Prognosis Obstructive Sleep Apnea
Prognosis obstructive sleep apnea (OSA) umumnya baik dengan terapi, tetapi prognosis jangka panjang dapat kurang baik pada pasien yang tidak mendapat atau tidak mengikuti regimen terapi dengan baik. Komplikasi OSA meliputi hipertensi, infark miokard, atrial fibrilasi, stroke, hipertensi pulmonal, gangguan kognitif, depresi, serta peningkatan risiko kecelakaan terkait rasa kantuk.[5,9]
Komplikasi
Komplikasi OSA terutama melibatkan sistem kardiovaskular dan metabolik akibat hipoksia intermiten, peningkatan aktivitas simpatis, serta fragmentasi tidur yang berulang. OSA berhubungan dengan peningkatan risiko stroke, hipertensi, gagal jantung, aritmia, infark miokard, serta dapat disertai hipertensi pulmonal, hipoksemia, dan gangguan fungsi jantung.
Selain itu, OSA juga berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes melitus tipe 2 dan gangguan metabolik lainnya, terutama pada pasien dengan obesitas atau komorbiditas kardiometabolik. Di luar komplikasi kardiometabolik, OSA dapat menyebabkan kantuk berlebihan pada siang hari, gangguan konsentrasi dan fungsi kognitif, depresi, kecemasan, serta penurunan kualitas hidup akibat tidur yang tidak efektif.
Kantuk dan penurunan fungsi psikomotor juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja. Pada OSA yang tidak tertangani, risiko kecelakaan kendaraan bermotor dilaporkan sekitar 3 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum.[5,9]
Prognosis
Prognosis OSA dalam jangka pendek umumnya baik apabila kondisi ditangani dengan tepat, terutama melalui terapi continuous positive pressure (CPAP). Terapi ini dapat mengurangi kantuk berlebihan pada siang hari, memperbaiki kualitas tidur dan kualitas hidup, menurunkan tekanan darah, serta memperbaiki fungsi mekanik ventrikel kiri dan kanan.
Namun, prognosis jangka panjang dipengaruhi oleh derajat OSA, komorbiditas, dan kepatuhan terhadap terapi. Inkonsistensi penggunaan CPAP dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular dan serebrovaskular.
Di sisi lain, OSA yang tidak tertangani, khususnya OSA sedang hingga berat, memiliki prognosis yang lebih buruk karena berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas. OSA berat yang tidak diobati dilaporkan berhubungan dengan peningkatan risiko mortalitas semua sebab sekitar 2 kali lipat.[5,9]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha