Indikasi dan Dosis Nimodipine
Indikasi nimodipine adalah untuk memperbaiki luaran neurologis dengan mengurangi kejadian dan derajat keparahan defisit iskemik pada pasien dengan perdarahan subarachnoid akibat ruptur aneurisma intrakranial. Dosis yang biasa digunakan adalah 60 mg, diberikan setiap 4 jam, selama 21 hari berturut-turut.[1-4,8]
Perdarahan Subarachnoid
Nimodipine diindikasikan pada perdarahan subarachnoid akibat ruptur aneurisma intrakranial untuk memperbaiki luaran neurologis dengan menurunkan insidensi dan derajat defisit iskemik tertunda, terutama yang berkaitan dengan vasospasme serebral, tanpa bergantung pada derajat keparahan klinis awal pasien (Hunt and Hess grade I–V).
Meskipun manfaat nimodipine dalam menurunkan mortalitas belum sepenuhnya terbukti, penggunaan nimodipine secara konsisten telah dilaporkan dapat mengurangi kejadian dan beratnya defisit neurologis iskemik yang muncul terlambat setelah perdarahan subarachnoid.[8]
Dosis Dewasa
Nimodipine diberikan secara oral dengan dosis 60 mg setiap 4 jam selama 21 hari berturut-turut, dan terapi harus dimulai sedini mungkin, idealnya dalam 96 jam setelah onset perdarahan subarachnoid.
Pada kasus tanpa komplikasi dengan perbaikan aneurisma dini, terapi dapat dipertimbangkan untuk dihentikan setelah minimal 14 hari. Sementara itu, pada perbaikan aneurisma yang lebih lambat, beberapa klinisi menganjurkan kelanjutan terapi setidaknya 5 hari pascaoperasi untuk menurunkan risiko vasospasme pascaoperatif.
Meskipun dosis lebih rendah pernah diusulkan pada pasien dengan tekanan darah tidak stabil, dosis standar tetap direkomendasikan dengan pemantauan ketat terhadap efek hipotensi.[8]
Stroke Iskemik Akut (Off Label)
Pada stroke iskemik akut, nimodipine telah dipelajari sebagai terapi off-label dengan tujuan meningkatkan pemulihan neurologis melalui vasodilatasi serebral dan peningkatan perfusi jaringan otak iskemik.
Bukti yang tersedia masih terbatas, namun beberapa studi menunjukkan bahwa nimodipine dapat memberikan manfaat dalam perbaikan luaran neurologis dan penurunan mortalitas dibandingkan terapi ekspansi volume plasma atau plasebo, sehingga penggunaannya belum menjadi standar terapi rutin.[8]
Dosis Dewasa
Dari sisi dosis, nimodipine pada stroke iskemik akut telah digunakan secara oral dengan total dosis 120 mg/hari, yang diberikan dalam dosis terbagi, selama 21-28 hari. Karena indikasi ini bersifat off-label dan data efikasi serta keamanannya belum konklusif, penggunaan nimodipine pada stroke iskemik akut harus dipertimbangkan secara selektif dengan penilaian terhadap risiko hipotensi dan kondisi hemodinamik pasien.[8]
Migraine (Off Label)
Pada migraine, nimodipine telah digunakan secara off-label terutama sebagai terapi profilaksis dengan tujuan menurunkan frekuensi serangan dan derajat serta durasi nyeri kepala vaskular, termasuk migraine klasik dan migraine umum. Namun, hasil studi menunjukkan manfaat yang inkonsisten, dan peran nimodipine dalam tata laksana migrain masih belum jelas dibandingkan terapi standar lain.[8]
Dosis Dewasa
Nimodipine diberikan secara oral dengan total dosis 120 mg/hari dalam dosis terbagi sebagai profilaksis migraine. Mengingat keterbatasan bukti efektivitas dan potensi efek samping kardiovaskular seperti hipotensi, penggunaan nimodipine untuk migraine sebaiknya dipertimbangkan secara selektif dan tidak direkomendasikan sebagai terapi lini pertama.[8]
Penggunaan Pada Populasi Khusus
Penggunaan nimodipine memerlukan penyesuaian dosis pada populasi khusus, yakni populasi dengan gangguan hepar dan lansia.[1,2]
Gangguan Hepar
Bioavailabilitas meningkat pada pasien sirosis, sehingga dosis nimodipine perlu dikurangi. Dosis yang direkomendasikan untuk pasien sirosis adalah 30 mg setiap 4 jam, diikuti dengan memantau tekanan darah dan denyut jantung.[1,2]
Geriatri
Pada pasien geriatri atau lansia, pemberian nimodipine harus berhati-hati, terutama pada pasien dengan fungsi jantung, hepar, atau renal yang menurun. Satu laporan kasus menunjukkan bahwa efek samping seperti hipotensi dan blok AV dari pemberian nimodipine dapat lebih menonjol pada pasien lansia yang memiliki genotipe CYP3A5 (kemampuan metabolisme buruk).[1,2]