Farmakologi Pyridoxine
Farmakologi pyridoxine atau vitamin B6 adalah sebagai kofaktor atau koenzim dalam metabolisme asam amino, glukosa, dan lipid.[1,3]
Farmakodinamik
Pyridoxine merupakan salah satu bentuk vitamin B6 yang setelah diserap akan diubah menjadi bentuk aktifnya, yaitu pyridoxal-5′-phosphate (PLP). Sebagai koenzim, PLP berperan dalam berbagai reaksi metabolik penting, terutama metabolisme asam amino melalui proses transaminasi, dekarboksilasi, dan deaminasi.
Selain itu, PLP berperan dalam sintesis hemoglobin, asam nukleat, glikogen, sfingolipid, serta berbagai neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, norepinefrin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA). Oleh karena itu, vitamin B6 sangat penting untuk fungsi sistem saraf, pembentukan sel darah merah, dan metabolisme energi.
Pada pasien yang mendapat isoniazid, suplementasi pyridoxine diberikan untuk mencegah atau mengatasi neuropati perifer karena isoniazid dapat mengganggu metabolisme vitamin B6.
Lebih lanjut, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pyridoxine dapat membantu menurunkan tekanan darah, menghambat agregasi trombosit yang dipicu oleh ADP atau epinefrin, menurunkan kadar kolesterol total, serta meningkatkan kadar HDL-kolesterol. Dalam bentuk PLP, vitamin B6 juga melindungi sel endotel vaskular dari kerusakan akibat trombosit yang teraktivasi, sehingga berpotensi menghambat proses awal aterosklerosis.
Selain itu, vitamin B6 berperan dalam fungsi imun. Defisiensi vitamin B6 dapat menyebabkan gangguan diferensiasi dan maturasi limfosit, penurunan produksi antibodi, berkurangnya proliferasi limfosit, serta penurunan produksi interleukin-2 (IL-2), yang pada akhirnya menurunkan respons imun seluler maupun humoral.[1,14]
Farmakokinetik
Pyridoxine diabsorpsi di saluran pencernaan, kemudian menjalani proses katalisis oleh enzim pyridoxal kinase di enterosit. Setelah itu, pyridoxine masuk ke peredaran darah untuk didistribusikan ke seluruh tubuh, dan dieliminasi di ginjal.[1,3,4]
Absorpsi
Absorpsi pyridoxine adalah melalui difusi pasif yang terutama terjadi di jejunum dan ileum. Bioavailabilitas pyridoxine adalah sekitar 70‒ 80%. Konsentrasi puncak vitamin ini tercapai sekitar 5,5 jam.[1,3,4]
Distribusi
Sekitar lebih dari 90% pyridoxine yang masuk ke dalam tubuh akan menjadi pyridoxal phosphate dalam plasma darah dan terikat dengan albumin. Ikatan protein ini adalah sebagai proteksi terhadap hidrolisis sehingga vitamin ini akan terhindar dari proses hidrolisis dan dapat disimpan oleh tubuh.[3]
Dalam kadar yang sedikit, pyridoxine disimpan dalam jaringan tubuh, terutama dalam bentuk pyridoxal phosphate dan pyridoxamine phosphate. Penyimpanan ini terkonsentrasi dalam hati, otak, ginjal, limpa, dan otot.
Otot skeletal menyimpan sekitar 70‒80% dari total vitamin B6 yang disimpan dalam tubuh dalam bentuk pyridoxal phosphate, terikat terutama pada glikogen fosforilase. Total penyimpanan vitamin B6 dalam tubuh manusia dewasa diperkirakan sekitar 40‒150 mg. Jumlah ini mampu untuk mencukupi kebutuhan tubuh secara adekuat sekitar 20‒75 hari.[3,4]
Metabolisme
Setelah absorpsi, pyridoxine didistribusikan ke sirkulasi dan dimetabolisme terutama di hati menjadi bentuk aktifnya, yaitu pyridoxal-5′-phosphate (PLP), yang mencakup lebih dari 60% vitamin B6 yang beredar dan berikatan kuat dengan protein plasma, terutama albumin.
Pyridoxine merupakan prodrug yang mengalami metabolisme hepatik kompleks dengan pembentukan berbagai metabolit, di mana metabolit utama yang dihasilkan adalah 4-pyridoxic acid yang bersifat tidak aktif.[1]
Eliminasi
Eliminasi vitamin B6 terjadi terutama melalui ekskresi ginjal dalam bentuk 4-pyridoxic acid melalui urin. Total cadangan pyridoxine dalam tubuh orang dewasa berkisar antara 16–25 mg, dengan waktu paruh biologis yang relatif panjang, yaitu sekitar 15–20 hari, sehingga memungkinkan pemeliharaan kadar vitamin B6 dalam tubuh meskipun asupan harian berfluktuasi.[1]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha