Epidemiologi Ketoasidosis Diabetik
Data epidemiologi menunjukkan bahwa ketoasidosis diabetik atau diabetic ketoacidosis umumnya terjadi pada penderita diabetes. Ketoasidosis diabetik merupakan kegawatan hiperglikemia yang akut, serius, dan mengancam nyawa pada penderita diabetes mellitus.
Global
Dari tahun 2009 hingga 2014, semua kelompok usia mengalami peningkatan ≥6,0% setiap tahunnya pada angka rawat inap ketoasidosis diabetik (KAD), dengan angka tertinggi pada usia <45 tahun. Penyebab dari peningkatan ini tidak jelas, kemungkinan karena perubahan dari definisi kasus, obat-obatan baru yang meningkatkan risiko KAD, dan menurunnya ambang batas pasien rawat inap (rawat inap untuk kasus yang lebih ringan).[2]
KAD dapat terjadi pada semua tipe diabetes dan semua kelompok usia, tetapi secara global lebih sering ditemukan pada pasien muda dengan diabetes melitus tipe 1, sementara kondisi terkait seperti sindrom hiperosmosis hiperosmolar lebih umum pada pasien usia lanjut dengan diabetes tipe 2.
Faktor pencetus tersering meliputi infeksi, terutama infeksi saluran kemih dan pneumonia. Faktor pencetus lain adalah penghentian terapi insulin. Selain itu, juga telah dilaporkan adanya peningkatan insidensi selama pandemi COVID-19.[11]
Indonesia
Di Indonesia, tidak terdapat data epidemiologi terkait ketoasidosis diabetik. Walau demikian, prevalensi diabetes mellitus tipe 1 yang lebih rendah dibandingkan global menyebabkan prevalensi ketoasidosis diabetik diduga lebih rendah di Indonesia.
Ketoasidosis diabetik di Indonesia umumnya terjadi pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Pada tahun 2017, 71% anak dengan diabetes mellitus tipe 1 pertama kali terdiagnosis dengan ketoasidosis diabetikum (KAD). Angka ini meningkat dari tahun 2016 dan 2015, yaitu 63%.[6]
Mortalitas
Tingkat mortalitas pada ketoasidosis diabetik (KAD) bervariasi. Mortalitas pada pasien KAD rawat inap menurun dengan konsisten, walaupun terjadi peningkatan angka rawat inap. Tingkat mortalitas menurun signifikan dalam 25 tahun terakhir dari sekitar 8% menjadi <1%. Namun, di India tingkat mortalitas mencapai 30%.[1,7]
Pedoman yang terstandarisasi, termasuk pemberian insulin dan pengawasan ketat kondisi cairan dan elektrolit berkontribusi dalam penurunan mortalitas. Penyebab utama mortalitas pada pasien dewasa adalah karena komorbiditas yang mencetuskan KAD, seperti pneumonia, infark miokardium akut atau sepsis, dan juga keparahan hipokalemia yang terjadi akibat tata laksana KAD.
Komplikasi lain seperti sindrom distres pernapasan akut atau ARDS akut lebih jarang menyebabkan kematian. KAD menjadi penyebab mortalitas pertama pada anak-anak dan dewasa dengan DM tipe 1, penyebabnya adalah edema serebral, kemungkinan karena pemberian cairan yang terlalu agresif.[2,7]
Penulisan pertama oleh: dr. Riawati
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha