Penatalaksanaan Karsinoma Sel Renal
Penatalaksanaan karsinoma sel renal atau renal cell carcinoma (RCC) ditentukan berdasarkan stadium tumor, klasifikasi tumor, nodu, metastasis (TNM), kondisi umum pasien, serta stratifikasi risiko menggunakan International Metastatic Renal Cell Carcinoma Database Consortium (IMDC). Pilihan tata laksana mencakup pembedahan, terapi ablasi, maupun terapi sistemik.[1-3]
Terapi Lokal
Pada tumor lokal kecil (cT1a–cT1b, clinical T1a–T1b) yang medically inoperable atau tidak memungkinkan dilakukan pembedahan, terapi ablasi dapat dipertimbangkan. Pilihan termasuk radiofrequency ablation (RFA), cryoablation, atau stereotactic ablative radiotherapy (SABR), Pemilihan jenis terapi lokal didasarkan pada ukuran tumor, lokasi, kondisi ginjal residual, dan komorbiditas pasien.
Ketiga prosedur ini dilakukan dengan panduan pencitraan, baik CT scan atau USG, untuk memastikan penempatan probe yang presisi, menjaga fungsi ginjal, dan meminimalkan komplikasi.[1,3,17]
Radiofrequency Ablation (RFA)
RFA adalah terapi minimal invasif yang menggunakan energi gelombang radio untuk memanaskan dan menghancurkan sel tumor secara fokus, menghasilkan nekrosis koagulan. RFA efektif untuk tumor kecil (≤3 cm), terutama yang terletak di permukaan ginjal atau dekat kapsul ginjal, dan menjadi pilihan utama pada pasien medically inoperable atau dengan komorbid tinggi seperti pasien lansia atau pasien dengan fungsi ginjal terbatas.[1,3,17]
Cryoablation
Cryoablation adalah terapi minimal invasif yang membekukan jaringan tumor melalui siklus pembekuan–pencairan, sehingga menyebabkan nekrosis lokal sel tumor. Terapi ini diperuntukan untuk pasien dengan tumor kecil hingga menengah yang terletak pada struktur vital (misal pelvis ginjal, ureter, atau pembuluh darah utama), dengan risiko perdarahan tinggi.[1-3]
Stereotactic Ablative Radiotherapy (SABR)
SABR adalah teknik radiasi presisi tinggi yang memberikan dosis tinggi secara fraksional ke target tumor dalam 1–5 fraksi, dengan panduan pencitraan untuk memaksimalkan dosis pada lesi sekaligus meminimalkan paparan jaringan sehat.
SABR menjadi pilihan terapi lokal pada pasien dengan komorbid berat seperti gangguan kardiopulmoner, gangguan fungsi ginjal, atau status fisik lemah yang meningkatkan risiko operasi, serta pada tumor yang sulit dijangkau secara bedah seperti yang berlokasi di dekat struktur vital ginjal atau organ sekitarnya.[1-3,18]
Bukti retrospektif dan prospektif menunjukkan bahwa SABR dapat menghasilkan freedom from systemic therapy yang diperpanjang dan kontrol lokal yang baik pada kasus oligometastatik (≤3–5 metastasis) dengan profil toksisitas yang umumnya rendah, serta dapat menunda atau memperpanjang kebutuhan terapi sistemik dalam rentang 9–15 bulan lebih lama.[1-3,18]
Terapi Sistemik
Terapi sistemik merupakan komponen utama pada penyakit lanjut atau metastasis atau pasien dengan progresi penyakit setelah tindakan bedah atau ablasi lokal. Pilihan regimen ditentukan oleh stratifikasi risiko berdasarkan International Metastatic Renal Cell Carcinoma Database Consortium (IMDC).[1-3,18]
Stratifikasi Risiko IMDC
IMDC mengelompokkan pasien menjadi risiko rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan faktor risiko klinis:
- Kinerja fisik rendah (Karnofsky <80%)
- Waktu dari diagnosis hingga terapi sistemik <1 tahun
- Anemia
- Hiperkalsemia
- Neutrofilia
Pasien dengan 0 faktor risiko dikategorikan sebagai risiko rendah; 1–2 faktor sebagai risiko sedang; dan ≥3 faktor sebagai risiko tinggi. Stratifikasi ini menjadi dasar dalam pemilihan regimen terapi sistemik, termasuk terapi target, imunoterapi, maupun kombinasi keduanya, karena respons terhadap terapi dan prognosis sangat berbeda antar kelompok risiko.[1,2,17]
Tabel 1. Terapi Sistemik Kasus Metastasis
| Stratifikasi IMDC | Indikasi / Diagnosis | Agen / Obat & Dosis | Durasi Pemakaian | Efek Samping Utama | Evaluasi Respons |
| Rendah–Sedang | Metastatic RCC, IMDC 0–2 faktor risiko | Sunitinib 50 mg/hari, 4 minggu on, 2 minggu off | Hingga progresi penyakit atau toksisitas tidak tolerable
| Fatigue, hipertensi, diare, trombositopenia | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1 |
| Pazopanib 800 mg/hari oral, terus menerus | Hepatotoksisitas, hipertensi, diare | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1 | |||
| Pembrolizumab + Axitinib 200 mg IV tiap 3 minggu + Axitinib 5 mg 2 kali sehari | Fatigue, hipertensi, diare, hipotiroidisme, hepatitis autoimun | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons | |||
| Tinggi | Metastatic RCC, IMDC ≥3 faktor risiko | Nivolumab 240 mg IV tiap 2 minggu + Cabozantinib 40 mg/hari oral | Hingga progresi atau toksisitas tidak tolerable | Fatigue, hipertensi, diare, hepatitis autoimun, ruam | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1 |
| Ipilimumab 1 mg/kg + Nivolumab 3 mg/kg IV tiap 3 minggu (4 dosis), kemudian Nivolumab 240 mg IV tiap 2 minggu | Fatigue, diare, hepatitis autoimun, ruam, hipotiroidisme | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons | |||
| Lini Kedua / Progressi | Setelah gagal terapi target atau imunoterapi | Cabozantinib 60 mg/hari oral | Hingga progresi penyakit atau toksisitas
| Diare, hipertensi, fatigue, trombositopenia | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1 |
| Nivolumab 240 mg IV tiap 2 minggu | Fatigue, ruam, hepatitis autoimun | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons | |||
| Lenvatinib 20 mg/hari oral + Pembrolizumab 200 mg IV tiap 3 minggu | Hipertensi, diare, fatigue, hipotiroidisme, hepatitis autoimun | CT/MRI tiap 12 minggu, RECIST 1.1, evaluasi imunorespons |
Sumber: dr. Nailla, Alomedika, 2026.[1-3,17]
Evaluasi Respon Pengobatan
Evaluasi respons pada pasien karsinoma sel renal metastatik umumnya menggunakan kriteria RECIST 1.1 (Response Evaluation Criteria in Solid Tumors), yang menilai perubahan ukuran lesi target melalui pemeriksaan radiologis seperti CT atau MRI secara berkala, biasanya setiap 12 minggu.[1,2]
RECIST 1.1 memungkinkan klasifikasi respons menjadi complete response, partial response, stable disease, atau progressive disease berdasarkan perubahan kuantitatif pada ukuran tumor. Namun, pada pasien yang menerima imunoterapi, fenomena pseudo-progression dapat terjadi, yaitu awalnya tampak pembesaran lesi akibat infiltrasi sel imun, yang sebenarnya diikuti oleh respons terapeutik nyata.
Untuk mengakomodasi kondisi ini, dapat dipertimbangkan penggunaan iRECIST (immune RECIST), versi modifikasi dari RECIST 1.1 yang khusus dikembangkan untuk imunoterapi, sehingga memastikan evaluasi respons lebih akurat dan tidak menghentikan terapi secara prematur.[2,17]
Pembedahan
Tata laksana pembedahan tetap menjadi terapi utama untuk pasien dengan RCC lokal atau lokal lanjut, dan dapat dipertimbangkan pada pasien metastatik tertentu sebagai bagian dari strategi multimodal.[1,3]
Untuk tumor yang terbatas pada ginjal tanpa metastasis, nephrectomy radikal atau nephrectomy parsial merupakan pilihan utama, dengan pertimbangan ukuran tumor, lokasi, dan fungsi ginjal. Nephrectomy parsial direkomendasikan pada pasien dengan risiko gagal ginjal atau tumor unilateral yang kecil, karena strategi ini bertujuan mempertahankan fungsi ginjal residual.[1,3]
Pada pasien metastatik, cytoreductive nephrectomy dapat dipertimbangkan untuk mengurangi beban tumor sebelum memulai terapi sistemik, terutama pada pasien dengan status performa baik dan volume tumor primer yang besar.
Pendekatan bedah dapat dilakukan secara laparoskopi, robotik, atau bedah terbuka, tergantung pengalaman tim bedah, ukuran dan lokasi tumor, serta kondisi pasien. Keputusan pembedahan harus mempertimbangkan keseimbangan manfaat onkologi, risiko komplikasi, dan kualitas hidup pasien.[1,3,16,17]
Terapi Suportif
Terapi suportif bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengatasi gejala yang muncul. Pendekatan meliputi manajemen nyeri, penanganan anemia, terapi nutrisi, serta dukungan psikososial.
Pada pasien dengan metastasis tulang, dapat diberikan terapi tambahan seperti bisfosfonat atau denosumab untuk mengurangi risiko skeletal-related events. Perawatan paliatif juga menjadi bagian penting terutama pada stadium lanjut untuk mengontrol gejala dan meningkatkan kenyamanan pasien.[2,17]
Follow-Up
Follow-up pasien karsinoma sel renal bertujuan untuk mendeteksi residif lokal atau metastasis secara dini, menilai fungsi ginjal residual setelah pembedahan atau ablasi lokal, serta memantau efek samping jangka panjang dari terapi sistemik atau radiasi. Dukungan psikososial dan edukasi pasien juga penting untuk menjaga kualitas hidup dan kepatuhan terapi.
Beberapa biomarker molekuler lain, seperti circulating tumor DNA (ctDNA) atau ekspresi programmed death-ligand 1 (PD-L1), berpotensi memprediksi respons terapi dan deteksi progresi penyakit, meski implementasinya secara klinis masih terbatas.[1,2,17,20]
Pada pasien pasca nephrectomy atau terapi ablasi lokal seperti RFA, cryoablation, atau SABR, pemeriksaan radiologis dengan CT scan atau MRI dilakukan setiap 3–6 bulan pada dua tahun pertama, kemudian setiap 6–12 bulan hingga 5 tahun, dan tahunan setelahnya. Fokus evaluasi adalah kontrol lokal tumor dan fungsi ginjal.[1,3,17]
Pasien dengan penyakit metastatik atau yang menjalani terapi sistemik dievaluasi setiap 8–12 minggu menggunakan CT scan atau MRI sesuai kriteria RECIST 1.1, atau iRECIST pada pasien imunoterapi, untuk menilai respons tumor, mendeteksi progresi penyakit, serta memantau efek samping dari tyrosine kinase inhibitor (TKI), immune checkpoint inhibitor (ICI), atau kombinasi keduanya.
Evaluasi laboratorium rutin meliputi fungsi ginjal, elektrolit, tekanan darah, dan status kesehatan umum. Selain itu, edukasi pasien dan dukungan psikososial tetap diberikan untuk menjaga kualitas hidup, meminimalkan efek samping, dan mendukung kepatuhan terapi.[1,2,18]
Penulisan pertama oleh: dr. Putri Kumala Sari