Suplementasi zat besi sering diberikan kepada anak-anak berusia 6–24 bulan untuk mencegah anemia defisiensi zat besi. Akan tetapi, efektivitas dan keamanan pemberian suplementasi zat besi kepada anak-anak ini perlu dikaji lebih jauh.
Defisiensi zat besi pada bayi dan anak-anak bisa menimbulkan masalah perkembangan yang serius. Zat besi diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Zat ini juga berperan penting dalam perkembangan imunitas dan saraf, serta regulasi metabolisme energi dan kerja otot.[1-3]
Sekilas tentang Anemia Defisiensi Besi pada Bayi dan Anak
Simpanan zat besi dalam tubuh bayi akan menurun pada 3 bulan pertama postnatal. Tapi umumnya hal ini tidak menimbulkan gangguan karena ada asupan yang memadai dari air susu ibu (ASI) maupun susu formula. Bila simpanan zat besi dalam tubuh berkurang hingga tidak mencukupi pembentukan hemoglobin, maka terjadi anemia defisiensi besi. Anemia ini ditandai dengan adanya eritrosit mikrositik hipokromik.[4,5]
Defisiensi zat besi pada 2 tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan kecerdasan, serta gangguan perkembangan motorik maupun emosional. Defisiensi zat besi pada bayi bisa diatasi dengan pemberian suplementasi zat besi, baik dalam bentuk oral drops, formula kaya zat besi, susu kaya zat besi, dan makanan (termasuk daging).[5,6]
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa 1 dari 3 anak mengalami anemia. Hal ini membuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan suplementasi zat besi pada anak, terutama bayi usia 4 bulan sampai 2 tahun.[7,8]
Dosis Suplementasi Zat Besi
Dosis suplementasi zat besi yang terbaik untuk anak-anak tidak terpatok secara pasti. Namun, dosis yang direkomendasikan tidak lebih dari 2 mg/kgBB/hari. Suplementasi zat besi dengan dosis lebih tinggi pada bayi prematur dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) tidak memberikan manfaat yang lebih baik daripada dosis lebih rendah.[4,8]
Panduan WHO menyarankan pemberian zat besi elemental dalam dosis:
- 10–12,5 mg/hari pada anak usia 6–23 bulan selama 3 bulan berturut-turut
- 30 mg/hari pada anak usia 24-59 bulan selama 3 bulan berturut-turut.
Rekomendasi ini berlaku di daerah dengan prevalensi anemia di atas 40%. Bila prevalensinya antara 20–40%, suplementasi bisa diberikan secara intermiten. Pemberian intermiten dilaporkan bisa meningkatkan simpanan zat besi tapi tidak seefektif pemberian secara harian untuk mencegah anemia.[3,9]
Sementara itu, IDAI merekomendasikan pemberian suplementasi zat besi dalam dosis:
- 2 mg/kgBB/hari pada anak usia 4 bulan hingga 2 tahun, dengan dosis maksimum 15 mg/hari.
- 1 mg/kgBB/hari pada anak usia 2-5 tahun, diberikan 2 kali/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun.
Menurut IDAI, pemberian suplementasi zat besi ini dianjurkan di area dengan prevalensi defisiensi besi yang tinggi, selama bayi mendapat ASI eksklusif, serta pada anak yang tidak mendapat asupan besi yang cukup dari makanan. Pada anak usia di atas 2 tahun yang sehat dan mendapat asupan zat besi yang cukup, suplementasi zat besi juga masih bisa dipertimbangkan untuk diberikan.[8]
Manfaat Suplementasi Zat Besi
Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan deplesi zat besi pada bayi usia 6–24 bulan, yaitu kekurangan simpanan zat besi akibat prematuritas atau BBLR, meningkatnya kebutuhan selama masa pertumbuhan dan proses eritropoesis, kurangnya asupan nutrisi yang mengandung zat besi, dan kehilangan darah (misalnya akibat infestasi parasit). Beberapa faktor prenatal juga berperan, termasuk anemia saat kehamilan, insufisiensi plasenta akibat hipertensi maternal, diabetes gestasional, serta perdarahan antenatal dan intranatal.[10,11]
Pemberian suplementasi zat besi pada bayi bisa diberikan sebagai profilaksi terhadap anemia. Pemberian suplementasi zat besi dosis rendah pada bayi usia 6–24 bulan juga dilaporkan bisa meningkatkan hemoglobin dan memperbaiki parameter hematologis secara signifikan.
