Etiologi Pollen Allergy
Etiologi alergi serbuk sari atau pollen allergy meliputi berbagai serbuk sari yang dapat terbang dan bercampur dengan udara menjadi alergen yang kemudian mensensitisasi mukosa nasal dan konjungtiva. Faktor risiko meliputi adanya riwayat orang tua dengan alergi serbuk sari dan juga faktor lingkungan seperti musim.[10,12,13]
Etiologi
Etiologi pollen allergy berawal dari paparan butir serbuk sari (pollen grains) berukuran mikroskopik (±2,5–10 μm), yaitu struktur reproduksi jantan tumbuhan yang membawa alergen. Partikel ini tidak hanya berasal dari serbuk sari utuh, tetapi juga dari fragmen tumbuhan seperti trikoma, debris tanaman, dan partikel batang, yang dapat masuk ke mukosa saluran napas atas dan memicu sensitisasi imunologis.
Sumber utama alergen ini berasal dari tiga kelompok tumbuhan, yaitu rumput-rumputan, gulma, dan pohon. Jenis spesifiknya bervariasi, misalnya:
Artemisia artemisiifolia (ambrosia pendek) dan Artemisia trifida (ambrosia raksasa) di Amerika Utara
Lolium perenne (rumput gandum liar), Poa pratensis (rumput padang rumput), dan Cynodon dactylon (rumput Bermuda) pada kelompok rumput
- Berbagai pohon seperti Cryptomeria japonica (cedar Jepang), pohon ek, dan pohon zaitun.
Serbuk sari ini dapat tersebar jauh melalui udara (anemofili), bertahan lama di atmosfer, dan mencapai puncak konsentrasi 1–3 minggu setelah musim berbunga dimulai, sehingga meningkatkan risiko timbulnya gejala alergi respiratorik.[10]
Pengaruh Faktor Lingkungan
Selain faktor biologis tanaman, etiologi pollen allergy sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti iklim, geografi, dan polusi udara. Variabel seperti suhu, curah hujan, angin, dan konsentrasi karbon dioksida (CO₂) menentukan jumlah produksi serbuk sari, waktu pelepasan, serta tingkat alergenisitasnya.
Perubahan iklim global terbukti memperpanjang musim serbuk sari dan meningkatkan konsentrasinya di atmosfer, misalnya meningkatkan alergenisitas ambrosia. Selain itu, polusi udara dapat memodifikasi struktur kimia alergen pada serbuk sari sehingga memperkuat respons imun dan memperburuk gejala alergi.[10]
Faktor Risiko
Faktor risiko alergi serbuk sari meliputi faktor host dan faktor lingkungan yang membantu penyebaran serbuk sari sebagai alergen lewat udara.[11,14]
Faktor Host
Faktor host pada alergi serbuk sari yaitu faktor hereditas sebagai faktor paling penting, usia, ras, dan jenis kelamin.[11,14]
Faktor Herediter:
Faktor herediter, yaitu genetik merupakan faktor yang paling berperan dalam terjadinya alergi, dalam hal ini alergi serbuk sari. Proses terjadinya alergi berhubungan dengan genetik dan malfungsi sistem imun.
Angka kejadian alergi pada kedua orang tua dengan alergi yaitu 60-80%, angka kejadian alergi anak pada salah satu orang tua dengan alergi yaitu 50%, dan angka kejadian alergi sebanyak 12% pada anak dengan orang tua tanpa riwayat alergi.[11,14]
Usia:
Usia mempengaruhi angka kejadian sensitisasi alergi dan gangguan atopik. Sensitivitas alergi banyak terjadi pada anak-anak, terutama pada anak dengan riwayat atopi. Kadar IgE maksimal adalah pada bayi dan berkurang pada usia antara 10-30 tahun.
Manifestasi alergi pada anak yang paling sering yaitu asma. Selain itu, manifestasi rhinitis akibat alergi serbuk sari lebih sering terjadi pada anak yang lebih besar dan remaja.[11,14]
Ras:
Pengaruh ras pada kejadian asma dan alergi akibat serbuk sari sulit dibedakan dengan pengaruh lingkungan yang menyebabkan timbulnya gejala. Orang berkulit gelap memiliki level IgE lebih tinggi dibanding ras kaukasia, sehingga lebih sering mengalami respon alergi. Risiko kejadian anafilaksis 2 hingga 3 kali lebih tinggi pada anak berkulit hitam dibanding pada anak berkulit putih.[11,14]
Jenis Kelamin:
Risiko atopi lebih dominan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan. Kondisi ini dipengaruhi sensitisasi yang lebih tinggi pada laki-laki dibanding pada perempuan, terutama pada alergen bulu kucing, grass pollen, dan house dust mite.
Walaupun disparitas ini berkurang seiring dengan usia, secara umum antibodi IgE spesifik, hasil positif pada skin test, dan level IgE total tetap lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan.[11,14]
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan adalah faktor yang mempengaruhi penyebaran serbuk sari lewat udara, antara lain burung, serangga, dan angin. Selain itu, pergantian musim juga merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi penyebaran serbuk sari.[10,11,14]
Musim:
Gejala alergi dapat muncul pada musim tertentu, terutama pada musim dengan suhu yang lebih dingin. Di beberapa negara dengan 4 musim, alergi muncul pada musim semi di bulan Februari dan berakhir di awal musim panas. Hal ini terjadi karena pada musim ini serbuk sari mulai tersebar, hal ini diikuti oleh persebaran serbuk sari pada musim semi dan musim panas.
Sementara itu, di Indonesia, kejadian alergi dapat terjadi sepanjang tahun (perennial), karena hanya memiliki 2 musim.[2,3,10]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha