Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Lopinavir
Penggunaan lopinavir pada kehamilan dan pada ibu menyusui harus secara hati-hati. Lopinavir hanya boleh digunakan jika manfaat yang diharapkan lebih besar daripada risiko terhadap janin atau bayi.[3,10,11]
Penggunaan pada Kehamilan
Berdasarkan Food and Drug Administration (FDA), lopinavir masuk kategori C. Studi pada hewan coba memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.[9]
Sedangkan Therapeutic Goods Administration (TGA) memasukan ke dalam kategori B3. Jumlah pasien hamil dan menyusui yang mengonsumsi obat tersebut masih terbatas; observasi pada pasien-pasien tersebut tidak menunjukkan adanya peningkatan frekuensi malformasi atau risiko lain terhadap janin.[10]
Saat ini belum tersedia uji klinis terkontrol yang memadai mengenai keamanan penggunaan lopinavir pada wanita hamil. Berdasarkan pemantauan pascapemasaran melalui Antiretroviral Pregnancy Registry, yang mencakup lebih dari 600 wanita yang terpapar lopinavir/ritonavir pada trimester pertama, tidak ditemukan peningkatan risiko cacat lahir dibandingkan dengan populasi umum.
Selain itu, prevalensi kelainan kongenital pada paparan selama trimester mana pun serupa dengan angka yang diamati pada populasi umum, dan tidak ditemukan pola cacat lahir spesifik yang mengarah pada mekanisme teratogenik tertentu.
Meskipun studi pada hewan menunjukkan adanya toksisitas reproduksi, data klinis yang tersedia pada manusia menunjukkan bahwa risiko malformasi janin akibat paparan lopinavir/ritonavir selama kehamilan kemungkinan rendah. Oleh karena itu, penggunaan dapat dipertimbangkan bila manfaat pengendalian infeksi HIV dan pencegahan transmisi vertikal kepada janin diperkirakan lebih besar daripada potensi risikonya.[11]
HIV pada Kehamilan
Menurut pedoman klinis, lopinavir tidak lagi dianjurkan untuk tujuan penanganan HIV pada kehamilan karena adanya kemungkinan resistensi, terutama pada pasien yang sudah mendapat cabotegravir injeksi long-acting untuk profilaksis prapajanan.
Pada pasien HIV yang hamil atau merencanakan kehamilan dan sebelumnya belum mendapat ARV, terapi yang dianjurkan adalah dolutegravir (DTG) dikombinasikan dengan tenofovir dan lamivudine atau emtricitabine.
Untuk bayi yang lahir dari ibu dengan HIV, pemberian antiretroviral (ARV) didasarkan pada tingkat risiko bayi, tetapi lopinavir tidak menjadi pilihan terlepas dari tingkat risiko bayi. Zidovudine, lamivudine, dan nevirapine merupakan terapi yang dianjurkan.[14]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Data mengenai keamanan lopinavir pada ibu menyusui masih terbatas. Studi pada hewan menunjukkan bahwa lopinavir diekskresikan ke dalam air susu tikus, namun hingga saat ini belum diketahui secara pasti apakah lopinavir juga diekskresikan ke dalam ASI manusia dan dalam jumlah yang dapat memengaruhi bayi. Oleh karena itu, potensi risiko paparan lopinavir pada bayi yang disusui belum dapat ditentukan secara jelas.[11]
Keamanan Menyusui pada Pasien HIV
Secara umum, WHO menganjurkan agar ibu dengan HIV yang sudah mengonsumsi ARV untuk tetap menyusui. Menurut rekomendasi WHO, semua bayi yang terpapar HIV dari ibu perlu diberikan profilaksis postnatal untuk menurunkan risiko transmisi.
Jika risiko transmisi rendah, misalnya pada neonatus dari ibu yang sudah menjalani ARV adekuat dan memiliki viral load terkontrol, dapat digunakan profilaksis satu obat, dengan nevirapine sebagai pilihan utama. Jika ibu tetap menjalani terapi ARV dengan supresi virus yang baik, risiko penularan saat menyusui dapat ditekan signifikan.[15]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha