Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Tuberkulosis Paru karyanti 2026-04-29T15:52:30+07:00 2026-04-29T15:52:30+07:00
Tuberkulosis Paru
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Pendahuluan Tuberkulosis Paru

Oleh :
dr. Siti Solichatul Makkiyyah
Share To Social Media:

Tuberkulosis paru atau TB paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis pada paru. Saat ini, Indonesia merupakan kontributor kedua terbesar terhadap epidemi tuberkulosis global, yakni menyumbang sekitar 10% kasus tuberkulosis.

Tuberkulosis paru ditularkan melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau meludah sehingga bakteri terhirup orang di sekitar. Bakteri ini juga dapat menginfeksi organ lain, seperti organ pencernaan, organ limfaretikular, kulit, sistem saraf pusat, sistem muskuloskeletal, hati, dan sistem reproduksi.[1,2]

X-ray TB paru bilateral

Diagnosis tuberkulosis paru ditegakkan berdasarkan pemeriksaan bakteriologis, klinis, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Proses evaluasi diawali dengan anamnesis dan identifikasi keluhan sesuai gejala yang dialami pasien. Tanda dan gejala klinis, bila ada, umumnya bersifat tidak spesifik sehingga sering kali tidak cukup untuk menegakkan diagnosis secara pasti.[2,3]

Gejala aktif tuberkulosis paru dapat berupa batuk, penurunan berat badan, anoreksia, demam, keringat malam, batuk berdarah (hemoptisis), dan lemas. Pemeriksaan fisik toraks dapat menunjukkan adanya ronkhi, sedangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan bisa berupa rontgen toraks, pewarnaan bakteri tahan asam (BTA) sputum, kultur, dan pemeriksaan genetik amplifikasi asam nukleat.[1-3]

Pemeriksaan utama untuk mendeteksi tuberkulosis paru di Indonesia saat ini adalah tes cepat molekuler (TCM) secara bakteriologis. TCM digunakan untuk mendiagnosis tuberkulosis paru maupun ekstraparu, baik pada kasus baru maupun pasien dengan riwayat pengobatan sebelumnya. TCM bisa digunakan pada semua kelompok usia termasuk pasien HIV. TCM menggunakan spesimen dahak untuk terduga TB paru dan spesimen non-dahak untuk terduga TB ekstraparu.[2]

Regimen standar pengobatan tuberkulosis paru adalah menggunakan kombinasi beberapa antibiotik yang dikenal sebagai obat antituberkulosis (OAT), yang umumnya terdiri atas  isoniazid, rifampicin, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin.[2]

OAT pada kasus sensitif obat (SO) diberikan selama 6 bulan dan diminum setiap hari, yang terdiri dari fase intensif selama 2 bulan dengan kombinasi isoniazid (H), rifampicin (R), pirazinamid (Z), dan etambutol (E), dilanjutkan dengan fase lanjutan selama 4 bulan dengan isoniazid (H) dan rifampicin (R). Regimen ini dapat diberikan pada TB paru, ekstraparu, pasien HIV, serta pasien dengan komorbid diabetes melitus.[2,4]

Sementara itu, pengobatan tuberkulosis resisten obat (TB RO) di Indonesia mengikuti pedoman nasional dan disesuaikan dengan pola resistensi serta kondisi klinis pasien. Secara umum, tersedia regimen jangka pendek 6 bulan menggunakan kombinasi BpaLM (bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moxifloxacin) atau BpaL (bedaquiline, pretomanid, dan linezolid).[2,4]

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. DrRiawati MMedPH

Referensi

1. Ahmed F., Andrews K., Arshad D., Nekuri P. A New FDA-approved Antibiotic for Drug-resistant Tuberculosis Treatment. Journal of the College of Physicians and Surgeons Pakistan. College of Physicians and Surgeons Pakistan; 1 June 2020; 30(06): 559–560. DOI:10.29271/jcpsp.2020.06.559
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Panduan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Tuberkulosis Langkah dalam Pencegahan, Deteksi Dini, dan Pendampingan Pasien TBC di Masyarakat. 2025.
3. Tobin EH., Tristram D. Tuberculosis Overview. StatPearl. StatPearls publishing; 2024. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441916/
4. World Health Organization (WHO). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 4: Treatment and care. 2025.

Patofisiologi Tuberkulosis Paru

Artikel Terkait

  • Red Flag Keringat Malam
    Red Flag Keringat Malam
  • Pemeriksaan untuk Pasien Hemoptisis
    Pemeriksaan untuk Pasien Hemoptisis
  • Diagnosis Lesi Kavitas pada Rontgen Toraks
    Diagnosis Lesi Kavitas pada Rontgen Toraks
  • Perbedaan PCR GeneXpert MTB/RIF Konvensional dan Ultra untuk Diagnosis Tuberkulosis – Artikel Terkini!
    Perbedaan PCR GeneXpert MTB/RIF Konvensional dan Ultra untuk Diagnosis Tuberkulosis – Artikel Terkini!
  • TCM atau Tes Cepat Molekuler untuk Diagnosis Tuberkulosis
    TCM atau Tes Cepat Molekuler untuk Diagnosis Tuberkulosis

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 10 Maret 2026, 17:27
Pasien TB dengan riwayat ckd saat minum MDT mengalami nausea hebat dan mengalami nefrotoksisitas.
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter.Ijin bertanya ada pasien dengan CKD stage 3 ec autoimun yang sudah konsumsi imunosupresan >1 tahun positif TB paru.Saat minum MDT mengalami nausea...
Anonymous
Dibalas 02 Maret 2026, 14:50
TBC paru dengan TCM hasilnya tbc indeterminate
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter. Saya memiliki pasien dengan riwayat batuk berdahak hampir 1 bulan, berat badan banyak turun. Saya cek dahak TCM hasilnya tbc indeterminate...
Anonymous
Dibalas 13 Januari 2026, 16:02
Batuk darah pada pasien lansia dengan riwayat DM
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO Dokter, Ijin diskusi dok, saya pernah menangani pasien laki laki usia 79 tahun dengan keluhan batuk bercak darah. Keluhan dialami sejak 1 hari sebelum ke...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.