Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Lopinavir general_alomedika 2026-08-20T11:41:51+07:00 2026-08-20T11:41:51+07:00
Lopinavir
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Lopinavir

Oleh :
dr. Andreas Michael Sihombing
Share To Social Media:

Penggunaan lopinavir pada kehamilan dan pada ibu menyusui harus secara hati-hati. Lopinavir hanya boleh digunakan jika manfaat yang diharapkan lebih besar daripada risiko terhadap janin atau bayi.[3,10,11]

Penggunaan pada Kehamilan

Berdasarkan Food and Drug Administration (FDA), lopinavir masuk kategori C. Studi pada hewan coba memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.[9]

Sedangkan Therapeutic Goods Administration (TGA) memasukan ke dalam kategori B3. Jumlah pasien hamil dan menyusui yang mengonsumsi obat tersebut masih terbatas; observasi pada pasien-pasien tersebut tidak menunjukkan adanya peningkatan frekuensi malformasi atau risiko lain terhadap janin.[10]

Saat ini belum tersedia uji klinis terkontrol yang memadai mengenai keamanan penggunaan lopinavir pada wanita hamil. Berdasarkan pemantauan pascapemasaran melalui Antiretroviral Pregnancy Registry, yang mencakup lebih dari 600 wanita yang terpapar lopinavir/ritonavir pada trimester pertama, tidak ditemukan peningkatan risiko cacat lahir dibandingkan dengan populasi umum.

Selain itu, prevalensi kelainan kongenital pada paparan selama trimester mana pun serupa dengan angka yang diamati pada populasi umum, dan tidak ditemukan pola cacat lahir spesifik yang mengarah pada mekanisme teratogenik tertentu.

Meskipun studi pada hewan menunjukkan adanya toksisitas reproduksi, data klinis yang tersedia pada manusia menunjukkan bahwa risiko malformasi janin akibat paparan lopinavir/ritonavir selama kehamilan kemungkinan rendah. Oleh karena itu, penggunaan dapat dipertimbangkan bila manfaat pengendalian infeksi HIV dan pencegahan transmisi vertikal kepada janin diperkirakan lebih besar daripada potensi risikonya.[11]

HIV pada Kehamilan

Menurut pedoman klinis, lopinavir tidak lagi dianjurkan untuk tujuan penanganan HIV pada kehamilan karena adanya kemungkinan resistensi, terutama pada pasien yang sudah mendapat cabotegravir injeksi long-acting untuk profilaksis prapajanan.

Pada pasien HIV yang hamil atau merencanakan kehamilan dan sebelumnya belum mendapat ARV, terapi yang dianjurkan adalah dolutegravir (DTG) dikombinasikan dengan tenofovir dan lamivudine atau emtricitabine.

Untuk bayi yang lahir dari ibu dengan HIV, pemberian antiretroviral (ARV) didasarkan pada tingkat risiko bayi, tetapi lopinavir tidak menjadi pilihan terlepas dari tingkat risiko bayi. Zidovudine, lamivudine, dan nevirapine merupakan terapi yang dianjurkan.[14]

Penggunaan pada Ibu Menyusui

Data mengenai keamanan lopinavir pada ibu menyusui masih terbatas. Studi pada hewan menunjukkan bahwa lopinavir diekskresikan ke dalam air susu tikus, namun hingga saat ini belum diketahui secara pasti apakah lopinavir juga diekskresikan ke dalam ASI manusia dan dalam jumlah yang dapat memengaruhi bayi. Oleh karena itu, potensi risiko paparan lopinavir pada bayi yang disusui belum dapat ditentukan secara jelas.[11]

Keamanan Menyusui pada Pasien HIV

Secara umum, WHO menganjurkan agar ibu dengan HIV yang sudah mengonsumsi ARV untuk tetap menyusui. Menurut rekomendasi WHO, semua bayi yang terpapar HIV dari ibu perlu diberikan profilaksis postnatal untuk menurunkan risiko transmisi.

Jika risiko transmisi rendah, misalnya pada neonatus dari ibu yang sudah menjalani ARV adekuat dan memiliki viral load terkontrol, dapat digunakan profilaksis satu obat, dengan nevirapine sebagai pilihan utama. Jika ibu tetap menjalani terapi ARV dengan supresi virus yang baik, risiko penularan saat menyusui dapat ditekan signifikan.[15]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

3. ASHP. Lopinavir and Ritonavir (Monograph). 2025. https://www.drugs.com/monograph/lopinavir-and-ritonavir.html
9. Roberts SS. Martinez M. et al. Lopinavir/Ritonavir in Pregnancy. JAIDS Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes. August 2009. https://www.natap.org/2009/HIV/071609_07.htm
10. TGA. Prescribing medicines in pregnancy database. 2026. https://www.tga.gov.au/resources/health-professional-information-and-resources/australian-categorisation-system-prescribing-medicines-pregnancy/prescribing-medicines-pregnancy-database
11. BPOM. Aluvia. 2021. https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/01702364442.pdf
14. Centers for Disease Control and Prevention; HIV Medicine Association of the Infectious Diseases Society of America; Pediatric Infectious Diseases Society; HHS Panel on Treatment of HIV During Pregnancy and Prevention of Perinatal Transmission— A Working Group of the Office of AIDS Research Advisory Council (OARAC). Recommendations for the Use of Antiretroviral Drugs During Pregnancy and Interventions to Reduce Perinatal HIV Transmission in the United States. 2024. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK586310
15. WHO. WHO Updated Recommendations on HIV Clinical Management: Recommendations for a Public Health Approach. 2025. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/15bfbf7f-9dc6-44fe-8dc5-1beb7be8848b/content

Efek Samping dan Interaksi Obat ...
Kontraindikasi dan Peringatan Lo...

Artikel Terkait

  • Penanganan TB-HIV
    Penanganan TB-HIV
  • Hasil Positif Palsu pada Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
    Hasil Positif Palsu pada Pemeriksaan HIV Generasi Keempat
  • Mencegah dan Mengatasi Needle Stick Injury
    Mencegah dan Mengatasi Needle Stick Injury
  • Rekomendasi Pemeriksaan HIV Menurut WHO
    Rekomendasi Pemeriksaan HIV Menurut WHO
  • Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien HIV/AIDS
    Manifestasi Penyakit Kulit pada Pasien HIV/AIDS

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 15 Desember 2025, 07:42
Akurasi tes rapid HIV
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO dokter, selamat sore. izin tanya, pasien saya datang untuk cek rapid anti hiv karena melakukan tindakan beresiko 2 thn yll, setelahnya dia sudah tobat...
Anonymous
Dibalas 28 Mei 2025, 20:49
HIV AIDS IO TB PARU, apa terapi yang tepat yang dapat diberikan?
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Alo dokter, saya memiliki pasien B20+TB Paru, dengan sesak napas, batuk 1 bulan, keluhan lain sakit kepala, teriak2 dan tidak bisa diajak berkomunikasi....
Anonymous
Dibalas 27 Mei 2025, 12:30
Tes HIV Non Reaktif , 5 bulan pasca berhubungan apakah sudah akurat ?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO Dokter, Izin bertanya dok, pasien melakukan Tes HIV dengan hasil Non Reaktif , di 5 bulan pasca berhubungan apakah sudah akurat ? Dan apakah perlu...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.