Namun, penelitian yang ada tidak menemukan perbedaan dalam luaran neuro-developmental dan pertumbuhan (berat, panjang, maupun lingkar kepala) antara bayi yang mendapatkan suplemen dan tidak. Tidak ada perbedaan perkembangan mental, emosional, dan kognitif antara bayi yang mendapatkan suplemen dan tidak.[1,5,9,10]
Pada bayi yang prematur atau BBLR, pemberian suplementasi zat besi dimulai dari usia 2 bulan sampai usia 12 bulan. Suplementasi zat besi bisa meningkatkan simpanan zat besi setelah usia 2 bulan dan menurunkan risiko terjadinya anemia pada bayi prematur atau BBLR. Namun, studi melaporkan bahwa suplementasi zat besi tidak memengaruhi perkembangan fisik maupun neuro-developmental.[3-5]
Literatur lain juga menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil optimal, bayi prematur yang mendapat ASI eksklusif dapat diberikan suplementasi zat besi sejak usia 2 minggu dan diteruskan sampai umur 1 tahun. Secara umum, pemberian suplementasi zat besi saja tidak cukup untuk mencegah anemia pada bayi. Suplementasi perlu disertai dengan pengaturan makanan yang baik selama kehamilan.[6]
Efek Samping Suplementasi Zat Besi
Suplementasi zat besi jarang menimbulkan overdosis ataupun efek samping yang berat. Namun, suplementasi zat besi harus disimpan di tempat yang aman dan tidak mudah dijangkau anak-anak. Ini karena konsumsi beberapa tablet zat besi saja sudah cukup untuk menyebabkan terjadinya overdosis pada anak-anak.
Efek samping dari suplementasi zat besi yang paling sering ditemukan adalah gangguan saluran pencernaan, misalnya diare, muntah, konstipasi, dan perubahan warna tinja. Suplementasi zat besi yang berlebihan pada bayi prematur diduga bisa memicu atau memperburuk necrotizing enterocolitis dan retinopati akibat prematuritas.[4,5,12]
Akumulasi zat besi pada bayi prematur akibat pemberian suplementasi mungkin terjadi karena metabolismenya belum matur. Akumulasi ini mungkin akan menjadi faktor predisposisi gangguan neurodegenerasi di masa dewasa. Oleh karena itu, pemberian suplementasi zat besi pada bayi prematur perlu dipertimbangkan dengan hati-hati dan dipantau dengan ketat.[11]
Kesimpulan
Sebagai negara dengan tingkat prevalensi anemia yang tinggi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sesuai dengan WHO merekomendasikan pemberian suplementasi zat besi pada bayi dan anak, terutama pada bayi ASI eksklusif, atau anak yang tinggal di area dengan prevalensi defisiensi besi yang tinggi, atau jika asupan zat besi dari makanan tidak cukup.
Dalam memberikan zat besi, dokter perlu mempertimbangkan efek samping yang mungkin terjadi, seperti gangguan pencernaan, serta kesulitan orang tua dalam memberikan zat besi setiap hari selama waktu yang panjang.
Dokter bisa mempertimbangkan untuk tidak memberikan suplementasi secara rutin pada pasien tanpa faktor risiko. Pastikan juga kondisi prenatal ibu dan asupan nutrisi ibu saat menyusui baik sebelum memutuskan untuk tidak memberikan suplementasi zat besi. Bila memang terdapat faktor risiko dan indikasi untuk pemberian suplementasi, zat besi sebaiknya diberikan.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
