Dampak malnutrisi pada awal kehidupan sangat serius dan sebagian besar ireversibel. Malnutrisi dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan termasuk stunting, penurunan kognitif dan akademik, gangguan imun, serta peningkatan risiko penyakit tidak menular di masa dewasa. Upaya pencegahan harus dimulai sejak masa antenatal salah satunya dengan pemberian MMS (Multiple Micronutrient Supplementation) selama kehamilan.[1,2]
Pemberian nutrisi yang optimal selama 1000 hari pertama kehidupan, mulai dari masa konsepsi hingga anak berusia 2 tahun, sangat krusial dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan. Oleh karena itu, nutrisi dan suplementasi maternal adalah bagian pertama yang penting dalam mencegah malnutrisi pada anak.[1]
Sumber Nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan
Terdapat beberapa tahapan penting dalam periode 1000 hari pertama kehidupan, yaitu masa kehamilan, masa menyusui, dan masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pada periode ini, otak berkembang sangat pesat, mencapai 80% volume otak dewasa dan sel tubuh bertambah cepat, membentuk fondasi penting bagi fungsi kognitif dan pertumbuhan fisik optimal.[1]
Tahapan pertama dimulai sejak konsepsi hingga akhir kehamilan. Pada fase ini, status gizi ibu memegang peranan kunci. Kekurangan asupan nutrisi maternal dapat menyebabkan restriksi pertumbuhan intrauterin (IUGR), berat badan lahir rendah (BBLR), meningkatkan risiko infeksi, pertumbuhan terhambat, dan malformasi kongenital.
Pada tahapan kedua di usia 0–6 bulan, sumber nutrisi optimal untuk bayi berasal dari air susu ibu (ASI). Namun, malnutrisi pada ibu dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ASI, termasuk dengan berkurangnya kandungan mikronutrien serta rendahnya kadar lemak dan protein.[3]
Tahapan ketiga terjadi pada usia 6–24 bulan, ketika bayi mulai menerima MPASI. Pada periode ini, penting untuk memberikan makanan yang cukup secara kalori serta tinggi kandungan mikronutrien esensial, yaitu zat besi, seng, tembaga, selenium, iodin, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B9 (asam folat), vitamin B12, vitamin C, vitamin D, dan vitamin E untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.[3]
Asupan nutrisi ibu yang optimal diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang anak dalam 1000 hari kehidupannya, terutama pada tahap pertama dan kedua, saat anak mendapatkan nutrisi dari ibunya.
Sesuai pedoman Kementerian Kesehatan di Indonesia, suplementasi Multiple Micronutrient Supplements (MMS) yang mengacu pada formulasi UNIMMAP MMS (United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation) dan telah disetujui oleh WHO menjadi standar baru untuk menunjang kebutuhan mikronutrien pada ibu dan anak.[11]
Dampak Jangka Pendek Malnutrisi pada Awal Kehidupan
Malnutrisi merupakan faktor pendukung signifikan pada kematian anak di bawah 5 tahun, yang sebagian besar disebabkan oleh infeksi seperti pneumonia dan diare, komplikasi kelahiran prematur, serta kelainan kongenital. Malnutrisi juga melemahkan sistem imun, memperparah infeksi hingga berujung sepsis dan kematian.[4]
Selain meningkatkan mortalitas, malnutrisi juga meningkatkan morbiditas, terutama pada anak di bawah dua tahun. Anak yang malnutrisi berisiko mengalami defisiensi nutrisi penting, seperti zat besi, seng, dan vitamin A, yang krusial untuk pematangan dan fungsi sel-sel imun.[2,5]
Kurangnya nutrisi ini memperlambat pematangan sel imun, membuat sistem kekebalan tubuh tidak dapat berfungsi optimal. Akibatnya, anak menjadi mudah terserang berbagai infeksi, seperti pneumonia, diare, dan tuberkulosis, dan rentan mengalami keparahan yang lebih tinggi.[2,5]
Selain rentan terhadap infeksi, anak yang malnutrisi juga menunjukkan respons imun yang tidak adekuat terhadap vaksinasi. Akibatnya, meskipun sudah divaksinasi, anak malnutrisi tetap rentan terhadap penyakit yang seharusnya dapat dicegah oleh vaksin, seperti campak, polio, dan difteri.[2,5]
