Epidemiologi Perdarahan Uterus Abnormal
Data epidemiologi menunjukkan bahwa perdarahan uterus abnormal merupakan keluhan ginekologi yang paling umum ditemukan, yang diperkirakan memengaruhi 14-25% wanita usia reproduktif. Perdarahan uterus abnormal berulang bisa menurunkan produktivitas dan kualitas hidup pasien.[8,17]
Global
Perdarahan uterus abnormal merupakan salah satu keluhan ginekologi yang paling sering dijumpai pada wanita usia reproduktif. Diperkirakan sekitar 14–25% wanita usia reproduktif mengalami perdarahan uterus abnormal, dan kondisi ini menjadi penyebab penting hilangnya produktivitas serta hari kerja.
Selain itu, lebih dari 50% wanita usia reproduktif pernah melaporkan mengalami perdarahan menstruasi yang berlebihan (heavy menstrual bleeding). Di layanan rawat jalan ginekologi, perdarahan uterus abnormal merupakan diagnosis yang cukup umum dan mencakup sekitar 5–10% dari seluruh kasus yang ditangani.
Secara epidemiologi, perdarahan uterus abnormal dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang termasuk dalam klasifikasi PALM-COEIN. Adenomiosis memiliki prevalensi sekitar 1% berdasarkan temuan ultrasonografi pada wanita dengan gejala khas berupa menstruasi banyak, dismenore, dan dispareunia.
Leiomioma uteri atau fibroid uteri dilaporkan memiliki prevalensi sebesar 4,5–9,8%. Sementara itu, gangguan ovulasi yang berkaitan dengan polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) memengaruhi sekitar 11–13% wanita usia reproduktif di seluruh dunia.
Meski perdarahan uterus abnormal dapat terjadi pada semua kelompok ras, prevalensi dilaporkan lebih tinggi pada wanita kulit hitam. Ini diduga berkaitan dengan tingginya angka kejadian leiomioma pada populasi tersebut.[8]
Indonesia
Data epidemiologi perdarahan uterus abnormal di Indonesia masih terbatas. Sebuah penelitian deskriptif retrospektif di sebuah rumah sakit di Bali melaporkan frekuensi kasus perdarahan uterus abnormal sebanyak 68 kasus (15,8%) dari 437 kasus ginekologi.
Dalam studi ini, perdarahan uterus abnormal dengan etiologi kelainan struktural dilaporkan pada 45 orang (66,2%), dengan kasus terbanyak adalah leiomyoma 26 orang (38,2%). Sementara itu, kelainan non-struktural dilaporkan pada 23 orang (33.8%), dengan kasus terbanyak disfungsi ovulasi (18 orang, 26,4%). Kejadian perdarahan uterus abnormal paling banyak pada usia ≥41 tahun sebanyak 25 orang (36,8%).[18]
Mortalitas
Perdarahan uterus abnormal yang berulang atau tidak terkontrol dapat menimbulkan morbiditas yang signifikan, termasuk anemia defisiensi besi akibat kehilangan darah kronis. Pada kasus perdarahan berat, pasien dapat memerlukan rawat inap, transfusi darah, terapi cairan, atau terapi hormonal intravena.
Selain itu, paparan estrogen tanpa oposisi yang berlangsung lama pada perdarahan anovulatorik meningkatkan risiko hiperplasia endometrium dan kanker endometrium, dengan sekitar 1–2% wanita yang tidak mendapatkan penanganan adekuat berpotensi berkembang menjadi kanker endometrium.
Morbiditas lain yang dapat terjadi meliputi infertilitas akibat anovulasi kronis, terutama pada pasien dengan PMOS, obesitas, hipertensi, atau resisten insulin. Perdarahan uterus abnormal juga berdampak terhadap kualitas hidup dan produktivitas akibat gangguan menstruasi yang persisten.[1,8,17]
Penulisan pertama oleh: dr. Yelsi Khairani
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha