Pendahuluan Defisiensi Citrin
Defisiensi citrin adalah kelainan metabolisme resesif autosomal yang menyebabkan penyakit liver, abnormalitas metabolisme kolesterol, dan kadar amonia tinggi, yang bisa mencetuskan kejang atau kelainan neurologi lainnya. Defisiensi citrin disebabkan oleh mutasi di gen SLC25A13, yang mengkode aspartate–glutamate carrier 2 (AGC2), atau disebut citrin.
Citrin merupakan komponen jalur malat-aspartat, yang penting untuk mentransfer Nicotinamide Adenine Dinucleotide (NADH) dan aspartat dari mitokondria ke sitosol. Ketika citrin mengalami kerusakan atau tidak ada, jalur malat-aspartat dan siklus urea akan terganggu secara langsung.
Defisiensi citrin relatif umum terjadi pada populasi Asia Timur dan sekarang diakui sebagai penyakit lintas etnis. Prevalensi carrier mutasi gen SLC25A13 penyebab defisiensi citrin diperkirakan sekitar 1 dari 65 individu di Tiongkok, 1 dari 112 di Korea, dan 1 dari 69 di Jepang.[1–3]
Defisiensi citrin berkembang dalam tiga tahap klinis yang bergantung pada usia. Neonatal intrahepatic cholestasis caused by citrin deficiency (NICCD) muncul pada neonatus dan bayi dengan kolestasis intrahepatik dan gangguan fungsi hati. Gagal tumbuh dan dislipidemia, atau failure to thrive and dyslipidemia caused by citrin deficiency (FTTDCD), terjadi pada bayi besar hingga anak.[2,3]
Citrullinemia type II (CTLN2), yang kini disebut adolescent and adult citrin deficiency (AACD), muncul pada remaja akhir atau dewasa dengan episode hiperamonemia hingga menimbulkan gangguan neurologis dan neuropsikiatri.
Karakteristik khas pada individu dengan defisiensi citrin adalah preferensi yang kuat terhadap makanan tinggi protein dan tinggi lemak, disertai penolakan yang nyata terhadap makanan tinggi karbohidrat atau manis. Kelebihan karbohidrat atau konsumsi alkohol dapat memicu krisis metabolik akut pada pasien yang rentan.[1,3]
Terapi defisiensi citrin mengutamakan konsumsi diet tinggi protein dan lemak, disertai diet rendah karbohidrat. Suplementasi medium-chain triglyceride (MCT) merupakan terapi adjuvan yang penting karena menyediakan energi bagi hepatosit, meningkatkan proses lipogenesis, serta mengaktifkan shuttle malat–sitrat.[1,4]
NICCD umumnya berprognosis baik dengan perbaikan dalam 12–24 bulan, meski sebagian kecil pasien berkembang menjadi penyakit hati berat. FTTDCD relatif stabil, akan tetapi 10–20% kasus mengalami progresi ke AACD. AACD merupakan fenotipe yang paling berat dengan risiko mortalitas, terutama pada pasien dengan tanda ensefalopati hepatik akut. Oleh karena itu, diagnosis dini dan manajemen metabolik yang tepat penting untuk mencegah progresi penyakit dan komplikasi serius.[2,5]
