Penggunaan Pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Moxifloxacin
Penggunaan moxifloxacin pada kehamilan dan menyusui tidak disarankan karena moxifloxacin termasuk dalam kategori C oleh FDA dan B3 oleh TGA. Meski tidak diketahui apakah moxifloxacin dikeluarkan ke ASI manusia, studi pada hewan menunjukkan bahwa obat ini dikeluarkan ke air susu.[9-11]
Penggunaan pada Kehamilan
Moxifloxacin tergolong obat kategori C menurut FDA, karena belum ada studi yang adekuat yang telah dilakukan pada wanita hamil, sehingga pemberian hanya dilakukan bila manfaat dianggap lebih besar dari kemungkinan risiko yang timbul.[9]
TGA memasukkan moxifloxacin dalam kategori B3. Ini berarti obat telah digunakan oleh sejumlah kecil ibu hamil dan wanita usia produktif tanpa peningkatan frekuensi malformasi maupun efek yang merugikan secara langsung atau tidak langsung terhadap fetus. Namun, studi pada hewan menunjukkan peningkatan kejadian kerusakan fetus, yang signifikansinya pada fetus manusia belum diketahui dengan pasti.[10]
Keamanan penggunaan moxifloxacin selama kehamilan belum dapat dipastikan karena tidak tersedia data yang memadai pada manusia untuk menentukan risiko terhadap janin. Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, moxifloxacin tidak terbukti menyebabkan malformasi kongenital pada tikus, kelinci, maupun monyet pada paparan hingga 0,24–2,5 kali dosis klinis manusia.
Namun, pada dosis yang menimbulkan toksisitas maternal, ditemukan beberapa efek merugikan, seperti penurunan berat badan janin dan neonatus, keterlambatan perkembangan rangka, peningkatan variasi skeletal, peningkatan kehilangan janin, serta penurunan kelangsungan hidup neonatus. Temuan ini menunjukkan adanya potensi risiko terhadap perkembangan janin meskipun tidak ditemukan efek teratogenik yang jelas.
Bila ibu mengalami pneumonia, eksaserbasi bakteri akut pada bronkitis kronis, rhinosinusitis bakterial, konjungtivitis bakterial, infeksi kulit, atau infeksi intraabdomen, sebaiknya mempertimbangkan pilihan terapi lain yang sudah terbukti keamanannya bagi ibu hamil.[3,11]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Keamanan penggunaan moxifloxacin pada ibu menyusui belum dapat dipastikan karena belum diketahui secara pasti apakah obat ini diekskresikan ke dalam ASI manusia. Namun, berdasarkan penelitian pada hewan, moxifloxacin ditemukan dalam susu tikus menyusui, sehingga kemungkinan obat ini juga dapat diekskresikan ke dalam ASI manusia.
Meskipun jumlah obat yang terdeteksi dalam susu tikus sangat rendah (sekitar 0,03% dari dosis yang diberikan), potensi paparan pada bayi yang disusui tetap perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu, keputusan penggunaan moxifloxacin pada ibu menyusui harus mempertimbangkan manfaat menyusui bagi bayi, kebutuhan klinis ibu terhadap terapi antibiotik, serta potensi risiko efek samping pada bayi yang disusui.[3]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha