Diagnosis Plasenta Previa
Diagnosis plasenta previa atau placenta previa perlu dicurigai pada ibu hamil dengan gejala klinis perdarahan tanpa rasa nyeri pada trimester ke-2 atau 3. Selanjutnya, diagnosis plasenta previa didasarkan pada identifikasi lokasi plasenta melalui ultrasonografi. Pada kondisi ini, pemeriksaan vaginal digital harus dihindari hingga lokasi plasenta dipastikan karena dapat memicu perdarahan.
Ultrasonografi merupakan modalitas utama untuk menegakkan diagnosis, dengan ultrasonografi transvaginal sebagai pilihan karena memiliki akurasi lebih tinggi dibandingkan ultrasonografi transabdominal dalam menentukan hubungan antara tepi plasenta dan ostium uteri internum. Pada kasus dengan kecurigaan spektrum plasenta akreta, MRI dapat digunakan sebagai pemeriksaan tambahan, terutama bila hasil ultrasonografi tidak konklusif.[1,2,6,15]
Anamnesis
Pasien dengan plasenta previa umumnya menunjukkan keluhan perdarahan per vaginam tanpa nyeri (painless vaginal bleeding) yang terjadi pada trimester kedua akhir atau trimester ketiga kehamilan. Perdarahan biasanya berwarna merah segar, muncul secara tiba-tiba tanpa faktor pencetus yang jelas, dan dapat berhenti spontan sebelum berulang kembali dengan jumlah yang lebih banyak.
Pasien umumnya tidak mengeluhkan nyeri perut atau kontraksi uterus yang bermakna saat perdarahan terjadi. Selain itu, perlu digali usia kehamilan saat timbulnya gejala, frekuensi dan volume perdarahan, serta adanya episode perdarahan sebelumnya selama kehamilan.
Riwayat obstetri dan faktor risiko juga penting dievaluasi karena dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa. Faktor-faktor tersebut meliputi riwayat sectio caesaria (SC) atau operasi uterus sebelumnya, riwayat plasenta previa pada kehamilan terdahulu, multiparitas, usia ibu yang lebih lanjut, kehamilan ganda, serta kebiasaan merokok.
Anamnesis juga perlu menilai adanya gejala yang mengarah pada diagnosis banding, seperti nyeri abdomen hebat yang lebih khas pada solusio plasenta atau tanda-tanda persalinan preterm. Selain itu, informasi mengenai pergerakan janin, riwayat pemeriksaan ultrasonografi sebelumnya, dan hasil skrining antenatal yang menunjukkan plasenta letak rendah atau menutupi ostium uteri internum dapat membantu mengarahkan diagnosis.[1,2,6,15]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan untuk membantu diagnosis plasenta previa meliputi keadaan umum dan tanda vital, inspeksi genitalia eksternal, pemeriksaan Leopold, serta pemeriksaan inspekulo. Pada kecurigaan adanya plasenta previa, pemeriksaan bimanual tidak boleh dilakukan.[1,2,6,15]
Keadaan Umum dan Tanda Vital
Pada pemeriksaan keadaan umum dan tanda vital dapat dinilai jumlah perdarahan yang terjadi pada pasien, dan tanda-tanda syok, misalnya hipotensi atau takikardia.[1]
Pemeriksaan Obstetri
Pemeriksaan obstetri dimulai dari inspeksi genitalia eksterna dapat terlihat adanya bekuan darah di sekitar vulva, dan banyaknya darah yang keluar melalui vagina. Pada pemeriksaan Leopold, sering dijumpai kelainan letak pada janin dan tinggi fundus uteri yang rendah, karena kehamilan belum aterm, serta tidak ditemukan nyeri tekan pada uetrus.
Pemeriksaan inspekulo secara hati-hati dapat membedakan sumber perdarahan, apakah dari uterus, vagina, atau varises yang pecah. Terkadang, plasenta dapat terlihat pada pemeriksaan inspekulo, jika serviks dalam keadaan dilatasi.[1,2,6,15]
Diagnosis Banding
Plasenta previa dapat didiagnosis banding dengan abrupsio plasenta, vasa previa, dan plasenta akreta. Pemeriksaan USG, biasa dapat membantu membedakan plasenta previa dengan diagnosis banding.
Abrupsio Plasenta
Abrupsio plasenta merupakan lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum proses persalinan, baik seluruhnya maupun sebagian. Pasien yang mengalami solusio plasenta biasanya mengalami perdarahan pada kehamilan trimester ketiga disertai dengan nyeri yang hebat dan gerakan bayi dalam kandungan yang kurang aktif. Solusio plasenta dapat dibedakan dengan plasenta previa melalui USG.[19]
Vasa Previa
Vasa previa adalah keadaan di mana tali pusat berkembang pada tempat abnormal selain di tengah plasenta. Pada transvaginal sonography (TVS) dapat terlihat pembuluh darah fetus melintang pada serviks. Hal ini dapat menyebabkan ruptur pembuluh darah yang mengancam janin.
Pada pemeriksaan dalam vagina, dapat teraba pembuluh darah pada jalan lahir. Bila terjadi perdarahan, akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan, deselerasi atau bradikardia.[20]
Plasenta Akreta
Plasenta akreta timbul ketika plasenta melekat terlalu dalam pada rahim, misalnya hingga ke miometrium. Pada plasenta akreta, pasien umumnya asimtomatik, tetapi perdarahan dapat timbul pada trimester ketiga kehamilan. Plasenta akreta dapat dideteksi pada USG kehamilan rutin saat pasien melakukan pemeriksaan antenatal.[21]
Pemeriksaan Penunjang
Baku emas pemeriksaan penunjang plasenta previa adalah dengan transvaginal sonography (TVS). Selain itu, pada pasien dengan perdarahan, pemeriksaan laboratorium bisa diperlukan untuk persiapan transfusi.[1]
USG
Ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis plasenta previa dan idealnya dilakukan saat pemeriksaan anatomi janin pada usia kehamilan 18–20 minggu. Selain pada skrining rutin, USG juga diindikasikan pada setiap ibu hamil yang mengalami perdarahan per vaginam selama trimester kedua atau ketiga untuk menentukan lokasi plasenta dan menyingkirkan plasenta previa sebagai penyebab perdarahan.
Pada wanita yang terdiagnosis plasenta previa atau plasenta letak rendah pada pemeriksaan awal, evaluasi ulang dengan USG sekitar usia kehamilan 32 minggu diperlukan untuk menilai migrasi plasenta serta membantu perencanaan cara persalinan. Selain menentukan lokasi plasenta, USG juga bermanfaat untuk menilai usia dan pertumbuhan janin, presentasi janin, kelainan kongenital, serta lokasi insersi tali pusat dan kemungkinan insersi velamentosa.
Temuan USG pada plasenta previa adalah plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum (plasenta previa totalis) atau tepi plasenta yang berada dalam jarak kurang dari 2 cm dari ostium uteri internum (plasenta previa marginal atau low-lying placenta).[1,22]
Transvaginal vs Transabdominal Sonography:
TVS merupakan baku emas untuk diagnosis plasenta previa karena memiliki akurasi yang sangat tinggi, dengan angka positif palsu sekitar 1% dan negatif palsu sekitar 2%, lebih baik dibandingkan ultrasonografi transabdominal (TAS) yang memiliki angka positif palsu dan negatif palsu masing-masing sekitar 7% dan 8%. Bahkan, sekitar 26% kasus yang didiagnosis sebagai plasenta previa melalui TAS terbukti salah diagnosis setelah dilakukan TVS.
Selain menentukan hubungan antara tepi plasenta dan ostium uteri internum, TVS juga dapat mengukur panjang serviks dan jarak tepi plasenta terhadap ostium uteri internum pada kehamilan lanjut, yang penting untuk memperkirakan risiko perdarahan dan menentukan kemungkinan persalinan per vaginam atau kebutuhan sectio caesarea.[1,22]
Pemeriksaan Laboratorium
Pada pasien plasenta previa yang mengalami perdarahan, pemeriksaan hitung darah lengkap diperlukan untuk memantau terjadinya anemia. Pemeriksaan golongan darah juga diperlukan, untuk memfasilitasi kemungkinan kebutuhan transfusi darah. Selain itu, lakukan pemeriksaan koagulopati, seperti kadar fibrinogen, activated partial thromboplastin time, prothrombin time pada pasien yang dicurigai mengalami gangguan hemodinamik.[1,2]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha