Pentingnya Terapi Tuberkulosis pada Kehamilan untuk Mencegah Transmisi ke Janin

Oleh :
Debtia Rahmah

Terapi tuberkulosis (TB) pada kehamilan berbeda dengan terapi tuberkulosis pada populasi lain karena tidak hanya bertujuan untuk menyembuhkan infeksi, tetapi juga mencegah penularan ke janin yang dapat terjadi secara hematogen via vena umbilikalis. Transmisi ke janin juga dapat terjadi melalui aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. Terapi tuberkulosis pada kehamilan juga berperan untuk mencegah komplikasi atau kematian ibu.

Di sisi lain, terdapat potensi teratogenik akibat konsumsi obat antituberkulosis (OAT). Untuk itu, perlu dipertimbangkan pemilihan regimen obat antituberkulosis dengan risiko yang minimal terhadap janin.[1-3]

Pentingnya Terapi Tuberkulosis pada Kehamilan untuk Mencegah Transmisi ke Janin

Pengaruh Tuberkulosis pada Kehamilan

Tuberkulosis (TB) aktif selama kehamilan berhubungan dengan peningkatan risiko berbagai komplikasi maternal dan perinatal, terutama apabila diagnosis dan pengobatan terlambat. Dampaknya dipengaruhi oleh derajat keparahan penyakit, usia kehamilan saat diagnosis, respons terhadap terapi, resistensi obat, serta status HIV.

Dibandingkan kehamilan tanpa TB, ibu hamil dengan TB memiliki risiko lebih tinggi mengalami morbiditas maternal, anemia, preeklamsia, perdarahan postpartum, sepsis, persalinan seksio sesarea, dan kematian maternal. Pada janin dan neonatus, TB maternal dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, gangguan pertumbuhan, fetal distress, asfiksia, dan kematian perinatal.

Suatu meta analisis menunjukkan bahwa TB aktif dapat meningkatkan morbiditas maternal sekitar 3 kali lipat, keguguran sekitar 9 kali lipat, persalinan prematur sekitar 1,7 kali lipat, serta kematian perinatal sekitar 4 kali lipat. TB juga dapat menyebabkan infeksi pada plasenta atau tuberculous chorioamnionitis, terutama pada TB diseminata atau genital.[1,2]

Apakah Kehamilan Meningkatkan Risiko Tuberkulosis?

Dalam hal risiko infeksi TB, beberapa sumber menyatakan bahwa kehamilan tidak secara langsung meningkatkan kerentanan terhadap TB, progresi dari infeksi laten menjadi TB aktif, ataupun mengubah respons terhadap pengobatan. Meski begitu, ada pula sumber lain yang menunjukkan bahwa perubahan imunologis dan fisiologis selama kehamilan dapat berkontribusi terhadap aktivasi penyakit pada individu yang rentan.

Salah satu faktor terpenting yang memperburuk prognosis adalah koinfeksi HIV, karena HIV meningkatkan risiko reaktivasi TB secara bermakna dan menyebabkan penurunan respons imun spesifik terhadap Mycobacterium tuberculosis. Kombinasi TB dan HIV juga meningkatkan risiko kematian maternal dan neonatal serta kemungkinan transmisi vertikal.[1,2]

Keamanan Penggunaan Obat Antituberkulosis Selama Kehamilan

Secara umum, obat antituberkulosis (OAT) lini pertama isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, dan ethambutol dapat digunakan selama kehamilan dan tidak menunjukkan bukti kuat menyebabkan efek teratogenik. Obat yang dikontraindikasikan selama kehamilan adalah etionamid (eto) / protionamid (Pto), amikacin, dan streptomycin.[1,2,4]

Isoniazid dapat menembus plasenta, tetapi tidak berkaitan dengan peningkatan risiko kelainan bawaan. Penggunaannya perlu disertai pemantauan fungsi hati secara berkala karena risiko hepatotoksisitas meningkat selama kehamilan. Selain itu, ibu hamil yang mendapat isoniazid juga perlu mendapat suplementasi piridoksin (vitamin B6) untuk mencegah neuropati perifer pada ibu dan kemungkinan komplikasi neurologis pada bayi.

Rifampicin umumnya aman sepanjang kehamilan, tetapi pemberiannya menjelang persalinan dapat memengaruhi faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K sehingga suplementasi vitamin K pada ibu dan bayi dapat dipertimbangkan.

Pyrazinamide telah dinyatakan aman dalam kehamilan oleh WHO dan berbagai pedoman internasional serta menjadi bagian dari regimen OAT standar, sementara etambutol juga dianggap aman dan tidak terbukti bersifat teratogenik, meskipun fungsi penglihatan tetap perlu dipantau.[1,2]

Regimen Pengobatan Tuberkulosis pada Ibu Hamil

WHO menganjurkan agar ibu hamil, terutama yang tinggal di daerah dengan beban TB tinggi, untuk menjalani skrining pada setiap kontak dengan tenaga kesehatan menggunakan 4 gejala utama, yaitu batuk, keringat malam, demam, dan penurunan berat badan. Bila hasil skrining positif, perlu dilakukan evaluasi klinis dan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut, termasuk pemeriksaan sputum dengan tes molekuler cepat.

Rontgen toraks dapat dilakukan selama kehamilan dengan menerapkan perlindungan terhadap janin karena manfaat diagnosis TB yang akurat lebih besar daripada risiko paparan radiasi. Pemeriksaan tuberculin skin test (TST) atau interferon-gamma release assay (IGRA) juga dapat digunakan untuk menilai paparan TB, meskipun perubahan sistem imun selama kehamilan dapat menyebabkan hasil negatif palsu.[5]

Prinsip Terapi Tuberkulosis pada Kehamilan

Pada ibu hamil dengan TB sensitif obat, terapi standar diberikan tanpa penundaan, yaitu isoniazid, rifampicin, ethambutol, dan pyrazinamide selama 2 bulan, dilanjutkan isoniazid dan rifampicin selama 4 bulan.

Pada TB resisten isoniazid tetapi sensitif rifampicin, regimen dapat mencakup rifampicin, ethambutol, pyrazinamide, dan levofloxacin selama 6 bulan. Meskipun penggunaan fluorokuinolon pada kehamilan sebelumnya dihindari karena kekhawatiran terhadap janin, bukti yang lebih baru menunjukkan bahwa penggunaannya tidak secara mutlak dikontraindikasikan dan perlu dipertimbangkan berdasarkan manfaat serta risiko individual.

Penatalaksanaan TB multidrug-resistant (MDR-TB) dan extensively drug-resistant (XDR-TB) lebih kompleks sehingga memerlukan pemilihan regimen secara individual dan kolaborasi multidisiplin.

Prinsip yang sangat penting diingat adalah terapi TB tidak boleh ditunda hanya karena pasien sedang hamil, karena TB yang tidak diobati dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin yang lebih besar daripada potensi efek samping obat.[5]

Tabel 1. Dosis Obat Antituberkulosis Lini Pertama untuk Ibu Hamil

Obat Dosis Potensi Efek Samping Melintasi Plasenta
Rifampicin (R) 10 mg/kg/hari (maksimum 600 mg/hari) Hepatotoksisitas, interaksi obat, perubahan warna urin Ya
Isoniazid (H) 5 mg/kg/hari (maksimum 300 mg/hari) Hepatotoksisitas, neuropati perifer, ruam kulit Ya
Pyrazinamide (Z) 20-30 mg/kg/hari (maksimum 1500 mg/hari) Hepatotoksisitas, athralgia, mual, ruam kulit Ya
Ethambutol (E) 15-25 mg/kg/hari (maksimum 1200 mg/hari) Neuritis optik, hepatotoksisitas Ya

Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[6]

Tabel 2. Keamanan Berbagai Obat Antituberkulosis Lini Kedua pada Kehamilan

Obat Penggunaan Klinis Penggunaan pada Kehamilan Perhatian Khusus

Levofloxacin /

Moxifloxacin

MDR-TB Bisa dipertimbangkan jika manfaat melebihi risiko Belum ada bukti konsisten teratogenisitas, tetapi ada kekhawatiran terkait risiko toksisitas kartilago yang berasal dari studi hewan.
Bedaquiline MDR-TB Semakin banyak digunakan pada kasus-kasus spesifik. Data keamanan pada kehamilan masih terbatas, serta ada risiko pemanjangan interval QT.
Linezolid MDR-TB Penggunaan harus hati-hati. Membawa risiko toksisitas hematologi, neoropati, dan intoleransi gastrointestinal.
Delamanid MDR-TB Digunakan hanya pada kasus tertentu dengan pertimbangan klinis khusus. Data keamanan pada kehamilan tidak adekuat.
Pretomanid MDR-TB Hindari penggunaan pada ibu hamil. Data keamanan tidak jelas. Wanita hamil dieksklusikan dari penelitian yang menggunakan obat ini.
Aminoglikosida (amikacin, streptomycin, kanamycin) MDR-TB Kontraindikasi pada kehamilan. Risiko ototoksisitas dan nefrotoksisitas fetal.

Ethionamide/

Prothionamide

MDR-TB Kontraindikasi pada kehamilan. Diduga memiliki efek teratogenik.

Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[1,4]

Profilaksis Tuberkulosis pada Kehamilan

Profilaksis tuberkulosis pada kehamilan sebaiknya diberikan pada ibu hamil dengan HIV. Prinsip pemberian tuberculosis preventive treatment (TPT) pada kehamilan adalah memastikan terlebih dulu bahwa ibu tidak sedang mengalami TB aktif, karena TPT ditujukan untuk mencegah perkembangan infeksi TB menjadi penyakit aktif dan bukan untuk mengobati TB yang sudah aktif.

