Beberapa klinisi berpendapat bahwa ibu dengan HIV sebaiknya tidak menyusui bayinya karena akan meningkatkan risiko penularan. Meski demikian, ASI membawa banyak sekali manfaat pada bayi dan banyak ahli berpendapat bahwa risiko penularan akibat menyusui sangat minimal, sehingga menyusui sebaiknya tetap dilakukan sekalipun ibu memiliki HIV.[1]
Menyusui memiliki peran penting dalam perkembangan dan pertumbuhan anak, terutama pada daerah di mana diare, pneumonia, dan malnutrisi masih merupakan penyebab kematian utama pada anak seperti Indonesia. Karena alasan ini, sangat dianjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, diikuti dengan menyusui lanjutan dan makanan pendamping yang sesuai hingga usia 2 tahun atau lebih.[2]
Selain pada bayi, menyusui juga membawa manfaat bagi ibu. Menyusui telah dilaporkan efektif menurunkan risiko kanker payudara, penyakit kardiovaskular, dan gangguan mental, serta akan meningkatkan ikatan (bonding) antara ibu dan bayinya.[3,4]
Basis Bukti Ilmiah Keamanan Menyusui pada Ibu dengan HIV
Sebuah uji klinis multisenter dilakukan untuk mengevaluasi luaran menyusui pada ibu dengan HIV yang mendapat ARV. Uji klinis ini melibatkan 795 pasangan ibu-bayi dari Burkina Faso, Kenya, dan Afrika Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menyusui tidak meningkatkan mortalitas bayi dibandingkan pemberian susu formula, bahkan bayi yang tetap disusui memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan bayi yang tidak pernah disusui atau telah disapih dini. Mortalitas kumulatif hingga usia 18 bulan adalah 7,7% pada kelompok yang pernah disusui dibandingkan 10,5% pada kelompok yang tidak pernah disusui.[5]
Sebuah tinjauan sistematik mengevaluasi keamanan menyusui pada ibu dengan HIV yang menjalani terapi ARV, dengan menelaah 9 studi, yang melibatkan ukuran sampel antara 170 hingga 2431 peserta, termasuk 2 randomized controlled trials (RCT), 3 studi kohort retrospektif, dan 4 kohort prospektif. Salah satu RCT terbesar melibatkan 2431 pasangan ibu-bayi, namun tidak dijelaskan adanya blinding.
Hasil menunjukkan bahwa menyusui pada ibu dengan HIV yang mendapatkan ART dan memiliki kepatuhan baik relatif aman, dengan angka transmisi HIV postnatal sangat rendah, umumnya berkisar 0–2,5%. Risiko transmisi meningkat terutama pada ibu dengan kepatuhan ART buruk dan viral load tinggi.[6]
Rekomendasi WHO Terkait Menyusui pada Ibu dengan HIV
Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya WHO merekomendasikan penggunaan obat antiretroviral (ARV) untuk mencegah penularan HIV postnatal selama menyusui hingga bayi berusia 12 bulan. Menurut studi WHO saat itu, konsumsi ARV kombinasi selama kehamilan, persalinan, dan menyusui pada ibu dengan HIV positif dapat menurunkan risiko penularan ke bayinya hingga 42%.[7,8]
Dalam pedoman penanganan HIV tahun 2025, WHO menegaskan kembali bahwa semua ibu hamil dan menyusui dengan HIV harus segera memulai terapi ARV, termasuk bila baru terdiagnosis pada akhir kehamilan atau setelah persalinan, karena penurunan viral load maternal merupakan cara paling efektif untuk mencegah transmisi vertikal HIV ke bayi.[9]
WHO Merekomendasikan Ibu dengan HIV untuk Menyusui
Menurut WHO, ibu dengan HIV tetap dianjurkan untuk menyusui apabila menjalani terapi ARV secara adekuat. Menyusui dianjurkan dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, kemudian dilanjutkan bersama makanan pendamping hingga usia 12 bulan dan dapat diteruskan sampai 24 bulan atau lebih.[9]
Berikan Profilaksis HIV pada Bayi yang Menyusu untuk Menurunkan Risiko Transmisi Vertikal
Menurut rekomendasi WHO, semua bayi yang terpapar HIV dari ibu harus mendapatkan profilaksis postnatal selama 6 minggu untuk menurunkan risiko transmisi HIV intrauterin maupun postpartum.
Pada bayi dengan risiko rendah, misalnya bayi yang lahir dari ibu yang sudah menjalani ARV adekuat dan memiliki viral load terkontrol, WHO merekomendasikan profilaksis satu obat, dengan nevirapine (NVP) sebagai pilihan utama, sedangkan dolutegravir (DTG) atau lamivudine (3TC) dapat digunakan sebagai alternatif. Selama ibu tetap menjalani terapi ARV dengan supresi virus yang baik, risiko penularan saat menyusui dapat ditekan signifikan.
Sementara itu, pada bayi yang tergolong berisiko tinggi tertular HIV, profilaksis dianjurkan menggunakan tiga obat selama 6 minggu, dengan kombinasi abacavir (ABC)/3TC-DTG. Bayi dikategorikan berisiko tinggi apabila:
- Ibunya baru mendapat ARV kurang dari 4 minggu sebelum persalinan
- Ibu memiliki viral load >1000 copies/mL dalam 4 minggu menuju persalinan
- Ibu mengalami infeksi HIV baru saat hamil atau menyusui
- Ibu baru terdiagnosis HIV pada periode postpartum.
Setelah menyelesaikan regimen tiga obat, bayi yang masih menyusu dianjurkan melanjutkan profilaksis satu obat hingga supresi viral maternal tercapai atau sampai masa menyusui selesai.[9]
Edukasi pada Ibu dengan HIV yang Menyusui
Edukasi pasien merupakan komponen penting untuk mengatasi hambatan dalam mempromosikan menyusui dan terapi ARV pada ibu dengan HIV. Lebih lanjut, petugas kesehatan juga memiliki peran dalam memberikan dukungan dan empati agar ibu dengan HIV dapat mencapai tujuan terapi HIV dan perawatan bayi yang optimal.[10,11]
Ibu dengan HIV yang menyusui bayinya perlu diberikan edukasi bahwa menyusui memiliki manfaat penting bagi pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan jangka panjang bayi. ASI dapat menurunkan risiko malnutrisi, diare, dan infeksi lain yang meningkatkan morbiditas serta mortalitas bayi. Selain itu, ibu juga perlu memahami bahwa menyusui memberikan manfaat kesehatan bagi dirinya sendiri, seperti penurunan risiko kanker payudara dan depresi.
Edukasi juga harus menekankan pentingnya memulai dan mematuhi terapi ARV secara konsisten sebelum, selama, dan setelah kehamilan untuk mencapai supresi viral load, karena penekanan viral load merupakan cara utama menurunkan risiko transmisi HIV kepada bayinya.
Ibu juga perlu diinformasikan mengenai pentingnya pemantauan viral load berkala, kepatuhan pemberian profilaksis ARV pada bayi sesuai anjuran, serta mencari dukungan tenaga kesehatan atau konselor laktasi apabila mengalami kesulitan selama menyusui agar keberhasilan terapi dan kecukupan nutrisi bayi tetap terjaga.[5]
Kesimpulan
Praktik menyusui pada ibu dengan HIV membawa kekhawatiran terkait penularan virus ke bayi yang disusui. Meski demikian, beberapa studi telah menunjukkan bahwa risiko penularan vertical saat menyusui bisa ditekan dengan memastikan viral load ibu terkontrol, yakni dengan konsumsi terapi antiretroviral (ARV) pada ibu dan pemberian profilaksis pada bayi.
WHO sendiri sudah merekomendasikan ibu dengan HIV untuk menyusui bayinya apabila menjalani terapi ARV adekuat. Menyusui dianjurkan eksklusif setidaknya selama 6 bulan, dan bisa diteruskan hingga 24 bulan atau lebih dengan disertai makanan pendamping. Penting untuk diingat bahwa petugas kesehatan juga harus memberikan dukungan dan edukasi yang adekuat demi memastikan tidak terjadi penularan virus ke bayi, nutrisi bayi adekuat, dan ibu menjalani terapi ARV sesuai pedoman.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
