Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Farmakologi Prochlorperazine annisa-meidina 2026-07-21T11:50:38+07:00 2026-07-21T11:50:38+07:00
Prochlorperazine
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Farmakologi Prochlorperazine

Oleh :
dr.Novita Mawar Hadini, Sp.FK
Share To Social Media:

Secara farmakologi, prochlorperazine adalah derivat fenotiazin yang bekerja terutama sebagai antagonis reseptor dopamin D₂ di sistem saraf pusat, khususnya pada chemoreceptor trigger zone (CTZ), sehingga efektif sebagai antiemetik dan memiliki aktivitas antipsikotik.[1-3,5]

Farmakodinamik

Prochlorperazine merupakan antipsikotik generasi pertama golongan fenotiazin yang menghasilkan efek farmakologis utama melalui penghambatan transmisi dopaminergik di sistem saraf pusat. Obat ini meningkatkan inhibisi postsinaptik neuron dopaminergik dan menunjukkan aktivitas antiemetik, dengan efektivitas yang dilaporkan sebanding dengan antagonis reseptor 5-HT₃ seperti ondansetron dalam mencegah mual dan muntah.

Selain sebagai antagonis reseptor dopamin D₂, prochlorperazine juga menghambat reseptor histamin H₁, muskarinik kolinergik, dan α₁-adrenergik. Blokade reseptor α₁-adrenergik berkontribusi terhadap efek sedasi, relaksasi otot, dan hipotensi, sementara antagonisme pada berbagai reseptor lain turut memberikan efek ansiolitik.

Dibandingkan beberapa derivat fenotiazin lainnya, prochlorperazine relatif kurang sedatif dan memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk menyebabkan hipotensi, meskipun tetap memiliki risiko efek ekstrapiramidal yang cukup kuat.

Aktivitas antiemetik terutama terjadi melalui penghambatan reseptor D₂ pada chemoreceptor trigger zone (CTZ) di medula oblongata. Dengan menghambat aktivasi dopamin pada CTZ, prochlorperazine mampu menekan mual dan muntah, termasuk muntah yang diinduksi oleh agonis dopamin seperti apomorfin.[3,5]

Farmakokinetik

Prochlorperazine diabsorpsi dengan baik melalui saluran cerna tetapi memiliki bioavailabilitas oral yang rendah akibat metabolisme lintas pertama yang ekstensif. Obat ini terdistribusi luas ke berbagai jaringan termasuk otak, hati, dan limpa, dimetabolisme terutama di hati melalui oksidasi, hidroksilasi, demetilasi, pembentukan sulfoksida, dan konjugasi glukuronida (terutama melibatkan CYP2D6).[3,5]

Absorpsi

Prochlorperazine umumnya diabsorpsi dengan baik dari saluran gastrointestinal setelah pemberian oral. Setelah pemberian oral, onset efek farmakologis terjadi dalam waktu sekitar 30–40 menit, sedangkan pemberian intramuskular menghasilkan onset yang lebih cepat, yaitu sekitar 10–20 menit.

Meskipun absorpsinya baik, bioavailabilitas oral rata-rata hanya sekitar 12,5% karena metabolisme lintas pertama yang ekstensif. Konsentrasi puncak plasma umumnya dicapai dalam waktu sekitar 5 jam. Pemberian berulang dapat menyebabkan akumulasi obat maupun metabolitnya hingga steady state tercapai dalam sekitar 7 hari dengan pemberian dua kali sehari.[3,5]

Distribusi

Volume distribusi sekitar 1401–1548 L setelah pemberian intravena. Obat ini dan metabolitnya ditemukan pada berbagai organ, terutama otak, paru-paru, hati, ginjal, dan limpa, dengan konsentrasi tinggi pada hati dan limpa.

