Peran Dokter Membantu Pasien Menghadapi Banyaknya Informasi Kesehatan Berbasis Internet

Oleh :
dr.Anugrah Dwi Riski MARS

Banyak pasien mendapat informasi kesehatan melalui internet, baik dari website, media sosial, maupun artificial intelligence (AI) yang dapat diakses sebelum, selama, dan setelah konsultasi medis. Namun, tidak seluruh informasi yang tersedia valid atau didukung bukti memadai. Oleh karena itu, dokter memiliki peran penting dalam membantu pasien menilai dan menginterpretasikan informasi kesehatan berbasis internet.

Internet telah mengubah cara pasien memperoleh dan mengonsumsi informasi kesehatan. Akses yang mudah memungkinkan pasien mengenali kondisi medis, membandingkan pilihan terapi, dan mempersiapkan pertanyaan sebelum konsultasi. Ini dapat mendorong keterlibatan aktif pasien dalam perawatan. Namun, melimpahnya informasi juga dapat menyulitkan pasien dalam membedakan informasi berbasis bukti ilmiah, opini pribadi, promosi terselubung, atau klaim menyesatkan.[1,2]

Peran dokter membantu pasien menghadapi banyaknya informasi kesehatan berbasis internet

Mengapa Informasi Kesehatan Digital Perlu Menjadi Perhatian?

Kemudahan memperoleh informasi melalui internet menyebabkan pasien terpapar berbagai informasi kesehatan dalam jumlah yang sangat besar. Informasi tersebut tidak seluruhnya dapat dipercaya. Sebagian bersifat akurat dan bermanfaat, sedangkan sebagian lain dapat mengandung kekeliruan, menyesatkan, tidak lengkap, atau sengaja direkayasa.

WHO menggunakan istilah “infodemic” untuk menggambarkan kondisi ketika informasi yang benar dan salah beredar secara berlebihan sehingga dapat memicu kebingungan, perilaku kesehatan yang berisiko, menurunkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan, serta mendorong pengambilan keputusan medis yang tidak tepat.

Dalam hal ini, dokter memegang peran untuk memandu pasien dengan cara menerjemahkan informasi ke bahasa yang mudah dipahami, serta sebagai mitra pasien dalam menyaring informasi mana yang sesuai dengan kondisi medisnya. Perlu dicatat pula bahwa efektivitas dalam meluruskan informasi keliru yang didapat pasien dari internet akan bergantung pada kualitas komunikasi dan tingkat kepercayaan yang terbangun dalam hubungan dokter-pasien.[3-5]

Cara Membantu Pasien Menghadapi Banyaknya Informasi Kesehatan di Internet

Meluruskan misinformasi yang didapat pasien merupakan hal yang krusial. Misinformasi tidak hanya bisa menimbulkan kekeliruan pasien dalam memahami penyakitnya, melainkan juga bisa meningkatkan kecemasan, mendorong pemeriksaan yang sebenarnya tidak perlu, menunda pencarian pertolongan medis, menyebabkan penghentian obat tanpa pengawasan, serta memicu penggunaan produk yang belum terbukti manfaatnya.[6]

Berikut ini adalah cara-cara yang bisa dokter lakukan untuk membantu pasien menghadapi banyaknya informasi kesehatan di internet:

  1. Tempatkan Diri Dokter Sebagai Pemandu Bukan Membatasi Atau Anti dengan Informasi Kesehatan dari Internet

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menempatkan diri dokter sebagai pemandu informasi kesehatan, bukan sebagai pihak yang membatasi akses pasien terhadap internet. Pendekatan ini penting karena dokter tidak akan bisa menghalangi pasien mencari informasi secara mandiri, sehingga langkah yang lebih efektif adalah membantu mereka memahami, mengevaluasi, dan mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam konteks kondisi klinisnya.

