Pemeriksaan Mamografi Tidak Menurunkan Angka Mortalitas Kanker Payudara

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Rekomendasi pemeriksaan rutin atau skrining mamografi setiap tahun perlu dikaji ulang. Hasil beberapa studi mengindikasikan bahwa tindakan skrining mamografi secara rutin tidak menurunkan mortalitas kanker payudara, malah justru dapat meningkatkan risiko overdiagnosis dan overtreatment. Pemeriksaan mamografi saat ini merupakan pemeriksaan utama untuk diagnosis kanker payudara.

Kanker payudara merupakan kanker pada wanita yang paling banyak ditemukan di dunia dan berkaitan dengan mortalitas signifikan. Insiden kanker payudara semakin menurun terutama di negara-negara maju, termasuk penurunan angka kematiannya.  Ini dipercaya karena peningkatan kesadaran masyarakat untuk skrining, dan semakin baiknya manajemen pasien kanker payudara termasuk kecepatan deteksi, intervensi, dan penanganan pascaoperasi.[1-4]

Pemeriksaan Mamografi Tidak Menurunkan Angka Mortalitas Kanker Payudara

Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa skrining mamografi pada wanita usia 40‒74 tahun dapat menurunkan mortalitas kanker payudara sebanyak 25‒31%. Namun, ada pula penelitian yang menemukan bahwa tidak terjadi perubahan angka kematian signifikan pada kelompok yang menjalani skrining mamografi dibandingkan skrining pemeriksaan fisik.[2,5,6]

Peran Mamografi pada Kanker Payudara

Sebelum penggunaan mamografi dijadikan sebagai modalitas diagnosis, kanker payudara didiagnosis dengan pemeriksaan fisik payudara termasuk palpasi. Hal ini diduga berhubungan dengan prognosis buruk dari kanker payudara saat itu, yang mana dikaitkan dengan keterlambatan deteksi penyakit.[3,4]

Mamografi merupakan salah satu jenis pencitraan X-ray khusus untuk melihat gambaran payudara. Saat prosedur mamografi, dilakukan kompresi payudara menjadi datar sehingga dapat memperlihatkan kelenjar secara maksimal. Apabila terdapat lesi ireguler, batas tidak tegas, serta memiliki hiperdensitas (mikrokalsifikasi), maka perlu dicurigai sebagai lesi maligna dan perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi.[3,4,7]

Rasionalisasi pemeriksaan mamografi sebagai skrining bertujuan untuk mendeteksi kanker payudara ketika masih kecil dan belum dapat dipalpasi pada pemeriksaan fisik. Walau begitu, ada pula ahli yang berpendapat bahwa mamografi baru bisa mendeteksi kanker payudara ketika sudah terlambat (ukuran sudah cukup besar, yakni 16-21 mm).[1]

US Preventive Services Task Force menyarankan skrining mamografi setiap 2 tahun sekali sejak usia 40 tahun. Sementara itu, American Cancer Society menganjurkan agar wanita dengan tingkat risiko rerata (average) menjalani skrining kanker payudara dengan mamografi setiap tahun sejak usia 45 tahun hingga 54 tahun.[8,9]

Efek Skrining Mamografi terhadap Mortalitas Kanker Payudara

Moller et al melakukan studi kohort populasi untuk melihat efek dari skrining mamografi pada mortalitas kanker payudara. Pada studi ini, ditemukan penurunan mortalitas kanker payudara baik pada kelompok wanita yang dilakukan skrining mamografi maupun pada kelompok yang tidak dilakukan skrining mamografi. Penurunan mortalitas tersebut tidak berbeda secara signifikan di antara kedua kelompok.

Hasil ini tampaknya karena semua peserta, baik yang melakukan maupun tidak melakukan skrining mamografi, mendapatkan edukasi sehingga terjadi peningkatan kewaspadaan diri terhadap penyakit kanker payudara. Kondisi tersebut didukung juga dengan berdirinya pusat diagnosis dan terapi kanker payudara di tiap negara yang mengikuti studi.[10]

Meta analisis terhadap 7 penelitian mengenai efikasi skrining mamografi terhadap mortalitas kanker payudara menyatakan bahwa kematian akibat kanker payudara adalah unreliable outcome. Manfaat skrining mamografi terhadap mortalitas dinilai bias, terutama karena kesalahan klasifikasi diferensial penyebab kematian.

Pada 3 penelitian yang melakukan randomisasi adekuat, tidak ditemukan adanya efek skrining pada mortalitas semua kanker, termasuk kanker payudara setelah 10 tahun (RR 1,02) atau pada semua penyebab kematian setelah 13 tahun (RR 0,99). Selain itu, meta analisis ini juga mendapatkan kemungkinan overdiagnosis sebagai konsekuensi dari skrining mamografi yang harmful bagi pasien.

Angka overdiagnosis dan overtreatment pada penelitian-penelitian di dalam meta analisis mencapai 30%. Diagnosis positif palsu berdampak harmful karena menyebabkan stress psikologis bagi pasien, baik saat terdiagnosis maupun bertahun-tahun setelah wanita tersebut dinyatakan bebas dari kanker.[11]

Kesimpulan

Kanker payudara merupakan kanker tersering pada wanita dan dapat menyebabkan kematian. Pemeriksaan mamografi sering dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap tahunnya, untuk mendeteksi kemungkinan kanker payudara.

Namun, hasil dari beberapa penelitian menyatakan bahwa skrining mamografi nyatanya tidak menurunkan mortalitas kanker payudara. Oleh karena itu, rekomendasi skrining kanker payudara dengan mamografi setiap tahun perlu dikaji ulang.  Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti populasi yang sangat membutuhkan skrining mamografi, sehingga tidak terjadi overdiagnosis maupun overtreatment.

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi