rujukan WBC sesuai dengan trimester kehamilan. Leukositosis patologis merupakan pertanda bahwa terdapat infeksi atau bahkan keganasan pada wanita hamil.
Pada keganasan, jumlah leukosit dapat mencapai 75.000 hingga 100.000 per mm3 atau disebut dengan hiperleukositosis. Jika tidak diketahui atau dianggap remeh, selain mempengaruhi kondisi ibu, hal yang paling ditakutkan yakni infeksi juga dapat mempengaruhi janin.[4-7]
Peningkatan kadar WBC melebihi batas nilai rujukan bermanfaat sebagai indikator infeksi, keganasan, serta prediktor risiko komplikasi kehamilan. Sehingga menurut studi dari Sanci M, et al pemeriksaan yang lebih spesifik seperti differential count juga perlu dilakukan agar dapat membantu dokter dalam membedakan serta menentukan jenis infeksi atau kelainan yang mungkin terjadi pada ibu hamil.[6,8–9]
Seperti yang sudah diketahui dari pernyataan di atas, bahwa tipe sel leukosit yang meningkat pada wanita hamil hanya sel neutrofil dan sel monosit. Sedangkan sel-sel lainnya seperti eosinofil, basofil dan limfosit pada umumnya berada dalam batas nilai rujukan atau justru cenderung menurun.[6,8-9]
Sehingga apabila terdapat peningkatan dari sel-sel selain neutrofil dan monosit, maka hal ini juga merupakan suatu bentuk leukositosis patologis.[10-12]
Selain sebagai indikator infeksi dan keganasan, kadar WBC yang melebihi batas atas rentang acuan kehamilan kini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi obstetrik.[13]
Data menunjukkan bahwa ibu hamil dengan kadar leukosit yang sangat tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami plasenta previa (meningkat 111%), hambatan pertumbuhan janin atau IUGR (meningkat 73%), serta oligohidramnion. Hal ini mengindikasikan bahwa leukositosis patologis juga mencerminkan kondisi inflamasi kronis yang dapat mengganggu lingkungan intrauterin dan fungsi plasenta.[13]
Sumber: OpenStax College, Wikimedia commons.Neutrofil
Nilai rujukan neutrofil pada ibu hamil :
- Trimester pertama : 3,6 – 10,1 (x 109/L)
- Trimester kedua : 3,8 – 12, 3 (x 109/L)
- Trimester ketiga : 3,9 – 13,1 (x 109/L)
Peningkatan dari jumlah neutrofil menandakan adanya infeksi bakteri akut, stres akut, luka bakar, leukemia, peradangan sendi, atau akibat penggunaan obat (steroid).
Monosit
Nilai rujukan monosit pada ibu hamil:
- Trimester pertama : 0,1 – 1,1 (x 109/L)
- Trimester kedua : 0,1 – 1,1 (x 109/L)
- Trimester ketiga : 0,1 – 1,4 (x 109/L)
Peningkatan dari jumlah monosit menandakan adanya inflamasi kronik, penyakit autoimun, infeksi (seperti: Epstein-Barr virus, tuberkulosis, sarkoidosis, jamur, protozoa), sindrom Cushing dan paska splenektomi.
Basofil
Nilai rujukan basofil pada ibu hamil :
- Trimester pertama : 0 – 0,1 (x 109/L)
- Trimester kedua : 0 – 0,1 (x 109/L)
- Trimester ketiga : 0 – 0,1 (x 109/L)
Peningkatan dari jumlah basofil menandakan adanya alergi dan keganasan (seperti: leukemia, Hodgkin’s disease).
Limfosit
Nilai rujukan limfosit pada ibu hamil:
- Trimester pertama : 1,1 – 3,6 (x 109/L)
- Trimester kedua : 0,9 – 3,9 (x 109/L)
- Trimester ketiga : 1,0 – 3,6 (x 109/L)
Peningkatan dari jumlah limfosit menandakan adanya infeksi virus, infeksi pertusis, leukemia, reaksi hipersensitivitas dan insufisiensi kelenjar adrenal.
Eosinofil
Nilai rujukan eosinofil pada ibu hamil :
- Trimester pertama : 0 – 0,6 (x 109/L)
- Trimester kedua : 0 – 0,6 (x 109/L)
- Trimester ketiga : 0 – 0,6 (x 109/L)
Peningkatan dari jumlah eosinofil menandakan adanya reaksi alergi, infeksi parasit dan keganasan.
Leukositosis patologis akibat infeksi atau kelainan lainnya tidak selalu menunjukkan gejala pada wanita hamil. Gejala yang dapat muncul yakni demam, tubuh terasa lemah, lemas, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, tidak nafsu makan, tubuh mudah memar, tubuh terasa sakit, pusing, sulit bernapas dan lainnya. Jenis infeksi yang sering muncul selama masa kehamilan yakni bervariasi dimulai dari infeksi virus, bakteri dan protozoa.[10]
Alur Diagnosa Pasien dengan Leukositosis
Setelah mengetahui batas nilai rujukan kadar leukosit dan hitung jenis pada kehamilan, langkah berikutnya adalah untuk mendiagnosa kemungkinan penyebab kelainan hematologi pada pasien tersebut. Dokter dapat menggunakan alur diagnosis sesuai dengan diagram di bawah ini.
Sumber: Riley KL, et al, 2015. diadaptasi oleh dr. Novita[1]Kesimpulan
Leukositosis adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar sel darah putih (white blood cells / WBC) yang pada umumnya disebabkan oleh infeksi atau keganasan, tetapi dapat juga disebabkan oleh penyebab lainnya. Namun, leukosit di atas nilai rujukan pada kehamilan tidak selalu menunjukkan adanya kelainan atau infeksi, dan mungkin bersifat fisiologis.
Leukositosis patologis ditentukan jika kadar leukosit melebihi kadar normal pada kehamilan yang nilainya berbeda-beda tergantung usia kehamilan. Pemeriksaan differential count (neutrofil, monosit, basofil, eosinofil, limfosit) lebih spesifik dalam menentukan kelainan atau jenis infeksi yang ada pada wanita hamil sehingga dapat membantu dokter untuk memberikan terapi yang sesuai.
Tiga poin untuk diingat dokter umum:
- Diagnosis tidak dapat didasarkan hanya pada hasil pemeriksaan leukosit dan differential count semata. Diagnosis harus didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien, dengan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung proses diagnostik sesuai dengan kondisi klinis pasien
- Batas nilai rujukan leukosit dan masing-masing jenis sel darah putih meningkat pada kehamilan. Batas nilai rujukan ini berbeda tergantung usia kehamilan
- Selain menandakan infeksi, peningkatan WBC yang melebihi batas normal gestasional perlu diwaspadai sebagai prediktor komplikasi kehamilan seperti plasenta previa, IUGR, dan gangguan air ketuban, sehingga memerlukan pemantauan kesejahteraan janin yang lebih ketat.
Direvisi oleh: dr. Eurena Maulidya Putri
