Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Etiologi Pollen Allergy general_alomedika 2026-06-03T11:17:42+07:00 2026-06-03T11:17:42+07:00
Pollen Allergy
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Etiologi Pollen Allergy

Oleh :
dr. Pepi Nurapipah
Share To Social Media:

Etiologi alergi serbuk sari atau pollen allergy meliputi berbagai serbuk sari yang dapat terbang dan bercampur dengan udara menjadi alergen yang kemudian mensensitisasi mukosa nasal dan konjungtiva. Faktor risiko meliputi adanya riwayat orang tua dengan alergi serbuk sari dan juga faktor lingkungan seperti musim.[10,12,13]

Etiologi

Etiologi pollen allergy berawal dari paparan butir serbuk sari (pollen grains) berukuran mikroskopik (±2,5–10 μm), yaitu struktur reproduksi jantan tumbuhan yang membawa alergen. Partikel ini tidak hanya berasal dari serbuk sari utuh, tetapi juga dari fragmen tumbuhan seperti trikoma, debris tanaman, dan partikel batang, yang dapat masuk ke mukosa saluran napas atas dan memicu sensitisasi imunologis.

Sumber utama alergen ini berasal dari tiga kelompok tumbuhan, yaitu rumput-rumputan, gulma, dan pohon. Jenis spesifiknya bervariasi, misalnya:

  • Artemisia artemisiifolia (ambrosia pendek) dan Artemisia trifida (ambrosia raksasa) di Amerika Utara

  • Lolium perenne (rumput gandum liar), Poa pratensis (rumput padang rumput), dan Cynodon dactylon (rumput Bermuda) pada kelompok rumput

  • Berbagai pohon seperti Cryptomeria japonica (cedar Jepang), pohon ek, dan pohon zaitun.

Serbuk sari ini dapat tersebar jauh melalui udara (anemofili), bertahan lama di atmosfer, dan mencapai puncak konsentrasi 1–3 minggu setelah musim berbunga dimulai, sehingga meningkatkan risiko timbulnya gejala alergi respiratorik.[10]

Pengaruh Faktor Lingkungan

Selain faktor biologis tanaman, etiologi pollen allergy sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti iklim, geografi, dan polusi udara. Variabel seperti suhu, curah hujan, angin, dan konsentrasi karbon dioksida (CO₂) menentukan jumlah produksi serbuk sari, waktu pelepasan, serta tingkat alergenisitasnya.

Perubahan iklim global terbukti memperpanjang musim serbuk sari dan meningkatkan konsentrasinya di atmosfer, misalnya meningkatkan alergenisitas ambrosia. Selain itu, polusi udara dapat memodifikasi struktur kimia alergen pada serbuk sari sehingga memperkuat respons imun dan memperburuk gejala alergi.[10]

Faktor Risiko

Faktor risiko alergi serbuk sari meliputi faktor host dan faktor lingkungan yang membantu penyebaran serbuk sari sebagai alergen lewat udara.[11,14]

Faktor Host

Faktor host pada alergi serbuk sari yaitu faktor hereditas sebagai faktor paling penting, usia, ras, dan jenis kelamin.[11,14]

Faktor Herediter:

Faktor herediter, yaitu genetik merupakan faktor yang paling berperan dalam terjadinya alergi, dalam hal ini alergi serbuk sari. Proses terjadinya alergi berhubungan dengan genetik dan malfungsi sistem imun.

Angka kejadian alergi pada kedua orang tua dengan alergi yaitu 60-80%, angka kejadian alergi anak pada salah satu orang tua dengan alergi yaitu 50%, dan angka kejadian alergi sebanyak 12% pada anak dengan orang tua tanpa riwayat alergi.[11,14]

Usia:

Usia mempengaruhi angka kejadian sensitisasi alergi dan gangguan atopik. Sensitivitas alergi banyak terjadi pada anak-anak, terutama pada anak dengan riwayat atopi. Kadar IgE maksimal adalah pada bayi dan berkurang pada usia antara 10-30 tahun.

Manifestasi alergi pada anak yang paling sering yaitu asma. Selain itu, manifestasi rhinitis akibat alergi serbuk sari lebih sering terjadi pada anak yang lebih besar dan remaja.[11,14]

Ras:

Pengaruh ras pada kejadian asma dan alergi akibat serbuk sari sulit dibedakan dengan pengaruh lingkungan yang menyebabkan timbulnya gejala. Orang berkulit gelap memiliki level IgE lebih tinggi dibanding ras kaukasia, sehingga lebih sering mengalami respon alergi. Risiko kejadian anafilaksis 2 hingga 3 kali lebih tinggi pada anak berkulit hitam dibanding pada anak berkulit putih.[11,14]

Jenis Kelamin:

Risiko atopi lebih dominan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan. Kondisi ini dipengaruhi sensitisasi yang lebih tinggi pada laki-laki dibanding pada perempuan, terutama pada alergen bulu kucing, grass pollen, dan house dust mite.

Walaupun disparitas ini berkurang seiring dengan usia, secara umum antibodi IgE spesifik, hasil positif pada skin test, dan level IgE total tetap lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan.[11,14]

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah faktor yang mempengaruhi penyebaran serbuk sari lewat udara, antara lain burung, serangga, dan angin. Selain itu, pergantian musim juga merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi penyebaran serbuk sari.[10,11,14]

Musim:

Gejala alergi dapat muncul pada musim tertentu, terutama pada musim dengan suhu yang lebih dingin. Di beberapa negara dengan 4 musim, alergi muncul pada musim semi di bulan Februari dan berakhir di awal musim panas. Hal ini terjadi karena pada musim ini serbuk sari mulai tersebar, hal ini diikuti oleh persebaran serbuk sari pada musim semi dan musim panas.

Sementara itu, di Indonesia, kejadian alergi dapat terjadi sepanjang tahun (perennial), karena hanya memiliki 2 musim.[2,3,10]


 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

2. Pawankar R, Wang J, Wang I, Thien F, Chang Y, et al. Asia Pacific Association of Allergy Asthma and Clinical Immunology White Paper 2020 on climate change, air pollution, and biodiversity in Asia-Pacific and impact on allergic diseases. Asia Pac Allergy 2020;10(1):e11
3. eClinicalMedicine. The bloom and the breathless: the rising burden of pollen allergy. EClinicalMedicine. 2025 Jun 23;84:103327. doi: 10.1016/j.eclinm.2025.103327.
10. D'Amato G, Murrieta-Aguttes M, D'Amato M, Ansotegui IJ. Pollen respiratory allergy: Is it really seasonal? World Allergy Organ J. 2023 Jul 15;16(7):100799. doi: 10.1016/j.waojou.2023.100799.
11. Aldakheel FM. Allergic Diseases: A Comprehensive Review on Risk Factors, Immunological Mechanisms, Link with COVID-19, Potential Treatments, and Role of Allergen Bioinformatics. International Journal of Enviromental Research and Public Health. 2021. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8622387/
12. Luo W, Li Y, Xu L, et al. Pollen allergens sensitization characteristics and risk factors among allergy rhinitis of children in mainland China: A multicenter study. Heliyon. 2023 Mar 27;9(4):e14914. doi: 10.1016/j.heliyon.2023.e14914.
13. Hou YB, Sun JL. Common pollen and related allergen components in patients with allergic diseases in the Beijing area. Front Allergy. 2024 Nov 21;5:1478392. doi: 10.3389/falgy.2024.1478392.
14. Australian Society of Clinical Immunology and Allergy. Pollen Allergy. ASCIA. 2024. https://www.allergy.org.au/patients/allergic-rhinitis-hay-fever-and-sinusitis/pollen-allergy

Patofisiologi Pollen Allergy
Epidemiologi Pollen Allergy
Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas 6 jam yang lalu
Obat jiwa di PKM tanpa rujukan ke dr. SpKJ
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo dokter, sy dok umum di PKM. Izin tanya dok, Ada pasien F20 sy yg tdk mau lagi mengambil obat di RS dan hanya mau ambil di PKM. Padahal selama ini dia...
Anonymous
Dibalas 22 Juni 2026, 08:15
Cara melakukan sertifikasi sebagai pembicara/narasumber di satu sehat
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter. Izin menanyakan sejawat, tempat kerja sy mau mengadakan seminar medis, tp pembicara nya belum pernah melakukan sertifikasi sebagai pembicara di...
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas 18 Juni 2026, 10:46
Bagaimana AI akan mengubah praktik kedokteran Anda?
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
1 Balasan
ALO Dokter. Di tengah padatnya kunjungan pasien dan tuntutan pengambilan keputusan yang cepat, dokter tetap memegang peran utama dalam memastikan...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.