Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Epidemiologi Perdarahan Uterus Abnormal yogi 2026-07-29T11:04:36+07:00 2026-07-29T11:04:36+07:00
Perdarahan Uterus Abnormal
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Epidemiologi Perdarahan Uterus Abnormal

Oleh :
dr.Eva Naomi Oretla
Share To Social Media:

Data epidemiologi menunjukkan bahwa perdarahan uterus abnormal merupakan keluhan ginekologi yang paling umum ditemukan, yang diperkirakan memengaruhi 14-25% wanita usia reproduktif. Perdarahan uterus abnormal berulang bisa menurunkan produktivitas dan kualitas hidup pasien.[8,17]

Global

Perdarahan uterus abnormal merupakan salah satu keluhan ginekologi yang paling sering dijumpai pada wanita usia reproduktif. Diperkirakan sekitar 14–25% wanita usia reproduktif mengalami perdarahan uterus abnormal, dan kondisi ini menjadi penyebab penting hilangnya produktivitas serta hari kerja.

Selain itu, lebih dari 50% wanita usia reproduktif pernah melaporkan mengalami perdarahan menstruasi yang berlebihan (heavy menstrual bleeding). Di layanan rawat jalan ginekologi, perdarahan uterus abnormal merupakan diagnosis yang cukup umum dan mencakup sekitar 5–10% dari seluruh kasus yang ditangani.

Secara epidemiologi, perdarahan uterus abnormal dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang termasuk dalam klasifikasi PALM-COEIN. Adenomiosis memiliki prevalensi sekitar 1% berdasarkan temuan ultrasonografi pada wanita dengan gejala khas berupa menstruasi banyak, dismenore, dan dispareunia.

Leiomioma uteri atau fibroid uteri dilaporkan memiliki prevalensi sebesar 4,5–9,8%. Sementara itu, gangguan ovulasi yang berkaitan dengan polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) memengaruhi sekitar 11–13% wanita usia reproduktif di seluruh dunia.

Meski perdarahan uterus abnormal dapat terjadi pada semua kelompok ras, prevalensi dilaporkan lebih tinggi pada wanita kulit hitam. Ini diduga berkaitan dengan tingginya angka kejadian leiomioma pada populasi tersebut.[8]

Indonesia

Data epidemiologi perdarahan uterus abnormal di Indonesia masih terbatas. Sebuah penelitian deskriptif retrospektif di sebuah rumah sakit di Bali melaporkan frekuensi kasus perdarahan uterus abnormal sebanyak 68 kasus (15,8%) dari 437 kasus ginekologi.

Dalam studi ini, perdarahan uterus abnormal dengan etiologi kelainan struktural dilaporkan pada 45 orang (66,2%), dengan kasus terbanyak adalah leiomyoma 26 orang (38,2%). Sementara itu, kelainan non-struktural dilaporkan pada 23 orang (33.8%), dengan kasus terbanyak disfungsi ovulasi (18 orang, 26,4%). Kejadian perdarahan uterus abnormal paling banyak pada usia ≥41 tahun sebanyak 25 orang (36,8%).[18]

Mortalitas

Perdarahan uterus abnormal yang berulang atau tidak terkontrol dapat menimbulkan morbiditas yang signifikan, termasuk anemia defisiensi besi akibat kehilangan darah kronis. Pada kasus perdarahan berat, pasien dapat memerlukan rawat inap, transfusi darah, terapi cairan, atau terapi hormonal intravena.

Selain itu, paparan estrogen tanpa oposisi yang berlangsung lama pada perdarahan anovulatorik meningkatkan risiko hiperplasia endometrium dan kanker endometrium, dengan sekitar 1–2% wanita yang tidak mendapatkan penanganan adekuat berpotensi berkembang menjadi kanker endometrium.

Morbiditas lain yang dapat terjadi meliputi infertilitas akibat anovulasi kronis, terutama pada pasien dengan PMOS, obesitas, hipertensi, atau resisten insulin. Perdarahan uterus abnormal juga berdampak terhadap kualitas hidup dan produktivitas akibat gangguan menstruasi yang persisten.[1,8,17]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Yelsi Khairani

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. Leal CRV, Vannuccini S, Jain V, Dolmans MM, Di Spiezio Sardo A, Al-Hendy A, Reis FM. Abnormal uterine bleeding: The well-known and the hidden face. J Endometr Uterine Disord. 2024 Jun;6:100071. doi: 10.1016/j.jeud.2024.100071.
8. Garcia OC. Abnormal (Dysfunctional) Uterine Bleeding. Medscape. 2026. https://emedicine.medscape.com/article/257007-overview
17. Mikes BA, Vadakekut ES, Sparzak PB. Abnormal Uterine Bleeding. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532913/
18. Mayanda I B A, Surasandi I G D. Prevalensi kejadian perdarahan uterus abnormal di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar periode Januari – Desember 2020. Intisari Sains Medis. 2021;12(1):107-112 DOI: 10.15562/ism.v12i1.977

Etiologi Perdarahan Uterus Abnormal
Diagnosis Perdarahan Uterus Abno...

Artikel Terkait

  • Red Flag Perdarahan Pascamenopause
    Red Flag Perdarahan Pascamenopause
  • Red Flag Perdarahan Intermenstrual
    Red Flag Perdarahan Intermenstrual
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 19 Maret 2024, 16:16
E-resep untuk pasien AUB dan mens tidak teratur
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Alo dokter, izin konsultasi mengenai pasien2 AUB baik dengan/tanpa riw KB yg mana misal mens nya terus menerus apakah boleh diresepkan as.tranexamat sambil...
Anonymous
Dibalas 10 Januari 2024, 08:27
Rasionalisasi pemberian asam tranexamat per oral dan terapi hormonal per oral pada pasien AUB
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter. Dok mohon izin berdiskusi.Saya beberapa kali mendapat pasien menstruasi lama (ada yg sampe 2 bulan), tidak nyeri, dan tidak teratur...
Anonymous
Dibalas 14 November 2022, 10:14
Warning sign AUB pada pengguna KB Hormonal
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dok, izin diskusi. Bila pasien menggunakan KB hormonal dengan menstruasi lebih dari 3 minggu, perdarahan tidak terlalu banyak sehari 1x ganti pembalut,...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.