Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Karsinoma Sel Renal general_alomedika 2026-06-04T10:04:57+07:00 2026-06-04T10:04:57+07:00
Karsinoma Sel Renal
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Karsinoma Sel Renal

Oleh :
dr.Nailla Fariq Alfiani
Share To Social Media:

Penatalaksanaan karsinoma sel renal atau renal cell carcinoma (RCC) ditentukan berdasarkan stadium tumor, klasifikasi tumor, nodu, metastasis (TNM), kondisi umum pasien, serta stratifikasi risiko menggunakan International Metastatic Renal Cell Carcinoma Database Consortium (IMDC). Pilihan tata laksana mencakup pembedahan, terapi ablasi, maupun terapi sistemik.[1-3]

Terapi Lokal

Pada tumor lokal kecil (cT1a–cT1b, clinical T1a–T1b) yang medically inoperable atau tidak memungkinkan dilakukan pembedahan, terapi ablasi dapat dipertimbangkan. Pilihan termasuk radiofrequency ablation (RFA), cryoablation, atau stereotactic ablative radiotherapy (SABR), Pemilihan jenis terapi lokal didasarkan pada ukuran tumor, lokasi, kondisi ginjal residual, dan komorbiditas pasien.

Ketiga prosedur ini dilakukan dengan panduan pencitraan, baik CT scan atau USG, untuk memastikan penempatan probe yang presisi, menjaga fungsi ginjal, dan meminimalkan komplikasi.[1,3,17]

Radiofrequency Ablation (RFA)

RFA adalah terapi minimal invasif yang menggunakan energi gelombang radio untuk memanaskan dan menghancurkan sel tumor secara fokus, menghasilkan nekrosis koagulan. RFA efektif untuk tumor kecil (≤3 cm), terutama yang terletak di permukaan ginjal atau dekat kapsul ginjal, dan menjadi pilihan utama pada pasien medically inoperable atau dengan komorbid tinggi seperti pasien lansia atau pasien dengan fungsi ginjal terbatas.[1,3,17]

Cryoablation

Cryoablation adalah terapi minimal invasif yang membekukan jaringan tumor melalui siklus pembekuan–pencairan, sehingga menyebabkan nekrosis lokal sel tumor. Terapi ini diperuntukan untuk pasien dengan tumor kecil hingga menengah yang terletak pada struktur vital (misal pelvis ginjal, ureter, atau pembuluh darah utama), dengan risiko perdarahan tinggi.[1-3]

Stereotactic Ablative Radiotherapy (SABR)

SABR adalah teknik radiasi presisi tinggi yang memberikan dosis tinggi secara fraksional ke target tumor dalam 1–5 fraksi, dengan panduan pencitraan untuk memaksimalkan dosis pada lesi sekaligus meminimalkan paparan jaringan sehat.

SABR menjadi pilihan terapi lokal pada pasien dengan komorbid berat seperti gangguan kardiopulmoner, gangguan fungsi ginjal, atau status fisik lemah yang meningkatkan risiko operasi, serta pada tumor yang sulit dijangkau secara bedah seperti yang berlokasi di dekat struktur vital ginjal atau organ sekitarnya.[1-3,18]

Bukti retrospektif dan prospektif menunjukkan bahwa SABR dapat menghasilkan freedom from systemic therapy yang diperpanjang dan kontrol lokal yang baik pada kasus oligometastatik (≤3–5 metastasis) dengan profil toksisitas yang umumnya rendah, serta dapat menunda atau memperpanjang kebutuhan terapi sistemik dalam rentang 9–15 bulan lebih lama.[1-3,18]

Terapi Sistemik

Terapi sistemik merupakan komponen utama pada penyakit lanjut atau metastasis atau pasien dengan progresi penyakit setelah tindakan bedah atau ablasi lokal. Pilihan regimen ditentukan oleh stratifikasi risiko berdasarkan International Metastatic Renal Cell Carcinoma Database Consortium (IMDC).[1-3,18]

Stratifikasi Risiko IMDC

IMDC mengelompokkan pasien menjadi risiko rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan faktor risiko klinis:

  • Kinerja fisik rendah (Karnofsky <80%)
  • Waktu dari diagnosis hingga terapi sistemik <1 tahun
  • Anemia
  • Hiperkalsemia
  • Neutrofilia
  • Trombositopenia.

Pasien dengan 0 faktor risiko dikategorikan sebagai risiko rendah; 1–2 faktor sebagai risiko sedang; dan ≥3 faktor sebagai risiko tinggi. Stratifikasi ini menjadi dasar dalam pemilihan regimen terapi sistemik, termasuk terapi target, imunoterapi, maupun kombinasi keduanya, karena respons terhadap terapi dan prognosis sangat berbeda antar kelompok risiko.[1,2,17]

Tabel 1. Terapi Sistemik Kasus Metastasis

Stratifikasi IMDC Indikasi / Diagnosis Agen / Obat & Dosis Durasi Pemakaian Efek Samping Utama Evaluasi Respons
Rendah–Sedang

Metastatic RCC, IMDC 0–2 faktor risiko

Sunitinib 50 mg/hari, 4 minggu on, 2 minggu off

Hingga progresi penyakit atau toksisitas tidak tolerable

 

 

Fatigue, hipertensi, diare, trombositopenia CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1

Pazopanib

800 mg/hari oral, terus menerus

Hepatotoksisitas, hipertensi, diare CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1

Pembrolizumab + Axitinib

200 mg IV tiap 3 minggu + Axitinib 5 mg 2 kali sehari

Fatigue, hipertensi, diare, hipotiroidisme, hepatitis autoimun CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons
Tinggi

Metastatic RCC, IMDC ≥3 faktor risiko

Nivolumab 240 mg IV tiap 2 minggu + Cabozantinib 40 mg/hari oral Hingga progresi atau toksisitas tidak tolerable

Fatigue, hipertensi, diare, hepatitis autoimun, ruam CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1
Ipilimumab 1 mg/kg + Nivolumab 3 mg/kg IV tiap 3 minggu (4 dosis), kemudian Nivolumab 240 mg IV tiap 2 minggu Fatigue, diare, hepatitis autoimun, ruam, hipotiroidisme CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons
Lini Kedua / Progressi Setelah gagal terapi target atau imunoterapi

Cabozantinib

60 mg/hari oral

Hingga progresi penyakit atau toksisitas

 

Diare, hipertensi, fatigue, trombositopenia CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1

Nivolumab

240 mg IV tiap 2 minggu

Fatigue, ruam, hepatitis autoimun CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons
Lenvatinib 20 mg/hari oral + Pembrolizumab 200 mg IV tiap 3 minggu Hipertensi, diare, fatigue, hipotiroidisme, hepatitis autoimun CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons

Sumber: dr. Nailla, Alomedika, 2026.[1-3,17]

Evaluasi Respon Pengobatan

Evaluasi respons pada pasien karsinoma sel renal metastatik umumnya menggunakan kriteria RECIST 1.1 (Response Evaluation Criteria in Solid Tumors), yang menilai perubahan ukuran lesi target melalui pemeriksaan radiologis seperti CT atau MRI secara berkala, biasanya setiap 12 minggu.[1,2]

RECIST 1.1 memungkinkan klasifikasi respons menjadi complete response, partial response, stable disease, atau progressive disease berdasarkan perubahan kuantitatif pada ukuran tumor. Namun, pada pasien yang menerima imunoterapi, fenomena pseudo-progression dapat terjadi, yaitu awalnya tampak pembesaran lesi akibat infiltrasi sel imun, yang sebenarnya diikuti oleh respons terapeutik nyata.

Untuk mengakomodasi kondisi ini, dapat dipertimbangkan penggunaan iRECIST (immune RECIST), versi modifikasi dari RECIST 1.1 yang khusus dikembangkan untuk imunoterapi, sehingga memastikan evaluasi respons lebih akurat dan tidak menghentikan terapi secara prematur.[2,17]

Pembedahan

Tata laksana pembedahan tetap menjadi terapi utama untuk pasien dengan RCC lokal atau lokal lanjut, dan dapat dipertimbangkan pada pasien metastatik tertentu sebagai bagian dari strategi multimodal.[1,3]

Untuk tumor yang terbatas pada ginjal tanpa metastasis, nephrectomy radikal atau nephrectomy parsial merupakan pilihan utama, dengan pertimbangan ukuran tumor, lokasi, dan fungsi ginjal. Nephrectomy parsial direkomendasikan pada pasien dengan risiko gagal ginjal atau tumor unilateral yang kecil, karena strategi ini bertujuan mempertahankan fungsi ginjal residual.[1,3]

Pada pasien metastatik, cytoreductive nephrectomy dapat dipertimbangkan untuk mengurangi beban tumor sebelum memulai terapi sistemik, terutama pada pasien dengan status performa baik dan volume tumor primer yang besar.

