Ventilasi Non-Invasif Sebagai Preoksigenasi Saat Intubasi Emergensi – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Andrian Yadikusumo, Sp.An

Noninvasive Ventilation for Preoxygenation During Emergency Intubation

Gibbs KW, Semler MW, Driver BE, et al; PREOXI Investigators and the Pragmatic Critical Care Research Group. New England Journal of Medicine. 2024; 390(23):2165-2177. doi: 10.1056/NEJMoa2313680

studiberkelas

Abstrak

Latar Belakang: Pada pasien sakit kritis yang akan menjalani intubasi trakea, kejadian hipoksemia dapat meningkatkan risiko henti jantung dan kematian. Namun efek preoksigenasi menggunakan ventilasi non-invasif dibandingkan dengan masker oksigen terhadap kejadian hipoksemia selama intubasi trakea masih belum jelas.

Metode: Dilakukan uji coba acak multisenter di 24 unit gawat darurat dan ICU di Amerika Serikat. Pasien dewasa (≥18 tahun) yang menjalani intubasi trakea secara acak diberikan preoksigenasi menggunakan ventilasi non-invasif atau masker oksigen. Luaran primer yang diukur adalah kejadian hipoksemia selama intubasi, yang didefinisikan sebagai saturasi oksigen kurang dari 85% selama periode dari induksi anestesi hingga 2 menit setelah intubasi.

Hasil: Dari 1.301 pasien yang terlibat dalam penelitian, hipoksemia terjadi pada 9,1% pasien dalam kelompok ventilasi non-invasif (57 dari 624 pasien) dibandingkan dengan 18,5% pasien dalam kelompok masker oksigen (118 dari 637 pasien). Henti jantung terjadi pada 0,2% pasien di kelompok ventilasi non-invasif dan 1,1% pasien di kelompok masker oksigen. Aspirasi terjadi pada 0,9% pasien di kelompok ventilasi non-invasif dan 1,4% pasien di kelompok masker oksigen.

Kesimpulan: Pada pasien dewasa yang sakit kritis yang akan menjalani intubasi trakea, preoksigenasi dengan ventilasi non-invasif mengurangi kejadian hipoksemia selama intubasi dibandingkan dengan preoksigenasi menggunakan masker oksigen.

Unfocused,Doctor,Holding,Intubation,Equipment,Over,Patient,(view,From,The

Ulasan Alomedika

Hipoksemia merupakan komplikasi yang dapat terjadi akibat prosedur intubasi trakea di unit gawat darurat atau ICU. Hipoksemia tersebut akan meningkatkan risiko henti jantung serta kematian.

Preoksigenasi bertujuan untuk meningkatkan cadangan oksigen paru dan mengurangi risiko hipoksemia selama intubasi. Saat ini, preoksigenasi umumnya dilakukan dengan masker oksigen, yang mudah digunakan tetapi memiliki keterbatasan dalam penyediaan tekanan positif dan FiO2 yang optimal. Sebagai alternatif, ventilasi non-invasif dapat memberikan FiO2 yang lebih tinggi serta dukungan ventilasi, namun membutuhkan waktu pemasangan lebih lama dan meningkatkan risiko aspirasi.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain uji klinis pragmatis, multisenter, terbuka, dan acak dengan kelompok paralel untuk membandingkan preoksigenasi menggunakan ventilasi non-invasif dengan masker oksigen sebelum intubasi. Penelitian dilakukan di 24 lokasi, mencakup unit gawat darurat dan ICU di 15 pusat medis di Amerika Serikat.

Partisipan adalah pasien dewasa yang menjalani intubasi dengan sedasi dan laringoskopi, dengan pengecualian bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu seperti kehamilan, status sebagai tahanan, atau memerlukan intubasi segera tanpa proses randomisasi. Partisipan secara acak ditempatkan dalam salah satu dari kelompok intervensi.

Intervensi dalam penelitian ini mencakup preoksigenasi dengan ventilasi non-invasif menggunakan masker yang terhubung ke ventilator atau dengan masker oksigen yang memberi suplai oksigen aliran tinggi. Preoksigenasi dilakukan selama minimal 3 menit sebelum induksi anestesi. Luaran primer adalah hipoksemia selama intubasi, sementara luaran sekunder mencakup saturasi oksigen terendah dan kejadian hemodinamik yang berhubungan dengan hipoksemia atau ventilasi tekanan positif.

Ulasan Hasil Penelitian

Secara keseluruhan, penelitian ini melibatkan 1301 pasien yang menjalani intubasi. Luaran primer menunjukkan bahwa kejadian hipoksemia selama periode antara induksi anestesi hingga 2 menit setelah intubasi lebih rendah secara signifikan pada kelompok ventilasi non-invasif (9,1%) dibandingkan kelompok masker oksigen (18,5%). Perbedaan risiko absolut sebesar -9,4%.

Selain itu, median saturasi oksigen terendah ditemukan lebih tinggi pada kelompok ventilasi non-invasif dibandingkan kelompok masker oksigen. Analisis eksplorasi menunjukkan bahwa ventilasi non-invasif juga mengurangi risiko hipoksemia berat, dengan kejadian saturasi oksigen <80% lebih rendah (6,2% vs 13,2%) dan saturasi <70% juga lebih jarang terjadi (2,4% vs 5,7%).

Kejadian henti jantung dalam periode kritis lebih rendah pada kelompok ventilasi non-invasif (0,2%) dibandingkan kelompok masker oksigen (1,1%). Dari segi keamanan, kejadian aspirasi, pneumotoraks, dan opasitas baru pada rontgen toraks tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok.

Kelebihan Penelitian

Ukuran sampel yang besar memastikan kekuatan statistik yang memadai untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan secara klinis dalam insiden hipoksemia antara kelompok studi. Lokasi studi di departemen gawat darurat dan ICU di berbagai pusat kesehatan, serta sampel dari orang dewasa kritis dengan beragam kondisi, meningkatkan generalisasi temuan penelitian. Selain itu, pengumpulan data hasil oleh pengamat independen mengurangi potensi bias pengamat.

Limitasi Penelitian

Penelitian ini tidak mengevaluasi efek jangka panjang (tidak melakukan pemantauan lebih lanjut) dari metode preoksigenasi yang digunakan. Selain itu, mayoritas prosedur intubasi dilakukan oleh residen atau dokter spesialis dengan pengalaman median 50 intubasi sebelumnya, sehingga hasil penelitian mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan praktik di fasilitas dengan operator yang kurang berpengalaman.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Hasil penelitian ini memberi basis bukti bahwa preoksigenasi menggunakan ventilasi non-invasif secara signifikan mengurangi kejadian hipoksemia dibandingkan dengan masker oksigen. Di Indonesia, hasil ini dapat diterapkan dengan meningkatkan pemanfaatan ventilasi non-invasif sebagai strategi standar preoksigenasi, terutama bagi pasien dengan risiko tinggi hipoksemia. Implementasi ini memerlukan ketersediaan perangkat ventilasi non-invasif yang memadai serta pelatihan bagi tenaga medis untuk mengoptimalkan penggunaannya dalam situasi darurat.

Referensi