Pendahuluan Lopinavir
Lopinavir adalah obat antiretroviral (ARV) golongan inhibitor protease, yang digunakan dalam terapi HIV, umumnya dalam bentuk kombinasi dengan ritonavir. Lopinavir bisa dipakai jika terjadi kegagalan terapi lini pertama, seperti kombinasi bictegravir, tenofovir, dan emtricitabine. Lopinavir juga bisa dipilih sebagai alternatif untuk kasus HIV dengan infeksi oportunistik, bersama kombinasi ritonavir, tenofovir, lamivudine, dan emtricitabine.[1,2]
Secara garis besar, pilihan terapi HIV lini pertama adalah golongan integrase strand transfer inhibitor (INSTI), seperti bictegravir dan dolutegravir, dikombinasikan dengan nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) seperti tenofovir alafenamide dan emtricitabine. Sementara itu, lopinavir sendiri hanya tersedia dalam bentuk kombinasi dengan ritonavir.[1-3]
Sebagai inhibitor protease, lopinavir mencegah pembelahan poliprotein gag dan gag-pol yang dimediasi oleh enzim protease, sehingga produksi virion HIV bersifat imatur dan noninfeksius. Dengan kata lain, efek antiviral lopinavir adalah dengan mencegah infeksi sel-sel baru tanpa menyembuhkan sel-sel yang sudah terinfeksi DNA provirus.[4-6]
Di Indonesia, kombinasi lopinavir dan ritonavir tersedia dalam merek dagang Ritocom®, Loparta®, Lopivia®, dan Aluvia®.[7]
Tabel 1. Deskripsi Singkat Lopinavir
| Perihal | Deskripsi |
| Kelas | Antivirus.[8] |
| Subkelas | Antiretrovirus.[8] |
| Akses | Resep.[8] |
| Wanita hamil |
Kategori FDA: C.[9] Kategori TGA: B3.[10] |
| Wanita menyusui | Tidak diketahui apakah dikeluarkan ke ASI.[11] |
| Anak-anak | Bisa digunakan sesuai indikasi dan dosis yang dianjurkan.[3] |
| Infant | Efikasi dan keamanan pada anak berusia di bawah 14 hari tidak diketahui.[3] |
| FDA | Approved.[3] |
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha