Pemberian oksigen yang tidak pada tempatnya harus dihindari karena justru menyebabkan bahaya bagi pasien. Hal ini diakibatkan oleh peningkatan reactive oxygen species yang terjadi pada penggunaan oksigen yang tidak perlu. Sudah saatnya oksigen diperlakukan sebagai obat yang membutuhkan indikasi dan dosis yang jelas.
Oksigen sering diberikan tanpa melihat tingkat saturasi oksigen pasien. Pemberian oksigen seperti ini dianggap dapat mencegah perburukan penyakit. Namun, hal ini justru disangkal oleh beberapa penelitian terbaru. Penggunaan oksigen pada penyakit akut, termasuk penggunaan pada sindrom koroner akut, yang tidak pada tempatnya justru meningkatkan mortalitas pasien.[1,2]
Indikasi Pemberian Oksigen
Terapi oksigen merupakan pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih besar dibandingkan udara sekitar dengan tujuan memperbaiki atau mencegah gejala dan manifestasi dari hipoksia. Hal ini dapat dilakukan di antaranya menggunakan nasal kanul, masker sederhana, dan masker non-rebreathing.
Tujuan dari terapi oksigen adalah untuk mengobati atau mencegah hipoksemia sehingga mencegah hipoksia jaringan yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan ataupun kematian sel. Namun, pemberian yang tidak sesuai indikasi justru akan menyebabkan dampak sebaliknya.[3,4]
Indikasi dari terapi oksigen antara lain:
- Hipoksemia: penurunan PaO2 pada darah di bawah nilai normal. PaO2 <60 atau SaO2 <90% pada pasien yang menghirup udara ruangan, atau dengan PaO2 dan atau SaO2 di bawah nilai yang dinginkan pada situasi klinis spesifik
- Terapi jangka pendek seperti pada keracunan karbon monoksida atau pemulihan setelah anestesi
- Absorbsi pneumothorax
- Pasien sesak napas (laju napas di atas 20 kali/menit) yang saturasi oksigennya masih normal
- Pasien dengan risiko hipoksia jaringan, misalnya pasien asidosis metabolik atau sepsis.[4]
Indikasi Pemberian Oksigen Jika Saturasi Oksigen Tidak Dapat Ditentukan
Salah satu indikasi terapi oksigen adalah keadaan akut yang dicurigai terjadi hipoksia. Hipoksia pada umumnya dinilai dengan pulse oximetry atau analisis gas darah. Namun, bila keduanya tidak tersedia atau sulit dilakukan, maka hipoksia dapat dicurigai dari gejala dan tanda dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Gejala dan tanda dari hipoksia:
- Manifestasi neurologis (restlessness,ansietas, bingung, kejang atau koma)
- Sianosis, kulit dan membran mukus berubah warna menjadi pucat atau kebiruan
- Takipnea dan dispnea.[5]
Pengaruh Terapi Oksigen yang Tidak Tepat
Pemberian terapi oksigen yang berlebih dan tidak sesuai indikasi dapat menyebabkan hiperoksemia, sehingga terjadi peningkatan jumlah reactive oxygen species (ROS). Peningkatan ROS ini akan menyebabkan terjadinya stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan hingga kematian sel.[6]
Memperpanjang Lama Rawat Inap
Pada pasien yang dirawat di ICU, pemberian oksigen dengan target 94-98% dilaporkan menghasilkan lama rawat inap lebih cepat >3 hari bila dibandingkan pasien yang mendapat target lebih tinggi (97-100%).[7]
Selain itu, pada pasien dengan risiko hiperkapnia, penggunaan oksigen berlebihan juga sering ditemukan. Pada populasi pasien ini, penggunaan oksigen berlebih telah dikaitkan dengan peningkatan risiko harm, memperbesar biaya medis, dan memperpanjang lama rawat inap.[8]
Memperburuk Perjalanan Penyakit
Hiperoksemia dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah jantung. Maka pemberian oksigen yang berlebih pada infark akut justru dapat menyebabkan hantaran oksigen menuju otot jantung terganggu.
Pemberian oksigen high-flow justru dapat menyebabkan peningkatan gangguan reperfusi, luas dari infark, dan mortalitas pada infark miokard akut. Hal serupa juga diduga terjadi pada aliran darah serebral pasien stroke.[6,9]
Meningkatkan Mortalitas
Peningkatan mortalitas telah dilaporkan pada pemberian oksigen pasca henti jantung, stroke akut, trauma otak, infark miokard akut, pasca resusitasi neonatal, dan pasien dengan keadaan kritis yang tidak disertai hipoksia.[7,10]
Pada pasien anak yang dirawat di ICU dan memerlukan ventilasi mekanik, penggunaan oksigen berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan disfungsi organ multipel. Selanjutnya, hal ini juga akan berkaitan dengan peningkatan mortalitas.[11]
Target Terapi Oksigen
Target terapi oksigen setiap pasien akan berbeda-beda tergantung dengan kondisi klinis, penyakit yang mendasari, serta respons pasien, dan kebutuhan terapi oksigen perlu dipantau secara berkala menggunakan pulse oximetry. Secara garis besar, target utama terapi oksigen adalah memperbaiki hipoksemia dan memastikan jaringan mendapat suplai oksigen yang adekuat tanpa menimbulkan hiperoksia.
Pada sebagian besar pasien dewasa, target saturasi oksigen adalah 94–98%. Namun, target lebih rendah bisa diterapkan, misalnya pada pasien dengan risiko retensi CO₂ seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) untuk mencegah asidosis respiratorik.
Terapi oksigen umumnya dapat dihentikan bila kondisi klinis pasien membaik dan target saturasi dapat dipertahankan tanpa oksigen tambahan (saat bernapas dengan udara ruangan), baik saat istirahat maupun aktivitas ringan. Dokter perlu menghilangkan dogma bahwa terapi oksigen selalu berdampak positif pada pasien, karena penggunaan oksigen yang tidak tepat justru bisa menyebabkan perburukan klinis, gagal organ, hingga kematian.[6,12,13]
Kesimpulan
Pemberian oksigen yang tidak sesuai indikasi justru akan menimbulkan bahaya bagi pasien, yaitu memperpanjang lama rawat inap, memperburuk perjalanan penyakit, hingga menyebabkan mortalitas. Indikasi pemberian oksigen adalah adanya hipoksemia, atau kondisi khusus seperti pneumothorax dan keracunan karbon monoksida.
Oksigen diberikan sampai target terapi tercapai. Target terapi oksigen akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi klinis, penyakit yang mendasari, dan respon pasien. Secara umum, oksigen digunakan untuk mengatasi hipoksemia dan memastikan jaringan mendapat suplai oksigen yang adekuat tanpa menimbulkan hiperoksia. Pada kondisi khusus, seperti pasien dengan risiko hiperkapnia, penggunaan target terapi yang lebih rendah harus dilakukan.
Pastikan bahwa terapi oksigen hanya digunakan sesuai indikasi klinis. Hentikan terapi oksigen jika sudah tidak diperlukan. Hapus dogma bahwa pemberian oksigen tidak membawa harm karena penggunaan oksigen yang tidak pada tempatnya justru bisa menimbulkan bahaya bagi pasien, termasuk meningkatkan risiko kematian.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