Apabila TB aktif telah disingkirkan, TPT dianjurkan bagi ibu hamil dengan HIV tanpa memandang apakah sedang mendapatkan terapi antiretroviral, derajat imunosupresi atau jumlah CD4. TPT dapat diberikan pada semua trimester kehamilan.

Regimen TPT yang dapat digunakan selama kehamilan meliputi:

  • Isoniazid setiap hari selama 6 bulan (6H)
  • Isoniazid + rifampicin setiap hari selama 3 bulan (3HR), atau
  • Rifampicin setiap hari selama 4 bulan (4R).

Pemeriksaan fungsi hati sebelum memulai terapi dianjurkan apabila memungkinkan, terutama untuk mengidentifikasi faktor risiko hepatotoksisitas, tetapi tidak boleh menjadi hambatan untuk memulai TPT. Pemeriksaan fungsi hati secara rutin selama kehamilan juga tidak diperlukan kecuali terdapat faktor risiko atau gejala yang mengarah pada toksisitas hati.

Regimen yang mengandung rifapentin belum dapat direkomendasikan secara rutin pada kehamilan karena data keamanan dan efektivitasnya masih terbatas. Untuk pencegahan MDR-TB pada ibu hamil dengan HIV, data mengenai regimen yang optimal juga masih terbatas sehingga belum terdapat rekomendasi regimen khusus. Levofloxacin dapat dipertimbangkan secara individual apabila manfaatnya dinilai lebih besar daripada potensi risikonya.[5]

Penanganan Post Partum

Segera lakukan evaluasi klinis pada neonatus yang lahir dari ibu hamil dengan tuberkulosis, terutama apabila ibu mengalami TB paru yang belum terkontrol atau TB diseminata saat persalinan. Bayi yang terpajan TB perlu diskrining untuk menyingkirkan TB kongenital. Adanya TB kongenital perlu dicurigai terutama pada ibu dengan TB milier, TB genital/pelvis, atau keterlibatan plasenta.

Bila TB kongenital telah disingkirkan, bayi dapat diberikan profilaksis isoniazid dan rifampicin sejak lahir selama sekurang-kurangnya 3 bulan, kemudian dilakukan evaluasi dengan uji tubekulin pada usia sekitar 3 bulan. Apabila hasilnya negatif dan TB aktif tetap tidak ditemukan, vaksinasi BCG dapat diberikan. Sebaliknya, bayi yang terbukti menderita TB aktif harus segera mendapat terapi TB sesuai regimen pediatrik.

Jika ibu telah mendapatkan terapi TB yang efektif selama lebih dari 2 bulan sebelum persalinan, profilaksis pada bayi dapat tidak diperlukan dan bayi cukup menjalani pemantauan serta pemeriksaan sesuai indikasi.[1,2,5,6]

Perlu diperhatikan pula bahwa neonatus perlu diberikan vitamin K1 segera setelah lahir untuk menurunkan risiko perdarahan jika ibu mengonsumsi rifampicin selama kehamilan.[7]

Bisakah Ibu dengan Tuberkulosis Menyusui Bayinya?

Menyusui pada ibu dengan TB perlu mempertimbangkan status infeksius ibu dan jenis regimen yang digunakan. Ibu dengan TB yang telah mendapat terapi OAT lini pertama secara efektif selama setidaknya sekitar 2 minggu dan sudah tidak dianggap infeksius pada umumnya dapat menyusui.

Konsentrasi obat lini pertama yang masuk ke dalam ASI sangat rendah dan tidak cukup untuk menimbulkan toksisitas maupun memberikan efek terapi pada bayi, sehingga apabila bayi memerlukan pengobatan TB atau TPT bayi harus mendapat regimen pediatrik tersendiri dengan dosis sesuai berat badan.

Apabila ibu masih menderita TB paru aktif, ibu diminta menggunakan masker saat menyusui untuk mencegah penularan pada bayi.

Pada TB-MDR, penggunaan obat seperti bedaquiline, pretomanid, atau linezolid untuk ibu menyusui tidak dianjurkan karena data keamanan obat-obatan tersebut selama laktasi masih terbatas.[1,2,5,6]

Kesimpulan

Meski ada kekhawatiran terkait efek buruk dari konsumsi obat antituberkulosis (OAT) selama kehamilan, pengobatan tuberkulosis paru pada ibu hamil lebih banyak memberikan manfaat dibandingkan dengan risiko.

Regimen lini pertama yang dianjurkan pada ibu hamil dengan tuberkulosis adalah isoniazid, rifampicin, ethambutol, dan pyrazinamide selama 2 bulan, dilanjutkan isoniazid dan rifampicin selama 4 bulan.

Pada kasus di mana terjadi resistensi terhadap OAT lini pertama, maka terapi perlu mempertimbangkan pola resistensi, keamanan obat, dan skenario klinis masing-masing pasien. Secara umum, OAT yang dikontraindikasikan pada ibu hamil adalah etionamid (eto) / protionamid (Pto), amikacin, dan streptomycin.

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi