Patofisiologi Vulvodinia
Patofisiologi vulvodinia diduga melibatkan hipersensitisasi saraf perifer pada vulva, peningkatan densitas serabut nosiseptor, serta disregulasi respons inflamasi lokal yang memicu nyeri kronis persisten. Selain itu, perubahan pada modulasi nyeri, dan disfungsi otot dasar panggul juga diduga terlibat.[1-3]
Aspek Neurologi Vulva
Vulva dipersarafi oleh cabang labial anterior saraf ilioinguinal, saraf genitofemoral, dan cabang dari saraf pudenda. Saraf pudenda dibagi menjadi 3 cabang utama yakni saraf dorsal klitoris, saraf perineum yang mempersarafi labia mayor dan perineum, serta saraf rektal inferior yang mempersarafi area perianal.[1]
Referensi
(Konten ini khusus untuk dokter. Registrasi untuk baca selengkapnya)