Opsi analgesik untuk nyeri herpes bervariasi tergantung dari derajat nyerinya. Secara umum, modalitas penatalaksanaan nyeri herpes dapat dibagi menjadi terapi akut dan terapi post herpetic neuralgia.
Herpes zoster atau yang sering disebut shingles adalah penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster yang di dapat dari pajanan infeksi varicella primer sebelumnya. Faktor yang bisa memicu reaktivasi dari virus ini adalah turunnya imunitas tubuh, seperti pada kasus HIV, kemoterapi, malignansi, ataupun pada penggunaan kortikosteroid jangka panjang.
Reaktivasi virus varicella-zoster dari dorsal root ganglia akan menimbulkan gejala yang khas, yaitu ruam herpetiform yang menyebar sesuai garis dermatom disertai nyeri. Rasa nyeri bisa dirasakan seperti rasa terbakar yang dapat bertahan beberapa hari hingga beberapa bulan walaupun ruam sudah hilang (post herpetic neuralgia).[1-3]
Penatalaksanaan Nyeri Akut
Terapi nyeri akut pada herpes zoster bertujuan untuk mengurangi keparahan ruam, periode infeksius, dan risiko mengalami post herpetic neuralgia (PHN). Penggunaan antivirus dan kortikosteroid diduga bisa mencegah PHN, tetapi bukti yang mendukung asumsi ini masih terbatas.[1-8]
Antivirus
Pada awalnya, antiviral digunakan untuk mempercepat proses hilangnya ruam. Namun, terdapat studi yang menunjukkan bahwa antiviral juga berguna dalam mengurangi intensitas nyeri dan mencegah post herpetic neuralgia (PHN).
Meski demikian, tinjauan Cochrane terhadap 6 uji klinis dengan total 1211 partisipan menyatakan bahwa pemberian antivirus oral tidak berpengaruh dalam mengurangi intensitas nyeri atau mencegah PHN.[4-6]
Kortikosteroid
Kortikosteroid diberikan pada pasien dengan herpes zoster sebagai terapi tambahan. Prednison merupakan kortikosteroid yang biasa diberikan bersamaan dengan acyclovir karena dipercaya dapat mengurangi nyeri dengan mengurangi derajat neuritis yang disebabkan oleh infeksi dan mengurangi kerusakan pada saraf yang terkena.[1,7]
Meski demikian, tinjauan Cochrane menyatakan bahwa bukti ilmiah yang tersedia masih tidak adekuat untuk mendukung pemberian kortikosteroid pada herpes zoster dengan tujuan pencegahan PHN.[8]
Analgesik
Herpes zoster dengan nyeri ringan hingga sedang dapat diatasi dengan analgesik non-narkotik, seperti paracetamol dan golongan obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen. Pada nyeri derajat sedang atau berat, mungkin memerlukan opioid. Jika nyeri tidak teratasi, dapat digunakan antikonvulsan, antidepresan trisiklik, atau blok saraf.[7]
- Paracetamol 1000 mg per oral setiap 4-6 jam, dosis maksimal 4000 mg/hari
- Ibuprofen 400 mg per oral setiap 4-6 jam, dosis maksimal 2400 mg/hari.[3,7]
Penatalaksanaan Nyeri Post Herpetic Neuralgia
Post herpetic pain atau post herpetic neuralgia (PHN) adalah nyeri neuropatik kronik yang berlangsung setidaknya selama satu bulan pada dermatom jaras saraf yang terinfeksi, dengan onset antara 1-6 bulan setelah ruam kulit membaik dan bisa berlangsung selama bertahun-tahun.[1-3,7,9]
Antidepresan Trisiklik
Antidepresan trisiklik (tricyclic antidepressants/TCA) seperti amitriptyline, nortriptyline, dan desipramine bekerja dengan menghambat reuptake norepinefrin dan serotonin di medula spinalis sehingga menekan transmisi nyeri neuropatik. Obat ini efektif untuk berbagai tipe nyeri neuropatik, termasuk PHN.
Dosis analgesik umumnya lebih rendah dibanding dosis antidepresan, tetapi efek dapat baru muncul dalam beberapa hari hingga minggu. Penggunaan TCA perlu hati-hati terutama pada pasien usia lanjut karena efek samping seperti sedasi, hipotensi ortostatik, retensi urin, gangguan memori, aritmia, dan xerostomia.
- Amitriptyline dapat diberikan dalam dosis inisial 10-25 mg per oral sesaat sebelum tidur, bisa dititrasi 10-25 mg per minggu hingga target dosis 75-150 mg/hari.[1,3,7]
Antikonvulsan
Gabapentin dan pregabalin memiliki efek analgesik neuropatik yang baik dan relatif aman. Kedua obat ini bekerja dengan berikatan pada subunit α2δ kanal kalsium bergantung tegangan di sistem saraf pusat sehingga mengurangi pelepasan neurotransmiter eksitatorik dan menekan transmisi nyeri neuropatik.
Efek samping utama meliputi somnolensi, pusing, sedasi, dan pada kombinasi dengan opioid dapat meningkatkan risiko depresi napas. Penghentian obat harus dilakukan secara bertahap untuk mencegah withdrawal seizure. Pada pasien diabetes diperlukan pemantauan glukosa darah karena dapat memengaruhi kebutuhan insulin.
- Gabapentin 300-600 mg per oral, 3 kali sehari
- Pregabalin 150-300 mg per oral per hari, dalam 2-3 dosis terbagi.[1,3,7,10]
Terapi Topikal
Terapi topikal dapat digunakan terutama pada pasien usia lanjut atau pasien yang tidak toleran terhadap efek samping sistemik. Lidocaine patch 5% sering direkomendasikan karena profil efek sampingnya ringan, meskipun bukti efikasinya tidak sekuat terapi sistemik. Lidocaine terutama bermanfaat untuk nyeri lokal dengan allodynia ringan hingga sedang.
Selain itu, capsaicin juga dapat digunakan, baik dalam bentuk krim konsentrasi rendah maupun patch capsaicin 8%. Capsaicin bekerja melalui stimulasi dan desensitisasi serabut nociceptif perifer sehingga menurunkan transmisi nyeri. Patch capsaicin 8% dilaporkan memberikan perbaikan nyeri dan kualitas tidur, tetapi aplikasinya sering menimbulkan sensasi terbakar pada awal terapi sehingga biasanya memerlukan anestesi topikal sebelum pemasangan.[1,3,7,11]
Opioid
Opioid seperti oxycodone atau tramadol dapat dipertimbangkan pada pasien dengan nyeri berat yang tidak terkontrol oleh terapi lain. Namun penggunaannya harus hati-hati karena bukti efektivitas jangka panjang pada nyeri neuropatik masih terbatas dan terdapat risiko sedasi, konstipasi, ketergantungan, serta depresi napas, terutama bila dikombinasikan dengan gabapentin atau pregabalin.[1,3,7]
Kesimpulan
Pemberian analgesik untuk penatalaksanaan nyeri akut pada herpes zoster tergantung pada derajat nyeri. Nyeri derajat ringan-sedang dapat diterapi dengan paracetamol dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Pada kasus nyeri sedang-berat, opioid mungkin diperlukan.
Pada kasus post herpetic neuralgia (PHN), antidepresan trisiklik seperti amitriptyline, antikonvulsan seperti pregabalin dan gabapentin, serta terapi topikal dengan patch lidocaine atau capsaicin bisa digunakan.
Penggunaan antivirus pada nyeri akut dilaporkan dapat mempercepat hilangnya ruam, mengurangi derajat nyeri, dan mencegah PHN. Namun, tinjauan Cochrane melaporkan hasil yang tidak mendukung hal tersebut.
Kortikosteroid juga sering digunakan sebagai penatalaksanaan tambahan untuk mengatasi nyeri akut herpes zoster, tetapi tinjauan Cochrane menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid jangka pendek tidak terbukti efektif dalam mengurangi intensitas nyeri maupun mencegah PHN.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