Sebagai anggota golongan fenotiazin, prochlorperazine juga diketahui berikatan kuat dengan protein plasma. Selain itu, obat ini mampu melewati sawar darah otak dan plasenta, serta diduga dapat diekskresikan ke dalam ASI, sehingga penggunaannya pada kehamilan dan menyusui memerlukan pertimbangan khusus.[3,5]

Metabolisme

Prochlorperazine mengalami metabolisme ekstensif di hati melalui berbagai jalur biotransformasi, termasuk oksidasi, hidroksilasi, demetilasi, pembentukan sulfoksida, dan konjugasi dengan asam glukuronat. Reaksi oksidasi terutama dimediasi oleh enzim CYP2D6, dengan kemungkinan keterlibatan CYP3A4.

Beberapa metabolit yang telah teridentifikasi antara lain N-desmetil prochlorperazine, prochlorperazine sulfoksida, prochlorperazine 7-hidroksida, dan prochlorperazine sulfoksida 4′-N-oksida. Obat ini juga dapat mengalami sirkulasi enterohepatik, yang dapat memperpanjang keberadaannya dalam tubuh.[3,5]

Eliminasi

Eliminasi prochlorperazine terutama berlangsung melalui sistem hepatobilier, dengan sebagian besar obat dan metabolitnya diekskresikan melalui empedu dan feses. Hanya sejumlah kecil obat yang diekskresikan melalui urin dalam bentuk tidak berubah maupun sebagai metabolit.

Nilai klirens plasma rerata setelah pemberian intravena dilaporkan sekitar 0,98 L/jam/kg. Klirens ginjal sekitar 23,6 mL/jam. Waktu paruh eliminasi terminal prochlorperazine berkisar antara 8–9 jam setelah pemberian oral maupun intravena.[3,5]

Referensi

1. MIMS. Prochlorperazine. 2026. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/prochlorperazine?mtype=generic
2. ASHP. Prochlorperazine. 2025. https://www.drugs.com/monograph/prochlorperazine-systemic-sedative.html
3. National Center for Biotechnology Information (2026). PubChem Compound Summary for CID 4917, Prochlorperazine. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Prochlorperazine.
5. Din L, Preuss CV. Prochlorperazine. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537083/

Pendahuluan Prochlorperazine
Formulasi Prochlorperazine

Artikel Terkait

  • Profilaksis Migraine: Pemilihan Pasien dan Jenis Terapi
    Profilaksis Migraine: Pemilihan Pasien dan Jenis Terapi
  • Pilihan Terapi pada Migrain Menstrual
    Pilihan Terapi pada Migrain Menstrual
  • Dislipidemia Tidak Menyebabkan Nyeri Kepala
    Dislipidemia Tidak Menyebabkan Nyeri Kepala
  • Pedoman Tata Laksana Migraine 2024 - Ulasan Guideline Terkini
    Pedoman Tata Laksana Migraine 2024 - Ulasan Guideline Terkini
  • Pedoman Penanganan Migraine Akut di Unit Gawat Darurat – Ulasan Guideline Terkini
    Pedoman Penanganan Migraine Akut di Unit Gawat Darurat – Ulasan Guideline Terkini

Lebih Lanjut

Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas 10 jam yang lalu
Omeprazol dan asam mefenamat untuk ibu hamil
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Saya memiliki pasen ibu hamil tiga bulan yang menderita gerd, dan cephalgia, bolehkah untuk gerd nya diberikan omeprazol dan untuk sakit kepalanya diberikan...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 21 Agustus 2026, 13:27
Ikuti Webinar ber-SKP Kemenkes - Manajemen Nyeri Sendi: Dari Terapi hingga Dukungan Kesehatan Sendi - Selasa, 1 September 2026, Jam:10.00 - 11.30 WIB
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter.Mengurangi nyeri bukanlah satu-satunya tujuan terapi osteoarthritis. Pendekatan modern menempatkan pengendalian gejala, mempertahankan fungsi...
Anonymous
Dibalas 21 Agustus 2026, 19:36
Bekas imunisasi BCG bengkak & merah
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo TS dokter anak. Saya kedatangan pasien bayi 4 bulan. Keluhannya bengkak & merah di bekas imunisasi BCG sejak 1 minggu. Anak tdk demam atau tampak...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.