Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Middle East Respiratory Syndrome (MERS) general_alomedika 2026-08-25T16:54:23+07:00 2026-08-25T16:54:23+07:00
Middle East Respiratory Syndrome (MERS)
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Pendahuluan Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

Oleh :
Rainey Ahmad Fajri Putranta
Share To Social Media:

Middle East Respiratory Syndrome, atau biasa disingkat menjadi MERS, adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus MERS-CoV, dan pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada tahun 2012. Sejak itu, MERS telah menyebar ke Timur Tengah dan beberapa negara di Asia dan Eropa.[1]

Diagnosis MERS dapat ditegakkan dengan pemeriksaan RT-PCR dengan mengambil sampel dari saluran pernapasan bagian bawah, dan dikirim ke Laboratorium Badan Litbangkes Republik Indonesia. Tanda dan gejala yang biasa muncul adalah demam, batuk, dan sesak. MERS dapat berlanjut menjadi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), yang apabila tidak diobati dapat berkembang menjadi sepsis, syok sepsis, dan berakhir pada kematian.[2]

Middle East Respiratory Syndrome, MERS

Pemberian penatalaksanaan suportif dinilai efektif dalam penanganan MERS, dikarenakan belum ada antiviral yang terbukti efektif. Terapi suportif meliputi pemberian kristaloid serta oksigen. Pemberian cairan harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat memperburuk oksigenisasi apabila diberikan secara berlebihan. Penggunaan alat bantu pernapasan seperti ventilator juga disarankan untuk tata laksana gagal napas.[1,3-5]

MERS dapat dicegah dengan dilakukannya edukasi dan promosi kesehatan. Pencegahan dan promosi kesehatan berkisar pada penggunaan alat pelindung diri (APD) serta menghindari faktor risiko.[1]

Vaksinasi belum dapat dilakukan karena belum ada vaksin yang melewati uji klinis, sehingga efektivitasnya masih dipertanyakan. Pencegahan MERS juga dilakukan pemerintah dengan cara melakukan skrining di bandar udara terhadap orang-orang yang bepergian ke daerah Timur Tengah dan diberlakukannya ruang isolasi pada pasien yang dicurigai terinfeksi MERS.[6]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. World Health Organization (WHO). Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV), Fact Sheet. Geneva: WHO. 2025. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/middle-east-respiratory-syndrome-coronavirus-(mers-cov)
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV). Jakarta: Kementerian Kesehatan. 2017. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/Buku_Kesiagaan_MERS.pdf
3. Memish ZA, Perlman S, Van Kerkhove MD, Zumla A. Middle East respiratory syndrome. Lancet. 2020 Mar 28;395(10229):1063-1077. doi: 10.1016/S0140-6736(19)33221-0.
4. Ramadan N, Shaib H. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV): A review. Germs. 2019 Mar 1;9(1):35-42. doi: 10.18683/germs.2019.1155.
5. WHO. Clinical management of severe acute respiratory infection when Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) infection is suspected. 2019. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/7ff560f7-a084-4f21-a722-ee060cacd05a/content
6. CDC. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). 2024. https://www.cdc.gov/mers/hcp/clinical-overview/index.html

Patofisiologi Middle East Respir...

Artikel Terkait

  • Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
    Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
  • Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
    Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
  • Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
    Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
  • Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19
    Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19
Diskusi Terbaru
dr.Eirene Priscilla C S
Dibalas 5 jam yang lalu
Batu Ginjal Berulang, Amankah Hanya Dilakukan Observasi?
Oleh: dr.Eirene Priscilla C S
2 Balasan
ALO Dokter.Pasien laki-laki berusia 40 tahun datang dengan keluhan nyeri hebat di pinggang yang terasa memberat sejak 1 minggu terakhir. Keluhan disertai...
Anonymous
Dibalas kemarin, 07:53
Pasien perempuan usia 9 tahun dengan keluhan flek coklat dan diikuti perdarahan pervagina, apa ini menarche?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter, saya memiliki pasien anak perempuan usia 9 tahun datang dengan keluhan flek coklat dan diikuti perdarahan pervagina, menurut orang tua menyerupai...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 07 September 2026, 15:57
Ikuti Webinar ber-SKP Kemenkes - AI pada Kasus Obgyn: Dari Promil hingga Menopause - Kamis, 24 September 2026 Jam: 10.00- 11.30 WIB
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter.Pasien perempuan dengan usia kehamilan 10 minggu datang dengan keluhan batuk dan pilek sejak 3 hari. Pasien bertanya apakah aman meminum obat flu...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.