Pengaturan posisi kepala pasien sering dianggap penting dalam penatalaksanaan stroke. Elevasi kepala 30 derajat merupakan praktik yang umum dilakukan oleh klinisi. Meski demikian, terdapat bukti yang mengindikasikan bahwa posisi kepala supinasi maupun elevasi tidak menghasilkan luaran klinis yang berbeda bermakna.
Secara garis besar, kedua posisi kepala tersebut memiliki manfaat dan keterbatasan masing-masing. Posisi supinasi diduga dapat meningkatkan perfusi serebral, tetapi juga bisa meningkatkan risiko pneumonia aspirasi. Sementara itu, posisi elevasi diduga dapat mengurangi tekanan intrakranial pada pasien dengan iskemia hemisferik luas atau stroke hemoragik.[1-4]
Stroke merupakan penyebab kematian dan disabilitas signifikan di seluruh dunia. Beban stroke global terus meningkat sejak 1990–2021, ditandai dengan kenaikan 70% kasus baru, 44% kematian, dan 32% DALY (disability-adjusted life-years lost). Di Indonesia, mortalitas stroke merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara (193 per 100.000 penduduk), serta menyebabkan kehilangan DALY sebesar 3.382 per 100.000 penduduk.[5,6]
Studi tentang Pengaruh Posisi Kepala terhadap Perfusi Serebral pada Stroke
Hargroves et al. menggunakan near infrared spectroscopy (NIRS) untuk mempelajari pengaruh posisi kepala pasien yang mengalami stroke di bagian korteks (arteri serebral tengah) terhadap tingkat oksigenasi serebralnya. Penelitian ini memiliki jumlah sampel kecil (hanya tujuh orang) tetapi menunjukkan bahwa elevasi kepala menghasilkan oksigenasi paling rendah, sedangkan posisi supinasi memiliki oksigenasi tertinggi.[7]
Meta analisis oleh Olavarria et al. mencari hubungan antara posisi kepala dan blood flow velocity serebral pada pasien stroke iskemik akut. Hasil menunjukkan bahwa aliran darah sangat meningkat di sisi otak yang mengalami sumbatan (tidak ada pengaruh di sisi otak yang tidak tersumbat) jika kepala diposisikan pada 0° atau 15° daripada dielevasikan 30°. Namun, kekuatan meta analisis ini terbatas karena hanya terdiri dari 3 penelitian kualitas rendah.[8]
Penelitian lain melibatkan 25 pasien stroke iskemik akut akibat oklusi pembuluh besar (large vessel occlusion/LVO) pada sirkulasi anterior. Peneliti mengevaluasi efek posisi head-down 20° (Trendelenburg) terhadap perfusi jaringan otak iskemik menggunakan CT perfusion (CTP) yang diulang setelah 5 menit intervensi. Hasil menunjukkan bahwa posisi Trendelenburg menurunkan volume lesi hipoperfusi, dengan perbaikan perfusi terlihat pada 60% pasien.[2]
Meski demikian, hasil dari penelitian-penelitian yang dibahas di atas memiliki keterbatasan karena hanya menilai parameter pemeriksaan penunjang tetapi tidak mendiskusikan pengaruh posisi kepala terhadap luaran yang relevan secara klinis, seperti disabilitas dan laju mortalitas. Penelitian tersebut juga memiliki sampel kecil, serta tidak menggunakan pengacakan ataupun blinding.[2,7,8]
Studi tentang Pengaruh Posisi Kepala terhadap Luaran Klinis Pasien Stroke
Cluster-randomized, crossover trial HeadPoST mencari tahu pengaruh posisi kepala terhadap luaran klinis 11.000 pasien dari 9 negara (85% merupakan stroke iskemik), yang secara acak dirawat dengan posisi supinasi atau duduk dengan elevasi kepala ≥30° selama 24 jam. Luaran utama adalah derajat disabilitas pada 90 hari yang diukur menggunakan modified Rankin Scale (mRS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok dalam luaran disabilitas 90 hari (OR 1,01), mortalitas 90 hari (7,3% vs 7,4%), maupun kejadian efek samping serius termasuk pneumonia. Ini menunjukkan bahwa posisi supinasi tidak menghasilkan manfaat klinis lebih baik dibandingkan posisi kepala ditinggikan ≥30°.[3]
Hasil serupa dilaporkan sebuah tinjauan sistematik terhadap 2 uji klinis dengan total 11.187 partisipan. Tinjauan ini menunjukkan bahwa posisi supinasi tidak menghasilkan perbaikan luaran neurologis bermakna dibandingkan elevasi kepala, serta tidak terdapat perbedaan signifikan dalam mortalitas, kejadian pneumonia, maupun stroke iskemik berulang. Ini berarti bahwa tidak ada posisi kepala yang terbukti lebih efektif, baik itu posisi supinasi atau elevasi kepala.[9]
Kesimpulan
Posisi kepala pasien sering dianggap memegang peranan penting dalam penanganan stroke. Beberapa studi mengindikasikan bahwa posisi kepala tertentu bisa meningkatkan perfusi darah ke otak dan mengurangi area hipoperfusi pada stroke. Meski demikian, studi-studi tersebut memiliki keterbatasan penting, seperti jumlah sampel yang sangat kecil, tidak dilakukan pengacakan dan blinding, serta tidak menilai luaran yang relevan secara klinis.
Lebih lanjut, terdapat studi dengan kekuatan bukti yang lebih baik, yang menunjukkan bahwa posisi kepala elevasi maupun supinasi tidak menghasilkan luaran klinis yang berbeda bermakna. Dalam studi-studi ini, baik posisi supinasi maupun elevasi kepala, tidak berbeda signifikan dalam hal penurunan mortalitas, perbaikan luaran neurologis, maupun risiko komplikasi pneumonia.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
