Menguak Fakta di Balik Dry Needling untuk Terapi Nyeri Sendi

Oleh :
dr.Putra Rizki Sp.KO

Dry needling merupakan teknik yang semakin populer digunakan sebagai terapi nyeri sendi. Dry needling dilakukan dengan memasukkan jarum filiform tipis secara langsung ke dalam myofascial trigger points. Meski demikian, mekanisme yang secara tepat mendasari efek dry needling masih belum jelas, sehingga penggunaan tindakan ini masih menuai perdebatan.[1]

Sekilas Mengenai Dry Needling

Pada dasarnya, dry needling (DN) merupakan prosedur invasif minimal yang dilakukan dengan memasukkan jarum filiform tanpa pemberian obat ke dalam jaringan. Dalam praktik klinis, dry needling terutama digunakan untuk menargetkan myofascial trigger points (MTrP) dan jaringan neuromuskular yang berperan dalam timbulnya nyeri muskuloskeletal.

Menguak Fakta di Balik Dry Needling untuk Terapi Nyeri Sendi

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa dry needling dapat mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi pada berbagai kondisi muskuloskeletal. Namun, besaran manfaat yang diperoleh berbeda tergantung kondisi yang ditangani serta karakteristik dan protokol intervensi yang digunakan. Oleh sebab itu, meski dry needling menunjukkan potensi sebagai modalitas tata laksana nyeri muskuloskeletal, penggunaannya perlu mempertimbangkan kondisi klinis dan kekuatan bukti yang ada.

Mekanisme aksi dry needling belum sepenuhnya dipahami dan diperkirakan melibatkan berbagai proses pada tingkat lokal maupun sistem saraf. Penusukan jarum memberikan stimulus mekanik dan sensorik yang diduga dapat memengaruhi aktivitas nosiseptor serta respons jaringan lokal. Selain itu, dry needling diduga dapat memodulasi persepsi dan respons terhadap nyeri melalui mekanisme pada tingkat spinal dan supraspinal.[2-4]

Penggunaan Dry Needling di Praktik Klinis

Dry needling telah diteliti untuk berbagai kondisi muskuloskeletal, terutama nyeri regional dengan komponen miofasial atau neuromuskular. Beberapa kondisi yang telah diteliti adalah:

Adakah Basis Bukti Efektivitas Dry Needling pada Nyeri Sendi?

Penelitian umumnya mengukur efektivitas dry needling berdasarkan kemampuan dalam mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi fisik. Beberapa penelitian juga menilai pengaruh dry needling terhadap disabilitas, rentang gerak sendi (range of motion/ROM), dan kekuatan otot. Meski demikian, perlu dicatat bahwa kebanyakan studi mengenai efikasi dry needling memiliki risiko bias yang tinggi, sehingga hasil yang didapat perlu diinterpretasikan dengan hati-hati.[1]

Nyeri Leher Kronis

Sebuah tinjauan sistematik menilai efektivitas dry needling pada orang dewasa dengan nyeri leher kronis lebih dari 3 bulan. Peneliti memasukkan 14 studi, dengan 13 studi dianalisis secara kuantitatif. Secara umum, hasil individual penelitian menunjukkan bahwa dry needling dapat mengurangi intensitas nyeri, terutama dalam jangka pendek hingga menengah, tetapi hasilnya lebih tidak konsisten ketika dibandingkan dengan terapi lain dan dalam jangka panjang.

Meta-analisis menunjukkan adanya penurunan nyeri yang signifikan (mean difference −0,45), tetapi heterogenitas penelitian yang dianalisis sangat tinggi, sehingga hasil antarpenelitian sangat bervariasi. Manfaat yang lebih konsisten terlihat ketika dry needling dikombinasikan dengan fisioterapi, dibandingkan fisioterapi saja. Namun, analisis subgrup tersebut juga memiliki heterogenitas tinggi dan kemungkinan publication bias.[6]

Subacromial Pain Syndrome

Suatu tinjauan sistematik menilai efektivitas dry needling pada pasien dengan subacromial pain syndrome (SAPS), yang juga mencakup subacromial impingement syndrome, dengan luaran utama berupa nyeri dan disabilitas. Dari 2.711 artikel yang ditemukan, hanya 8 randomized controlled trials (RCTs) dengan total 538 peserta yang memenuhi kriteria dan dievaluasi.

Secara statistik, hasil analisis menunjukkan bahwa dry needling memberikan perbaikan dibandingkan kelompok pembanding, baik untuk nyeri maupun disabilitas pada 1–4 minggu, 1–3 bulan, maupun 4–12 bulan, dengan effect size sedang hingga besar. Namun, kekuatan bukti tersebut perlu ditafsirkan dengan hati-hati karena hanya 4 dari 8 studi yang memiliki risiko bias rendah, sementara 4 lainnya memiliki risiko bias yang tidak jelas atau tinggi.

Selain itu, beberapa analisis menunjukkan heterogenitas yang signifikan, terutama pada periode 1–3 bulan dan 4–12 bulan. Variasi yang cukup besar dalam teknik dry needling, lokasi penusukan, kombinasi dengan fisioterapi, jumlah sesi, serta terapi pembanding juga membuat sulit untuk memastikan bahwa efek yang ditemukan semata-mata berasal dari dry needling.[7]

Plantar Fasciitis

Sebuah tinjauan sistematik terhadap 12 uji klinis dengan total 781 peserta mengevaluasi efektivitas dry needling pada plantar fasciitis, dengan nyeri dan fungsi kaki sebagai luaran utama. Hasilnya menunjukkan bahwa dry needling yang ditambahkan pada terapi rutin seperti pijat, peregangan, atau ultrasound memberikan penurunan nyeri dibandingkan terapi rutin saja. Sementara itu, ketika dry needling dibandingkan langsung dengan terapi lain, tidak ditemukan perbedaan bermakna.

Perlu dicatat bahwa basis bukti penelitian ini belum dapat dikatakan sangat kuat. Dari 12 uji klinis, hanya 3 yang menerapkan blinding pasien dan 3 yang melakukan blinding penilai. Selain itu, penelitian ini mencakup kasus akut maupun kronis, lokasi dan teknik dry needling sangat bervariasi, serta jumlah studi untuk beberapa analisis relatif sedikit. Lebih lanjut, beberapa hasil menunjukkan manfaat terutama ketika dry needling digabungkan dengan terapi lain, bukan ketika digunakan sebagai terapi tunggal.[8]

Osteoarthritis Lutut atau Panggul

Suatu tinjauan sistematik terhadap 7 uji klinis yang melibatkan 291 pasien dengan osteoarthritis panggul atau lutut, menilai apakah dry needling pada myofascial trigger points dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi fisik dibandingkan sham treatment, latihan, peregangan, atau tanpa intervensi tambahan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa dry needling memberikan perbaikan jangka pendek untuk nyeri dan fungsi fisik, tetapi heterogenitas studi cukup tinggi. Yang lebih penting, efek tersebut tidak bertahan pada jangka menengah maupun panjang.

Meskipun 6 dari 7 studi dikategorikan berkualitas tinggi berdasarkan PEDro, sebagian besar studi memiliki risiko selection bias dan performance bias. Selain itu, hanya sedikit dari studi yang dianalisis yang menyediakan data tindak lanjut jangka menengah atau panjang. Lebih lanjut, peneliti menggunakan GRADE dan menilai kualitas keseluruhan bukti sebagai very low, baik untuk nyeri maupun fungsi fisik.[10]

Kesimpulan

Bukti yang ada saat ini belum cukup kuat untuk mendukung penggunaan dry needling sebagai terapi nyeri sendi. Meski ada beberapa studi yang mengindikasikan manfaat dry needling, kekuatan bukti dari studi-studi tersebut tidak begitu baik, risiko biasnya tinggi, dan manfaat yang didapat umumnya hanya jangka pendek.

Apabila dokter akan menggunakan dry needling, tindakan ini mungkin bisa dipertimbangkan sebagai terapi tambahan dari terapi lain (sebagai bagian dari pendekatan multimodal). Dry needling tidak seharusnya menggantikan intervensi aktif, seperti latihan dan farmakoterapi.

Referensi