Meresepkan Beta Blocker untuk Palpitasi: Apa Saja Pertimbangannya?

Oleh :
dr.Nurh Syada

Palpitasi atau sensasi jantung berdetak cepat atau berdebar keras sering dijumpai dalam praktik klinis, namun pemberian obat beta blocker tanpa indikasi yang jelas memiliki risiko. Pahami pertimbangan klinis dalam penggunaan beta blocker untuk menangani palpitasi, termasuk bukti ilmiah dan risiko terapinya sebelum meresepkan obat tersebut kepada pasien yang mengalami palpitasi.[1]

Palpitasi merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktik klinis. Pasien umumnya menggambarkannya sebagai sensasi jantung berdebar, berdetak cepat atau kuat, maupun berdenyut dengan irama yang tidak teratur. Meskipun sebagian besar kasus tidak berbahaya, palpitasi juga dapat menjadi manifestasi awal gangguan irama jantung maupun penyakit sistemik yang memerlukan penanganan khusus.[1]

Meresepkan Beta Blocker untuk Palpitasi Apa Saja Pertimbangannya

Dalam praktik klinis, beta blocker seperti bisoprolol terkadang diresepkan untuk mengurangi keluhan palpitasi, termasuk pada pasien dewasa muda yang belum menjalani pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) atau evaluasi penyebab palpitasi.

Namun, apakah pemberian beta blocker secara empiris pada pasien dengan palpitasi tanpa diagnosis yang jelas didukung oleh bukti ilmiah?

Palpitasi Merupakan Gejala, Bukan Diagnosis

Palpitasi dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari respons fisiologis hingga aritmia yang berpotensi membahayakan jiwa.

Penyebab yang sering ditemukan meliputi:

  • Takikardia sinus akibat aktivitas fisik, stres, dehidrasi, atau konsumsi kafein
  • Gangguan kecemasan
  • Premature atrial contractions (PAC) dan premature ventricular contractions (PVC)
  • Supraventricular tachycardia (SVT)
  • Hipertiroidisme
  • Anemia
  • Gangguan elektrolit
  • Kelainan struktural maupun gangguan konduksi jantung

Pada pasien dewasa muda, palpitasi sering kali tidak berkaitan dengan penyakit jantung serius. Namun, usia muda tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk mengeksklusi aritmia atau kelainan jantung.[1,2]

Oleh karena itu, tata laksana palpitasi sebaiknya ditujukan pada penyebab yang mendasarinya, bukan hanya mengurangi sensasi jantung berdebar.

Apakah Beta Blocker Efektif untuk Mengatasi Palpitasi?

Beta blocker bekerja dengan menghambat efek stimulasi adrenergik pada jantung, sehingga menurunkan frekuensi denyut jantung dan memperlambat konduksi melalui nodus atrioventrikular.

Obat golongan ini memiliki manfaat yang telah diketahui pada beberapa jenis aritmia. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada diagnosis yang mendasari keluhan palpitasi.

Premature Ventricular Contractions (PVC)

Pedoman European Society of Cardiology (ESC) tahun 2022 menyatakan bahwa beta blocker dapat digunakan untuk mengurangi gejala pada pasien dengan PVC idiopatik yang simptomatik.

Namun, rekomendasi tersebut terutama didasarkan pada penelitian berskala kecil dan studi non acak. Penggunaan beta blocker juga tidak selalu diperlukan pada PVC dengan gejala minimal dan tanpa penyakit jantung struktural.[3]

Supraventricular Tachycardia (SVT)

Beta blocker dapat digunakan pada pasien tertentu dengan SVT untuk mengurangi frekuensi kekambuhan atau mengendalikan gejala.

Meskipun demikian, pedoman ESC tahun 2019 juga menyatakan bahwa observasi tanpa terapi farmakologis dapat dipertimbangkan pada pasien dengan episode SVT yang jarang, singkat, dan menimbulkan gejala minimal.

Pada pasien dengan SVT berulang yang simptomatik, ablasi kateter dapat menjadi pilihan terapi definitif.[4]

Inappropriate Sinus Tachycardia

Pada pasien dengan inappropriate sinus tachycardia (IST), beta blocker terkadang digunakan untuk mengurangi frekuensi denyut jantung.

Namun, efektivitasnya tidak selalu memuaskan dan dosis yang diperlukan dapat menimbulkan efek samping, terutama kelelahan kronis dan penurunan toleransi aktivitas fisik.

Pedoman ESC merekomendasikan modifikasi gaya hidup dan penghindaran faktor pencetus sebelum mempertimbangkan terapi farmakologis.[4]

Palpitasi Tanpa Diagnosis Aritmia

Hingga saat ini, belum terdapat bukti berkualitas tinggi yang menunjukkan bahwa pemberian bisoprolol atau beta blocker lain secara rutin pada pasien dewasa muda dengan palpitasi intermiten tanpa diagnosis yang jelas dapat memperbaiki luaran klinis jangka panjang.

Sebagian besar penelitian mengenai beta blocker dilakukan pada pasien dengan diagnosis aritmia tertentu, bukan pada pasien dengan keluhan palpitasi yang belum dievaluasi.[1,3,4]

Dengan demikian, penggunaan bisoprolol secara empiris untuk semua pasien dengan palpitasi tidak memiliki dasar bukti ilmiah yang kuat.

Risiko Jangka Pendek Penggunaan Beta Blocker

Meskipun bisoprolol merupakan beta blocker yang relatif selektif terhadap reseptor beta-1, obat ini tetap dapat menyebabkan efek samping kardiovaskular maupun sistemik.

Efek samping yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Bradikardia: Penurunan frekuensi denyut jantung yang berlebihan dapat menyebabkan pusing, presinkop, atau sinkop.

  • Hipotensi: Terutama pada pasien dewasa muda yang memiliki tekanan darah normal-rendah.
  • Kelelahan: Penurunan respons adrenergik dapat menyebabkan rasa lemas dan penurunan toleransi aktivitas.
  • Penurunan kapasitas olahraga: Beta blocker menghambat peningkatan frekuensi denyut jantung yang normal selama aktivitas fisik.
  • Gangguan konduksi jantung: Dapat memperburuk disfungsi nodus sinus atau blok atrioventrikular yang sebelumnya tidak terdiagnosis.
  • Bronkospasme: Tetap dapat terjadi pada pasien dengan asma, meskipun risiko bisoprolol lebih rendah dibandingkan beta blocker nonselektif.[3,5]

Pada pasien tanpa indikasi yang jelas, efek samping tersebut dapat menyebabkan kerugian klinis tanpa adanya manfaat terapi yang terbukti.

Risiko pada Pasien dengan Gangguan Konduksi yang Belum Terdiagnosis

Salah satu risiko penting pemberian beta blocker tanpa pemeriksaan EKG adalah kemungkinan adanya gangguan konduksi jantung yang belum diketahui.

Sebagai contoh, pasien dengan sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) dapat mengalami episode takiaritmia akibat adanya jalur konduksi aksesori.

Pada kondisi fibrilasi atrium dengan preeksitasi, penggunaan obat yang menghambat konduksi nodus atrioventrikular, termasuk beta blocker, merupakan kontraindikasi karena dapat meningkatkan risiko fibrilasi ventrikel.[4]

Perlu diperhatikan bahwa risiko ini spesifik pada fibrilasi atrium dengan preeksitasi dan tidak berarti beta blocker selalu dikontraindikasikan pada seluruh pasien dengan sindrom WPW.

Meskipun komplikasi tersebut jarang terjadi, kondisi ini menunjukkan pentingnya identifikasi gangguan irama sebelum memulai terapi yang mempengaruhi konduksi jantung.

Risiko Penggunaan Beta Blocker Jangka Panjang

Pada pasien dengan indikasi yang tepat, beta blocker telah digunakan secara luas dan umumnya memiliki profil keamanan yang baik.

Namun, penggunaan jangka panjang tanpa indikasi yang jelas dapat menimbulkan sejumlah masalah.

Penurunan Toleransi Aktivitas Fisik

Beta blocker mengurangi peningkatan frekuensi denyut jantung sebagai respons terhadap aktivitas fisik.

Pada pasien dewasa muda yang aktif, efek ini dapat menyebabkan kelelahan saat berolahraga dan penurunan kapasitas latihan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup meskipun pasien tidak memiliki penyakit jantung yang mendasari.[4,5]

Gangguan Seksual dan Metabolik

Disfungsi seksual dilaporkan pada sebagian pasien yang menggunakan beta blocker, meskipun besar risikonya berbeda antar obat dan hubungan kausalnya tidak selalu konsisten.

Beta blocker juga dapat menyamarkan gejala adrenergik hipoglikemia, terutama takikardia dan tremor. Efek metabolik lainnya bervariasi menurut jenis beta blocker.[5]

Gejala Rebound Setelah Penghentian

Penghentian beta blocker secara mendadak setelah penggunaan rutin dapat menyebabkan peningkatan aktivitas simpatis, sehingga menimbulkan takikardia dan palpitasi rebound.

Pada pasien dengan penyakit jantung tertentu, penghentian mendadak juga dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.

Oleh karena itu, pasien yang telah menggunakan beta blocker secara teratur sebaiknya tidak menghentikan obat secara mendadak tanpa evaluasi dokter.[5]

Risiko Keterlambatan Diagnosis

Salah satu kekhawatiran utama penggunaan beta blocker secara empiris adalah berkurangnya gejala tanpa penanganan penyebab yang mendasari.

Sebagai contoh, pasien dengan palpitasi akibat anemia atau hipertiroidisme mungkin mengalami penurunan frekuensi denyut jantung setelah mendapatkan bisoprolol. Namun, penyakit yang mendasarinya tetap belum ditangani.

Perbaikan gejala setelah pemberian beta blocker juga tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa palpitasi disebabkan oleh aritmia jinak.

Pemeriksaan yang Dianjurkan Sebelum Pemberian Beta Blocker

Evaluasi awal pasien dengan palpitasi harus mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penilaian faktor risiko kardiovaskular.

Anamnesis perlu mencakup frekuensi dan durasi palpitasi, onset mendadak atau bertahap, faktor pencetus, penggunaan obat atau stimulan, serta gejala penyerta seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, atau sinkop.

Riwayat penyakit jantung dan kematian jantung mendadak dalam keluarga juga perlu ditanyakan.[1,2]

Elektrokardiografi (EKG)

Pemeriksaan EKG 12 sadapan direkomendasikan sebagai bagian dari evaluasi awal semua pasien dengan palpitasi.

EKG dapat membantu mengidentifikasi gangguan irama, kelainan konduksi, tanda preeksitasi, serta beberapa kelainan yang mengarah pada penyakit jantung struktural.

Rekomendasi ini terutama didasarkan pada konsensus klinis dan pendapat ahli, tetapi tetap menjadi bagian penting dari pendekatan diagnostik standar.[1]

Hasil EKG yang normal tidak sepenuhnya mengeksklusi aritmia intermiten.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dilakukan berdasarkan temuan klinis.

Darah lengkap dapat dipertimbangkan apabila terdapat kecurigaan anemia, sedangkan pemeriksaan thyroid-stimulating hormone (TSH) dan free T4 dilakukan apabila terdapat gejala hipertiroidisme, takikardia persisten, atau indikasi klinis lainnya.

Pemeriksaan elektrolit juga dapat diperlukan pada pasien dengan kecurigaan gangguan metabolik atau aritmia tertentu.[1,2]

Holter Monitoring dan Ekokardiografi

Pada pasien dengan palpitasi berulang yang belum dapat dijelaskan, pemantauan EKG ambulatory dapat membantu mengidentifikasi hubungan antara gejala dan gangguan irama.

Holter 24–48 jam lebih sesuai untuk keluhan yang terjadi setiap hari. Pada palpitasi yang lebih jarang, pemantauan dengan durasi lebih panjang dapat meningkatkan sensitivitas dalam mendeteksi aritmia.[1,6]

Ekokardiografi dianjurkan apabila terdapat temuan anamnesis, pemeriksaan fisik, atau EKG yang menimbulkan kecurigaan terhadap penyakit jantung struktural.

Dengan demikian, tidak semua pasien memerlukan Holter, ekokardiografi, dan pemeriksaan tiroid sebelum mendapatkan terapi. Pemeriksaan lanjutan perlu disesuaikan dengan indikasi klinis.

Kapan Pasien dengan Palpitasi Perlu Dirujuk?

Pasien dengan palpitasi yang disertai sinkop, nyeri dada yang mengarah pada iskemia, sesak nafas berat, ketidakstabilan hemodinamik, atau takiaritmia menetap memerlukan evaluasi segera di instalasi gawat darurat.

Riwayat sinkop saat aktivitas, kematian jantung mendadak dalam keluarga, atau temuan EKG yang mencurigakan juga memerlukan evaluasi kardiologi lebih lanjut.[1,2]

Pada pasien tanpa tanda bahaya, pemeriksaan dapat dilakukan secara rawat jalan sesuai tingkat risiko dan frekuensi keluhan.

Bagaimana Pendekatan pada Praktik Telemedisin?

Dalam konsultasi telemedisin, dokter sering kali tidak memiliki akses langsung terhadap pemeriksaan EKG atau pemeriksaan fisik lengkap.

Kondisi ini meningkatkan pentingnya anamnesis terstruktur, identifikasi tanda bahaya, dan penentuan kebutuhan pemeriksaan tatap muka.

Pada pasien dewasa muda dengan palpitasi intermiten tanpa diagnosis sebelumnya, pemberian bisoprolol sebaiknya tidak menjadi terapi rutin hanya berdasarkan keluhan subjektif jantung berdebar.

Pada pasien tanpa faktor risiko jantung yang tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami episode palpitasi yang sangat singkat dan tidak sering berulang, pemberian penjelasan yang menenangkan serta edukasi untuk kembali memeriksakan diri jika muncul gejala yang berulang atau mengkhawatirkan sudah dianggap cukup.

Dokter dapat memberikan edukasi mengenai pengurangan konsumsi kafein, penghentian stimulan, kecukupan cairan, pola tidur, dan pengelolaan stres apabila sesuai dengan kondisi klinis pasien.

Pemeriksaan EKG dan evaluasi tatap muka sebaiknya dianjurkan sebelum memulai terapi beta blocker, terutama apabila keluhan berulang atau mengganggu aktivitas.

Pada pasien yang telah memiliki diagnosis aritmia dan sebelumnya mendapatkan beta blocker, keputusan untuk melanjutkan pengobatan perlu mempertimbangkan diagnosis, respons terapi, tekanan darah, frekuensi denyut jantung, kontraindikasi, serta rencana pemantauan.

Kesimpulan

Beta blocker seperti bisoprolol memiliki manfaat yang didukung pedoman klinis untuk beberapa jenis aritmia, termasuk SVT dan PVC simptomatik pada pasien tertentu.

Namun, belum terdapat bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung pemberian bisoprolol secara rutin pada pasien dewasa muda dengan palpitasi intermiten tanpa evaluasi penyebab yang mendasari.

Penggunaan beta blocker tanpa indikasi yang jelas dapat menimbulkan bradikardia, hipotensi, kelelahan, penurunan toleransi aktivitas, serta risiko keterlambatan diagnosis penyakit yang mendasari.

Pemeriksaan EKG 12 sadapan merupakan bagian penting dari evaluasi awal palpitasi. Pemeriksaan lanjutan seperti Holter monitoring, ekokardiografi, dan fungsi tiroid dilakukan sesuai indikasi klinis.

Dalam praktik dokter umum maupun telemedisin, pendekatan yang lebih tepat adalah mengidentifikasi penyebab palpitasi, menyingkirkan kondisi berbahaya, dan memberikan terapi berdasarkan diagnosis atau indikasi klinis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Palpitasi tidak selalu memerlukan pengobatan. Pada banyak pasien dewasa muda, evaluasi yang tepat, reassurance, dan modifikasi faktor pencetus lebih bermanfaat dibandingkan pemberian beta blocker jangka panjang tanpa indikasi yang jelas.

Referensi