Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) general_alomedika 2026-08-25T17:07:39+07:00 2026-08-25T17:07:39+07:00
Middle East Respiratory Syndrome (MERS)
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

Oleh :
Rainey Ahmad Fajri Putranta
Share To Social Media:

Penatalaksanaan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) bersifat suportif mencakup oksigen dan ventilasi, hidrasi, antipiretik, analgesik, serta antibiotik untuk superinfeksi bakteri. Hingga saat ini, belum ada terapi khusus yang dinilai bermanfaat pada terapi MERS, termasuk pemberian antivirus spesifik.

Untuk mencegah penyebaran, pasien yang dicurigai terinfeksi virus MERS-CoV harus dirawat di ruang isolasi agar tidak menginfeksi pasien lainnya. Pasien akan dimonitoring sampai hasil RT PCR terkonfirmasi negatif sebanyak 2 kali dan tidak lagi ditemukan tanda infeksi. Tenaga medis harus menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari terjangkit infeksi menular MERS saat merawat pasien. [1,2,4-6,13,20]

Terapi Oksigen dan Ventilasi

Pasien MERS dengan pneumonia dapat diberikan terapi oksigen apabila ditemukan tanda-tanda severe acute respiratory infection (SARI), yaitu depresi napas berat dan hipoksemia (SpO2 < 90%). Pemberian oksigen dimulai dari 5 L/menit, lalu dititrasi hingga SpO2 ≥90% pada orang dewasa yang tidak hamil, dan SpO2 ≥92-95% pada ibu hamil.

Pemberian oksigen 10-15 L/menit dengan Non-rebreathing Oxygen Face Mask, dan konsentrasi oksigen yang tinggi dapat dilakukan apabila SpO2 tetap turun walaupun telah diberikan oksigen 5L/menit. Apabila tetap tidak membaik, mungkin dapat terjadi tingginya fraksi shunt intrapulmonary, dapat di intubasi dan menggunakan ventilasi mekanis.

Terdapat 2 buah teknik pemberian ventilasi mekanik, ventilasi non-invasif, yaitu dengan memberikan ventilasi melalui masker dengan support, dan ventilasi invasif melalui penggunaan endotracheal tube atau trakeostomi.

Penggunaan ventilasi non-invasif dapat dilakukan apabila terdapat petugas medis yang terlatih dan harus dilakukan secara dini dan harus dipantau ketat di ICU. Apabila ventilasi non-invasif tidak berhasil, segera lakukan intubasi.[4-6,20]

Farmakoterapi

Farmakoterapi diberikan sesuai dengan indikasi pada pasien, meliputi antipiretik seperti paracetamol, antiemetik seperti ondansetron, ataupun mukolitik, antitusif, dan ekspektoran seperti N-acetylcysteine, dextromethorphan, guaifenesin, dan ambroxol apabila terdapat gejala infeksi pernapasan pada pasien. Pada kasus yang lebih berat seperti syok sepsis, terapi cairan dan penggunaan vasopressor diberikan sesuai dengan pertimbangan klinis

Antibiotik tidak diberikan pada pasien MERS kecuali terdapat ko-infeksi bakterial. Pemberian kortikosteroid telah diteliti menghambat viral clearance dan antiviral masih bersifat kontroversial karena lemahnya hasil penelitian yang ada.

Hingga saat ini belum ada antiviral khusus untuk MERS, tetapi ribavirin dapat diberikan pada pasien MERS. Menurut studi kombinasi ribavirin dengan interferon-ɑ2b seperti peginterferon alfa-2B dapat menurunkan viral load.

Akan tetapi, penggunaan ribavirin dan interferon sendiri juga memiliki efek samping, yaitu anemia hemolitik untuk ribavirin dan disfungsi myeloid untuk interferon. Selain itu, dosis ribavirin dan interferon yang digunakan belum terfiksasi, pemberiannya masih berdasarkan penelitian deskriptif.

Pemberian vasopressor, seperti epinephrine, norepinephrine, dan dopamin dapat dilakukan apabila gejala syok berlanjut walau sudah diberikan resusitasi cairan.[3,5,20-22]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. World Health Organization (WHO). Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV), Fact Sheet. Geneva: WHO. 2025. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/middle-east-respiratory-syndrome-coronavirus-(mers-cov)
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV). Jakarta: Kementerian Kesehatan. 2017. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/Buku_Kesiagaan_MERS.pdf
3. Memish ZA, Perlman S, Van Kerkhove MD, Zumla A. Middle East respiratory syndrome. Lancet. 2020 Mar 28;395(10229):1063-1077. doi: 10.1016/S0140-6736(19)33221-0.
4. Ramadan N, Shaib H. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV): A review. Germs. 2019 Mar 1;9(1):35-42. doi: 10.18683/germs.2019.1155.
5. WHO. Clinical management of severe acute respiratory infection when Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) infection is suspected. 2019. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/7ff560f7-a084-4f21-a722-ee060cacd05a/content
6. CDC. Middle East Respiratory Syndrome (MERS). 2024. https://www.cdc.gov/mers/hcp/clinical-overview/index.html
13. Azhar EI, Hui DSC, Memish ZA, Drosten C, Zumla A. The Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Infect Dis Clin North Am. 2019 Dec;33(4):891-905. doi: 10.1016/j.idc.2019.08.001
20. BMJ Best Practice. Middle East respiratory syndrome (MERS). 2026. https://bestpractice.bmj.com/topics/en-gb/1301
21. Totura AL, Bavari S. Broad-spectrum coronavirus antiviral drug discovery. Expert Opin Drug Discov. 2019 Apr;14(4):397-412. doi: 10.1080/17460441.2019.1581171. Epub 2019 Mar 8. PMID: 30849247; PMCID: PMC7103675.
22. Xu J, Jia W, Wang P, Zhang S, Shi X, Wang X, Zhang L. Antibodies and vaccines against Middle East respiratory syndrome coronavirus. Emerging microbes & infections. 2019 Jan 1;8(1):841-56.

Diagnosis Middle East Respirator...
Prognosis Middle East Respirator...

Artikel Terkait

  • Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
    Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
  • Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
    Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
  • Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
    Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
  • Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19
    Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19
Diskusi Terbaru
dr.Eirene Priscilla C S
Dibalas 9 jam yang lalu
Batu Ginjal Berulang, Amankah Hanya Dilakukan Observasi?
Oleh: dr.Eirene Priscilla C S
1 Balasan
ALO Dokter.Pasien laki-laki berusia 40 tahun datang dengan keluhan nyeri hebat di pinggang yang terasa memberat sejak 1 minggu terakhir. Keluhan disertai...
Anonymous
Dibalas kemarin, 07:53
Pasien perempuan usia 9 tahun dengan keluhan flek coklat dan diikuti perdarahan pervagina, apa ini menarche?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter, saya memiliki pasien anak perempuan usia 9 tahun datang dengan keluhan flek coklat dan diikuti perdarahan pervagina, menurut orang tua menyerupai...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 07 September 2026, 15:57
Ikuti Webinar ber-SKP Kemenkes - AI pada Kasus Obgyn: Dari Promil hingga Menopause - Kamis, 24 September 2026 Jam: 10.00- 11.30 WIB
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter.Pasien perempuan dengan usia kehamilan 10 minggu datang dengan keluhan batuk dan pilek sejak 3 hari. Pasien bertanya apakah aman meminum obat flu...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.