Pil Kontrasepsi Oral Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Oleh :
dr. Alicia Pricelda

Penggunaan pil kontrasepsi oral diperkirakan dapat mengurangi risiko kanker ovarium karena adanya hubungan antara penurunan jumlah ovulasi dengan penurunan insiden kanker ovarium. Selain itu, ada juga berbagai faktor risiko lain yang dapat dimodifikasi untuk mengurangi risiko kanker ovarium.[1,2]

Kanker ovarium merupakan salah satu kanker yang memiliki prognosis buruk. Kanker ini sering tidak terdiagnosis hingga sudah terlanjur menyebar ke seluruh area panggul dan abdomen, sehingga mempersulit terapinya. Padahal, bila diterapi sejak tahap awal, tingkat keberhasilan akan lebih tinggi. Sebagai contoh, kasus kanker ovarium yang baru terdeteksi pada stadium 3 memiliki tingkat kelangsungan hidup 5 tahun <30%. Padahal, tingkat kelangsungan hidup bila terdiagnosis pada stadium 1 dapat melebihi 90%.[1,2]

Pil Kontrasepsi Oral Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Perbedaan tingkat kelangsungan hidup tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini kanker ovarium. Identifikasi faktor risiko menjadi kunci utama dalam upaya deteksi dini kanker ovarium. Meskipun tidak semua faktor risiko dapat dimodifikasi (misalnya faktor genetik), ada beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi, misalnya jumlah ovulasi yang bisa dikurangi dengan penggunaan pil kontrasepsi oral.[1,2]

Jumlah Ovulasi Sebagai Faktor Risiko Kanker Ovarium

Mekanisme di balik ovulasi dan kanker ovarium memang kompleks. Terdapat gagasan bahwa ovulasi yang tidak henti-hentinya membuat ovarium mengalami trauma minor berulang pada epitel, sehingga meningkatkan risiko transformasi ganas. Proses ini dapat menjelaskan penurunan risiko dengan pil kontrasepsi oral, menyusui, dan paritas, karena membuat siklus ovulasi menjadi lebih sedikit.[3]

Sebaliknya, hormone replacement therapy atau HRT dapat memperpanjang proliferasi permukaan epitel ovarium yang dirangsang oleh estrogen dan berisiko menyebabkan onkogenesis ovarium. Sekitar 60% tumor ovarium memiliki reseptor estrogen positif.[3]

Sebaliknya, paparan progesteron dapat menangkal efek tersebut. Reseptor progesteron juga terdapat pada epitel ovarium normal. Progestin dapat menangkal efek proliferatif estrogen dengan cara memicu apoptosis di dalam ovarium.[3]

Studi terkait Efek Kontrasepsi Oral dan HRT terhadap Risiko Kanker Ovarium

Penelitian menunjukkan bahwa risiko kanker ovarium lebih tinggi dengan penggunaan hormone replacement therapy (HRT) dan lebih rendah dengan penggunaan kontrasepsi oral kombinasi. Dampak penggunaan HRT dikonfirmasi dalam sembilan meta-analisis yang menggunakan formulasi HRT bervariasi (misalnya estrogen saja, estrogen dan progesteron terus menerus, atau estrogen dan progesteron secara berurutan).[3,4]

Efek protektif progesteron telah ditunjukkan dalam studi, di mana HRT estrogen saja menunjukkan bukti risiko yang lebih kuat, sedangkan HRT campuran menunjukkan bukti risiko yang lebih lemah. Studi observasional juga menunjukkan bahwa HRT campuran menunjukkan risiko lebih lemah daripada HRT estrogen saja.[3]

Pengaruh hormonal ini juga dijelaskan dalam penelitian yang menunjukkan hubungan terbalik antara paritas dan risiko kanker ovarium, termasuk anovulasi, sekresi hormon gonadotropin hipofisis yang lebih rendah, dan kadar progesteron yang lebih tinggi yang dapat mendorong apoptosis. Husby, et al. menyatakan bahwa kehamilan mengubah epitel fimbria tuba falopi (yang merupakan prekursor kanker epitel ovarium) dengan berkontribusi terhadap keadaan dorman (proliferasi rendah) pada tuba falopi.[5]

Faktor Risiko Lain yang Dapat Dimodifikasi

Selain jumlah ovulasi yang dapat dimodifikasi dengan penggunaan pil kontrasepsi oral, terdapat faktor lain yang juga bisa dimodifikasi untuk mengurangi risiko kanker ovarium. Pola diet sehat dan aktivitas fisik rutin dapat mengurangi risiko penyakit tertentu yang meningkatkan risiko kanker ovarium, contohnya diabetes mellitus dan obesitas.[6]

Diabetes berhubungan signifikan dengan kanker ovarium. Hiperinsulinemia yang sering dikaitkan dengan resistensi insulin kronis berhubungan dengan promosi tumor, karena potensi onkogenik insulin yang meningkatkan proliferasi sel terkait faktor pertumbuhan. Selain itu, peningkatan insulin dikaitkan dengan bioaktivitas tinggi faktor IGF-1.[6]

Obesitas juga berhubungan erat dengan kanker ovarium. Oleh karena itu, klinisi perlu memberikan edukasi yang adekuat kepada pasien terkait pentingnya berupaya kembali ke BMI (body mass index) normal, yakni dengan modifikasi diet dan olahraga rutin.[6]

Polycystic ovarian syndrome (PCOS) juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium. PCOS memiliki berbagai faktor risiko, termasuk obesitas, diabetes, inflamasi, dan sindrom metabolik. Namun, belum diketahui pasti apakah peningkatan risiko kanker ovarium terjadi karena faktor risiko terpisah (misal diabetes dan obesitas) atau karena PCOS itu sendiri. Kebiasaan merokok juga merupakan salah satu faktor risiko kanker ovarium yang dapat dimodifikasi dan penting diedukasikan kepada pasien.[6]

Kesimpulan

Kasus kanker ovarium yang terdiagnosis lebih dini cenderung memiliki prognosis yang lebih baik. Oleh karena itu, klinisi perlu mengidentifikasi faktor-faktor risiko sejak dini, terutama faktor risiko yang bisa dimodifikasi untuk mengurangi risiko kanker ovarium.

Salah satu faktor risiko yang dilaporkan oleh studi klinis adalah jumlah ovulasi, di mana penurunan ovulasi berkaitan dengan penurunan risiko kanker ovarium. Oleh sebab itu, berbagai hal yang bisa mengurangi ovulasi, misalnya penggunaan pil kontrasepsi oral kombinasi, bisa dipertimbangkan untuk menurunkan risiko kanker ovarium. Faktor lain yang turut mengurangi ovulasi adalah kehamilan dan menyusui.

Selain itu, klinisi juga perlu menginformasikan kepada pasien mengenai faktor risiko lain yang dapat dimodifikasi, seperti obesitas, diabetes mellitus, dan kebiasaan merokok. Pasien diedukasi untuk menjalani pola diet sehat, rutin beraktivitas fisik, dan berhenti merokok untuk mengurangi risiko penyakit yang berkaitan dengan kanker ovarium.

Referensi