Pendekatan bedah dapat dilakukan secara laparoskopi, robotik, atau bedah terbuka, tergantung pengalaman tim bedah, ukuran dan lokasi tumor, serta kondisi pasien. Keputusan pembedahan harus mempertimbangkan keseimbangan manfaat onkologi, risiko komplikasi, dan kualitas hidup pasien.[1,3,16,17]

Terapi Suportif

Terapi suportif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengatasi gejala yang muncul. Pendekatan meliputi manajemen nyeri, penanganan anemia, terapi nutrisi, serta dukungan psikososial.

Pada pasien dengan metastasis tulang, dapat diberikan terapi tambahan seperti bisfosfonat atau denosumab untuk mengurangi risiko skeletal-related events. Perawatan paliatif juga menjadi bagian penting terutama pada stadium lanjut untuk mengontrol gejala dan meningkatkan kenyamanan pasien.[2,17]

Follow-Up

Follow-up pasien karsinoma sel renal bertujuan untuk mendeteksi residif lokal atau metastasis secara dini, menilai fungsi ginjal residual setelah pembedahan atau ablasi lokal, serta memantau efek samping jangka panjang dari terapi sistemik atau radiasi. Dukungan psikososial dan edukasi pasien juga penting untuk menjaga kualitas hidup dan kepatuhan terapi.

Beberapa biomarker molekuler lain, seperti circulating tumor DNA (ctDNA) atau ekspresi programmed death-ligand 1 (PD-L1), berpotensi memprediksi respons terapi dan deteksi progresi penyakit, meski implementasinya secara klinis masih terbatas.[1,2,17,20]

Pada pasien pasca nephrectomy atau terapi ablasi lokal seperti RFA, cryoablation, atau SABR, pemeriksaan radiologis dengan CT scan atau MRI dilakukan setiap 3–6 bulan pada dua tahun pertama, kemudian setiap 6–12 bulan hingga 5 tahun, dan tahunan setelahnya. Fokus evaluasi adalah kontrol lokal tumor dan fungsi ginjal.[1,3,17]

Pasien dengan penyakit metastatik atau yang menjalani terapi sistemik dievaluasi setiap 8–12 minggu menggunakan CT scan atau MRI sesuai kriteria RECIST 1.1, atau iRECIST pada pasien imunoterapi, untuk menilai respons tumor, mendeteksi progresi penyakit, serta memantau efek samping dari tyrosine kinase inhibitor (TKI), immune checkpoint inhibitor (ICI), atau kombinasi keduanya.

Evaluasi laboratorium rutin meliputi fungsi ginjal, elektrolit, tekanan darah, dan status kesehatan umum. Selain itu, edukasi pasien dan dukungan psikososial tetap diberikan untuk menjaga kualitas hidup, meminimalkan efek samping, dan mendukung kepatuhan terapi.[1,2,18]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Putri Kumala Sari

Referensi

1. Bex A, et al. European Association of Urology (EAU) Guidelines on Renal Cell Carcinoma 2026. Arnhem: EAU Guidelines Office; 2026. https://d56bochluxqnz.cloudfront.net/documents/full-guideline/EAU-Guidelines-on-Renal-Cell-Carcinoma-2026.pdf
2. Powles T, et al; ESMO Guidelines Committee. Electronic address: clinicalguidelines@esmo.org. Renal cell carcinoma: ESMO Clinical Practice Guideline for diagnosis, treatment and follow-up. Ann Oncol. 2024 Aug;35(8):692-706. doi: 10.1016/j.annonc.2024.05.537.
3. Quinn AE, Bell SD, Marrah AJ, Wakefield MR, Fang Y. The Current State of the Diagnoses and Treatments for Clear Cell Renal Cell Carcinoma. Cancers (Basel). 2024 Dec 1;16(23):4034. doi: 10.3390/cancers16234034.
4. Ahn B, Kim JH, Lee SH, et al. Pathologic Diagnosis of Renal Cell Carcinoma in the Era of the 2022 WHO Classification. Journal of Urologic Oncology. 2024. https://www.e-juo.org/journal/view.php?number=580
5. Pandey J, Syed W. Renal Cancer. StatPearls Publishing; 2026 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558975/
6. Atkins MB, et al. Epidemiology, Pathology, and Pathogenesis of Renal Cell Carcinoma. UpToDate. 2026. https://www.uptodate.com/contents/epidemiology-pathology-and-pathogenesis-of-renal-cell-carcinoma#H1
7. Raghavendra AS, Kumar P, Sharma R, et al. Brief Note on Etiology and Pathophysiology Involved in Renal Cell Carcinoma. Journal of Clinical & Cellular Immunology. 2023. https://www.longdom.org/open-access/brief-note-on-etiology-and-pathophysiology-involved-in-renal-cell-carcinoma-104022.html
8. Zhang Y, Zhang S, Sun H, et al. The pathogenesis and therapeutic implications of metabolic reprogramming in renal cell carcinoma. Cell Death Discovery. 2025;11(1):186. https://www.nature.com/articles/s41420-025-02479-9
9. Sachdeva K. Renal Cell Carcinoma. Medscpe. 2025. https://emedicine.medscape.com/article/281340-overview#a4
10. National Cancer Institute. Genetics of Renal Cell Carcinoma (PDQ®)–Health Professional Version. Bethesda (MD): National Cancer Institute; 2025. https://www.cancer.gov/types/kidney/hp/renal-cell-carcinoma-genetics.
11. Luigi Cirillo, Samantha Innocenti, Francesca Becherucci. Global epidemiology of kidney cancer. Nephrology Dialysis Transplantation. Volume 39, Issue 6, June 2024, Pages 920–928, https://doi.org/10.1093/ndt/gfae036
12. Makino T, Kadomoto S, Izumi K, Mizokami A. Epidemiology and Prevention of Renal Cell Carcinoma. Cancers. 2022; 14(16):4059. https://doi.org/10.3390/cancers14164059
13. Mousavi SE, Najafi M, Aslani A, et al. A population-based study on incidence trends of kidney and renal pelvis cancers in the United States over 2000-2020. Sci Rep. 2024 May 17;14(1):11294. doi: 10.1038/s41598-024-61748-2.
14. Duha DA., Harahap EU., Santoso RB., et al. Kidney cancer profile in National Cancer Center (NCC) Dharmais Hospital Jakarta. Indones J Cancer. 2022;16(4). https://www.indonesianjournalofcancer.or.id/e-journal/index.php/ijoc/article/view/904/457
15. Anita KW., Kusuma ID., Rosyida RU. Clinicopathological Profile of Renal Cell Carcinoma at The Anatomical Pathology Laboratory, Saiful Anwar General Hospital From 2019 until 2023. GSC Biological and Pharmaceutical Sciences, 2025. 30(01), 192-196. https://doi.org/10.30574/gscbps.2025.30.1.0014
16. Bellin MF, Valente C, Bekdache O, et al. Update on Renal Cell Carcinoma Diagnosis with Novel Imaging Approaches. Cancers (Basel). 2024 May 18;16(10):1926. doi: 10.3390/cancers16101926.
17. Cardenas LM, Sigurdson S, Wallis CJD, Lalani AK, Swaminath A. Advances in the management of renal cell carcinoma. CMAJ. 2024 Feb 25;196(7):E235-E240. doi: 10.1503/cmaj.230356.
18. Hannan R, McLaughlin MF, Pop LM, et al. Phase 2 Trial of Stereotactic Ablative Radiotherapy for Patients with Primary Renal Cancer. Eur Urol. 2023 Sep;84(3):275-286. doi: 10.1016/j.eururo.2023.02.016.
19. Li J, Luo P, Liu S, et al. Effective strategies to enhance the diagnosis and treatment of RCC: The application of biocompatible materials. Mater Today Bio. 2024; 27:101149. doi:10.1016/j.mtbio.2024.101149.
20. Lyskjær I, Iisager L, Axelsen CT, et al. Management of Renal Cell Carcinoma: Promising Biomarkers and the Challenges to Reach the Clinic. Clin Cancer Res. 2024 Feb 16;30(4):663-672. doi: 10.1158/1078-0432.CCR-23-1892.

Diagnosis Karsinoma Sel Renal
Prognosis Karsinoma Sel Renal
Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas 44 menit yang lalu
Obat jiwa di PKM tanpa rujukan ke dr. SpKJ
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter, sy dok umum di PKM. Izin tanya dok, Ada pasien F20 sy yg tdk mau lagi mengambil obat di RS dan hanya mau ambil di PKM. Padahal selama ini dia...
Anonymous
Dibalas 22 Juni 2026, 08:15
Cara melakukan sertifikasi sebagai pembicara/narasumber di satu sehat
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter. Izin menanyakan sejawat, tempat kerja sy mau mengadakan seminar medis, tp pembicara nya belum pernah melakukan sertifikasi sebagai pembicara di...
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas 18 Juni 2026, 10:46
Bagaimana AI akan mengubah praktik kedokteran Anda?
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
1 Balasan
ALO Dokter. Di tengah padatnya kunjungan pasien dan tuntutan pengambilan keputusan yang cepat, dokter tetap memegang peran utama dalam memastikan...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.