Ferritin Sebagai Prediktor Luaran Demam Dengue

Oleh :
dr. Reren Ramanda

Kadar ferritin yang lebih tinggi pada demam dengue telah dikaitkan dengan tingkat keparahan dan luaran klinis yang lebih buruk. Pada perjalanan penyakitnya, demam dengue memiliki manifestasi yang bervariasi, mulai dari asimptomatik hingga berat (severe dengue). Meski begitu, memprediksi kemungkinan manifestasi berat dari demam dengue masih menjadi tantangan.

Saat ini, ada banyak jenis pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada pasien demam dengue, seperti hitung trombosit, hitung sel darah putih, hematokrit (Hct), tes fungsi hati, serum albumin, dan serum ferritin. Namun, yang mana di antara pemeriksaan tersebut yang lebih baik dalam memprediksi kemungkinan severe dengue pada fase febris hari ke-3 atau ke-4 juga masih belum jelas.[1-5]

Ferritin Sebagai Prediktor Luaran Demam Dengue

Berbagai Prediktor Luaran Demam Dengue

Terdapat berbagai prediktor yang secara klinis sering digunakan dalam manajemen pasien demam dengue, termasuk kadar trombosit, pengukuran enzim hati, C-reactive protein, dan albumin. Meski begitu, belum ada bukti yang adekuat untuk menentukan cara terbaik dalam memprediksi luaran demam dengue.

Kadar Trombosit

Parameter hematologi yang biasa digunakan sebagai prediktor beratnya demam dengue mencakup pengukuran kadar hematokrit, hitung sel darah putih, dan trombosit. Berdasarkan bukti yang ada, hanya nilai trombosit yang berkorelasi secara kuat terhadap derajat beratnya infeksi dengue saat fase demam. Pasien dengan nilai trombosit lebih dari 100.000 sel/dL memiliki risiko minimal untuk berkembang menjadi severe dengue.[5-7]

Enzim Hati

Lebih lanjut, keterlibatan organ hati juga sering terjadi pada kasus severe dengue, sehingga konsentrasi enzim hati yang meningkat juga telah dilaporkan berkaitan dengan kejadian severe dengue. Meski begitu, faktor lain juga harus dipertimbangkan, seperti adanya koinfeksi dengan virus hepatitis kronis, yang meningkatkan kemungkinan disfungsi hati dan umum terjadi di negara-negara endemik demam dengue.[6,8,9]

CRP

Di sisi lain, C-reactive protein (CRP) adalah protein fase akut yang disintesis di hati dalam waktu 6 jam setelah peradangan dan cedera jaringan. Oleh karena itu, CRP sering dianggap dapat menilai keparahan infeksi dengue. Namun, hingga saat ini, belum ada bukti adekuat yang bisa mendukung penggunaan CRP sebagai prediktor luaran demam dengue.[4]

Sitokin

Biomarker potensial lain adalah sitokin. Sitokin mayor potensial yang dapat menjadi biomarker adalah IL-10, interferon (IFN), TNF-α, dan IL-6. Meski begitu, bukti yang ada masih menunjukkan hasil yang saling bertentangan. Pengujian sitokin juga tidak mudah dilakukan dan merupakan tes yang mahal untuk disediakan di negara-negara berpenghasilan rendah- menengah.[2,10]

Albumin

Parameter selanjutnya adalah serum albumin. Berbagai studi yang ada secara konsisten menunjukkan bahwa pasien yang mengalami perburukan cenderung memiliki kadar serum albumin yang lebih rendah dari pasien dengan gejala ringan selama fase demam.

Namun, konsentrasi albumin serum dapat bervariasi tergantung pada status gizi yang sudah ada sebelumnya, sehingga penggunaannya sebagai prediktor luaran klinis akan sulit dilakukan dalam praktik sehari-hari.[11]

Peran Serum Ferritin Sebagai Prediktor Luaran Demam Dengue

Pada pasien severe dengue, akan terjadi sindrom aktivasi makrofag (MAS). Kondisi ini ditandai dengan aktivasi sel T dan makrofag yang berlebihan, sehingga mengakibatkan badai sitokin yang menyebabkan keadaan hiperinflamasi. Ferritin serum, sCD163 (penanda monosit), dan sCD25 (penanda sel T regulator) adalah biomarker penting MAS.[2]

Ferritin sendiri merupakan protein globular yang menyimpan zat besi. Ferritin, sebagai reaktan fase akut, bereaksi terhadap peradangan dan infeksi dengan meningkatkan kadarnya secara signifikan. Produksi ferritin dirangsang oleh sitokin, khususnya interleukin-1 (IL-1) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), di berbagai jenis sel, termasuk hepatosit dan makrofag.[4,12]

Sebuah penelitian di India menemukan bahwa kadar feritin serum sebesar 1,291 ng/mL menunjukkan sensitivitas 82,6% dan spesifisitas 100% dalam membedakan demam dengue dari penyakit demam lainnya ketika antigen NS1 atau antibodi IgM tidak terdeteksi. Bahkan terdapat studi lain yang menunjukkan bahwa kadar ferritin serum dapat menjadi penanda awal kebocoran plasma di hari ke-3 atau ke-4 demam, dengan cut off 535 ng/mL, dan probabilitas mencapai 78%.[11,12]

Lebih lanjut, studi yang ada saat ini juga menunjukkan bahwa nilai ambang 714 ng/mL dapat dipakai untuk membedakan severe dengue dari demam dengue derajat ringan, dengan sensitivitas dilaporkan mencapai 100% dan spesifisitas 43,75%. Selain itu, ada juga bukti yang menunjukkan bahwa kadar feritin melebihi 1.000 ng/mL dapat memprediksi severe dengue, dengan nilai sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 87% dan 83%.[12]

Selain dapat memprediksi progresivitas perburukan demam dengue, peningkatan kadar ferritin serum juga dapat memprediksi luaran klinis. Studi menunjukkan bahwa kadar ferritin melebihi 2000 ng/mL memiliki kemungkinan perpanjangan masa perawatan. Ada pula data yang menunjukkan bahwa peningkatan kadar ferritin serum berhubungan dengan peningkatan risiko komplikasi, seperti kerusakan hati dan kuagulopati.[12]

Kesimpulan

Demam dengue dapat memiliki manifestasi klinis yang bervariasi, mulai dari asimptomatik hingga gejala berat (severe dengue). Meski demikian, belum ada konsensus yang jelas mengenai cara terbaik dalam memprediksi perburukan keparahan dan luaran pada demam dengue.

Ferritin merupakan sebuah reaktan fase akut yang diduga dapat bermanfaat dalam memprediksi keparahan dan luaran klinis demam dengue. Saat ini, sudah ada studi yang menunjukkan bahwa kadar ferritin serum yang meningkat berkaitan dengan kemungkinan kebocoran plasma, severe dengue, pemanjangan masa perawatan, dan peningkatan risiko komplikasi. Meski begitu, studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan temuan tersebut.

Referensi