Apabila malnutrisi terus berlanjut, dapat terjadi malnutrisi kronis berupa gizi buruk (skor Z di bawah garis -3 berat badan per panjang badan) dan stunting (skor Z di bawah garis -2 panjang badan per usia). Kedua kondisi ini sering disertai dengan defisiensi mikronutrien penting (kolin, folat, vitamin B12, polyunsaturated fatty acid, iodin, zat besi, seng) yang menghambat perkembangan otak, menyebabkan keterlambatan perkembangan, dan penurunan kognitif.[5]
Beberapa penelitian telah dilakukan terkait dengan kondisi ini. Van Beekum et al (2022). di Kamboja menemukan stunting berhubungan dengan keterlambatan motorik kasar, sementara berat badan kurang berkaitan dengan keterlambatan motorik halus dan kognitif.[6]
Studi Mustakim et al (2022). di Surabaya juga menunjukkan hubungan antara stunting dan keterlambatan perkembangan pada anak. Anak dengan stunting menunjukkan keterlambatan dalam kemampuan berbahasa, keterampilan motorik baik kasar maupun halus, serta memiliki skor kognitif yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak stunting.[7]
Dampak Jangka Panjang Malnutrisi pada Awal Kehidupan
Selain efek jangka pendek, malnutrisi di awal kehidupan memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, membentuk siklus yang sulit diputus. Anak dengan stunting cenderung memiliki performa akademik yang lebih rendah karena kapasitas kognitif yang terganggu. Penelitian Gansaonré et al. (2022) dan Lestari menunjukkan mereka lebih mungkin mengulang kelas dan memiliki waktu sekolah yang lebih singkat.[8,9]
Anak dengan pertumbuhan yang terhambat berdampak pada penurunan potensi pendapatan seumur hidup karena berkurangnya kapasitas kognitif dan capaian pendidikan yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, pembangunan di Indonesia belum berhasil menciptakan lingkungan yang optimal untuk anak agar dapat meraih potensi pendidikan mereka sepenuhnya.[9]
Malnutrisi yang berlanjut hingga remaja juga mempengaruhi kapasitas fisik, mengurangi produktivitas kerja dan meningkatkan absensi. Kombinasi hal ini dengan penurunan kognitif dapat menciptakan sumber daya manusia yang sulit bersaing di pasar kerja, berpotensi menjadi beban finansial bagi keluarga dan menghambat pertumbuhan ekonomi serta pembangunan negara.[10]
Dampak jangka panjang lain adalah peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus. Anak yang mengalami gizi kurang atau gizi buruk sejak dini dapat mengembangkan mekanisme tubuh untuk menjaga agar glukosa tetap terpenuhi yang meningkatkan risiko diabetes pada masa remaja maupun dewasa, meskipun gizi mereka membaik di kemudian hari.[10]
Hipertensi pada anak, remaja, dan dewasa juga sering dikaitkan dengan berat badan lahir rendah dan berat badan kurang pada masa kanak-kanak. Berbagai mekanisme fisiologis yang berperan dalam terjadinya hipertensi pada anak dengan malnutrisi adalah: penurunan jumlah nefron akibat restriksi pertumbuhan intrauterin, disfungsi endotel, hiperaktivitas saraf simpatik, resistensi insulin, peningkatan konsentrasi glukokortikoid, dan aktivasi dari sistem renin-angiotensin yang teramplifikasi seiring berjalannya waktu.[10]
Menariknya, obesitas juga dapat menjadi dampak pada anak yang awalnya stunting. Asupan diet tinggi lemak dan gangguan regulasi pola makan saat transisi pertumbuhan dapat memicu obesitas di kemudian hari. Pergeseran status gizi dari kurang/buruk menjadi kelebihan/obesitas ini meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari.[10]
Secara global, malnutrisi membentuk rantai siklus malnutrisi. Anak yang malnutrisi berpotensi menjadi dewasa dengan stunting atau IMT rendah, yang kemudian memiliki kemungkinan tinggi untuk melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah atau malnutrisi kembali. Siklus ini diperparah oleh faktor lingkungan seperti kemiskinan, sanitasi buruk, sulitnya akses kesehatan, dan kurangnya edukasi gizi.[1,10]
Peran Dokter untuk Mencegah Malnutrisi pada Awal Kehidupan
Mengingat dampak buruk malnutrisi, pencegahannya, khususnya dalam 1000 hari pertama kehidupan, sangatlah krusial. Sebagai dokter, pemantauan status nutrisi secara berkala sejak masa kehamilan adalah kunci utama. Intervensi klinis seperti pemberian suplementasi kehamilan dengan MMS dan kalsium sesuai rekomendasi WHO efektif mencegah defisiensi sebelum komplikasi muncul.
MMS yang mengacu pada formulasi UNIMMAP MMS (United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation) memiliki 15 mikronutrien esensial, yaitu zat besi, seng, tembaga, selenium, iodin, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B9 (asam folat), vitamin B12, vitamin C, vitamin D, dan vitamin E.[12]
Tabel 1. Formulasi UNIMMAP MMS
| Mikronutrien | Dosis |
| Zat besi | 30mg |
| Zinc | 15mg |
| Tembaga | 2mg |
| Selenium | 65µg |
| Yodium | 150µg |
| Vitamin A | 800µg ekuivalen dengan retinol (RE) |
| Vitamin B1 | 1.4mg |
| Vitamin B2 | 1.4mg |
| Vitamin B3 (niasin) | 18mg |
| Vitamin B6 | 1.9mg |
| Vitamin B9 (asam folat) | 400µg |
| Vitamin B12 | 2.6µg |
| Vitamin C | 70mg |
| Vitamin D | 200 IU |
| Vitamin E | 10mg |
Sumber: WHO Model List of Essential Medicines.[12]
Selain itu, kerja sama lintas sektoral dengan tenaga kesehatan lain dan pemangku kebijakan sangat diperlukan. Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan edukasi berkelanjutan dan mengatasi berbagai faktor eksternal seperti kemiskinan, sanitasi buruk, atau kurangnya akses fasilitas kesehatan, yang turut berkontribusi pada malnutrisi.
Kesimpulan
Malnutrisi di awal kehidupan, baik kekurangan nutrisi, memiliki dampak serius dan ireversibel pada anak, mulai dari gangguan pertumbuhan (stunting), kognitif, hingga peningkatan risiko penyakit tidak menular di masa dewasa. Periode 1000 hari pertama kehidupan, termasuk periode antenatal selama kehamilan, sangat krusial untuk perkembangan otak dan fisik anak.
Malnutrisi memiliki dampak yang luas, mempengaruhi anak dalam jangka pendek maupun panjang. Dalam jangka pendek, malnutrisi secara signifikan meningkatkan risiko mortalitas dan morbiditas. Anak-anak yang mengalami malnutrisi lebih rentan terhadap infeksi, yang sering kali berujung pada komplikasi serius.
Dampak jangka panjang malnutrisi juga merugikan, seperti penurunan performa akademik, kapasitas fisik yang berkurang, dan peningkatan risiko penyakit kronis di kemudian hari. Lebih dari itu, malnutrisi bahkan dapat membentuk siklus lintas generasi, menciptakan tantangan berkelanjutan bagi kesehatan masyarakat.
Pencegahan malnutrisi pada anak dimulai sejak masa kehamilan. Dokter berperan penting dalam memberikan edukasi gizi dan meresepkan suplementasi. Sesuai standar global terbaru, dokter kini sebaiknya memberikan suplemen MMS beserta kalsium, sebagai pengganti asam folat.
Setelah anak lahir, peran dokter sangat sentral dalam pemantauan nutrisi, memantau tumbuh kembang anak secara rutin, edukasi gizi, suplementasi, mempromosikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, dan MPASI yang tepat dan bermanfaat untuk anak. Kolaborasi lintas sektoral juga mutlak diperlukan untuk mengatasi akar masalah malnutrisi demi masa depan generasi yang lebih sehat.