Dokter dapat terlebih dulu menggali alasan pasien mencari informasi, misalnya karena belum memahami diagnosis, merasa cemas, membutuhkan penjelasan tambahan, atau memiliki pengalaman pelayanan kesehatan yang kurang baik. Dengan memahami alasan tersebut, dokter dapat memberikan respons yang lebih sesuai sekaligus mempertahankan hubungan terapeutik.

Sebaliknya, respons yang meremehkan, terkesan anti, atau langsung menyalahkan pasien karena mempercayai informasi yang keliru dapat membuat pasien bersikap defensif dan semakin bergantung pada sumber informasi nonmedis.[2,3,5,7]

  1. Bantu Pasien Menilai Keandalan Sumber Informasi yang Didapat

Peran dokter selanjutnya adalah membantu pasien menilai keandalan informasi yang ditemukan di internet. Edukasi tidak harus berhenti pada meluruskan satu klaim yang salah, melainkan dapat diarahkan untuk meningkatkan literasi kesehatan pasien agar mampu melakukan penilaian secara mandiri. Dokter dapat mengedukasi pasien untuk memperhatikan beberapa aspek, seperti:

  • Siapa penulis atau penerbit informasi?
  • Kapan informasi tersebut dipublikasikan atau diperbarui?
  • Apakah klaim didukung oleh penelitian atau pedoman klinis?
  • Apakah terdapat kepentingan komersial di balik informasi tersebut?

Pasien juga perlu mengenali penggunaan bahasa yang sensasional atau absolut, seperti klaim ‘dijamin sembuh’ atau ‘tanpa efek samping’, serta memahami risiko ketika suatu situs atau aplikasi meminta data kesehatan pribadi.

Dengan pendekatan ini, pasien tidak dituntut untuk mengevaluasi penelitian secara mendalam seperti seorang ilmuwan, tetapi dibekali kemampuan mengenali red flags dari suatu sumber informasi kesehatan di internet, serta mengetahui kapan informasi perlu dikonfirmasi dulu kepada tenaga kesehatan.[7-9]

  1. Edukasi Pasien Mengenai Cara Terbaik Penggunaan Artificial Intelligence

Hal yang juga semakin relevan adalah penggunaan artificial intelligence (AI). Pada dasarnya, AI dapat bermanfaat sebagai sarana edukasi bagi pasien, misalnya untuk menjelaskan istilah medis, merangkum informasi, menerjemahkan materi kesehatan, atau membantu pasien menyusun pertanyaan sebelum konsultasi. Meski begitu, dokter perlu menjelaskan bahwa jawaban AI tidak selalu akurat.

AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, menggunakan pengetahuan yang sudah tidak mutakhir, mengabaikan faktor klinis individual, menghasilkan bias, atau bahkan memberikan referensi yang tidak valid. Risiko ini menjadi lebih besar ketika pasien mengalami automation bias, yaitu kecenderungan menerima keluaran sistem secara otomatis tanpa melakukan evaluasi kritis.

Oleh karena itu, informasi yang diperoleh dari AI sebaiknya diposisikan sebagai bahan awal untuk memahami atau mendiskusikan suatu masalah kesehatan, bukan sebagai pengganti penilaian klinis dan pengambilan keputusan oleh dokter.[10,11]

Dari sisi dokter dan petugas kesehatan sendiri, penggunaan AI seperti Alomedika AI dapat membantu mengecek apakah informasi yang didapat pasien sudah paling baru dan akurat. AI juga bisa dokter gunakan untuk membuat media edukasi medis bagi pasien, seperti brosur atau video pendek untuk sosial media.

  1. Sesuaikan Intensitas Saat Mengoreksi Informasi yang Didapat Pasien

Sebelum memberi respons terhadap informasi yang didapat pasien dari internet, dokter perlu menentukan tingkat risiko informasi yang dibawa pasien dan menyesuaikan intensitas dari koreksi yang akan dilakukan. Koreksi yang lebih tegas perlu diberikan pada informasi yang berpotensi membahayakan pasien, misalnya:

  • Klaim yang mendorong penghentian obat esensial, penolakan terapi life-saving, penggunaan bahan atau dosis yang berbahaya, atau penundaan pemeriksaan dan pertolongan medis pada kasus gawat darurat.

Dalam situasi tersebut, pendekatan empatik tetap diperlukan, tetapi dokter harus memberikan koreksi secara jelas, menjelaskan risiko, dan menawarkan alternatif tindakan bila ada.[7,12]

  1. Libatkan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam Melawan Misinformasi dari Internet

Perlu diingat bahwa menghadapi misinformasi kesehatan merupakan tanggung jawab bersama antara dokter, pasien, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Fasilitas kesehatan dapat mendukung dokter dengan menyediakan sumber informasi yang kredibel, materi edukasi, layanan klarifikasi, serta pelatihan komunikasi dokter-pasien.

Di praktik, keberhasilan menghadapi misinformasi medis tidak semata ditentukan oleh apakah pasien langsung mengubah keyakinannya setelah diberikan koreksi. Yang tidak kalah penting adalah terjaganya hubungan terapeutik, berkurangnya risiko tindakan yang membahayakan, meningkatnya pemahaman pasien terhadap alasan di balik rekomendasi medis, dan terbukanya kesempatan bagi pasien untuk kembali berdiskusi.[2-5,7]

Cara WHO Memitigasi Infodemic

Di tahun 2022, ketika masih terjadi pandemi COVID-19 dan WHO melihat terjadinya infodemic yang menyulitkan petugas kesehatan, WHO merekomendasikan beberapa langkah berikut yang saat ini dapat diadaptasi dokter untuk membantu pasien menghadapi banyaknya informasi kesehatan di internet:

  • Identifikasi dan pahami pertanyaan, kekhawatiran, kebutuhan informasi, serta berbagai narasi yang berkembang di masyarakat.
  • Sampaikan bukti ilmiah secara cepat, jelas, terbuka, dan mudah dipahami, termasuk memberikan penjelasan mengenai ketidakpastian ilmiah atau perubahan rekomendasi.
  • Tingkatkan ketahanan masyarakat terhadap misinformasi melalui penguatan literasi kesehatan, literasi informasi, dan literasi digital yang disesuaikan dengan karakteristik kelompok sasaran.
  • Lakukan pencegahan dan koreksi terhadap informasi yang keliru sedini mungkin sebelum menyebar secara luas.
  • Bekali tenaga kesehatan, sebagai salah satu sumber informasi yang paling dipercaya masyarakat, dengan kemampuan untuk mengenali dan merespons misinformasi secara tepat.
  • Libatkan komunitas melalui komunikasi dua arah sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses penyampaian dan klarifikasi pesan kesehatan.[3]

Kesimpulan

Banyaknya informasi kesehatan di internet dapat memberikan manfaat bagi pasien, tetapi juga membawa risiko misinformasi. Dokter tidak perlu memosisikan diri sebagai musuh atau pesaing internet dan artificial intelligence (AI). Peran yang lebih tepat adalah membantu pasien memanfaatkan teknologi tersebut secara aman dan bertanggung jawab.

Pendekatan terbaik dimulai dengan mendengarkan pasien tanpa menghakimi, menilai kredibilitas sumber informasi dan potensi bahayanya, menjelaskan bukti ilmiah menggunakan bahasa yang mudah dipahami, memberikan rekomendasi atau koreksi jika diperlukan, serta mengarahkan pasien kepada sumber informasi medis yang dapat dipercaya bila informasi yang didapat pasien dirasa kurang tepat.

Dalam era AI generatif, dokter juga perlu mengedukasi pasien mengenai cara penggunaan AI yang baik. Edukasi pasien bahwa informasi dari AI, seperti ChatGPT dan Gemini, masih memiliki risiko kesalahan karena tidak mempertimbangkan perbedaan faktor klinis dan komorbiditas individual pasien, serta mungkin tidak akurat karena belum dilakukan pemutakhiran dari bukti ilmiah atau pedoman klinis paling baru.

 

 

Penulisan pertama oleh: dr. Queen Sugih Ariyani

Referensi