Indikasi dan Dosis Clonidine
Indikasi clonidine atau klonidin utama adalah antihipertensi dan antinyeri kanker. Secara off label, clonidine juga digunakan untuk menopausal flushing, attention deficit hypersensitivity disorder (ADHD), dan sindrom Taurret. Penyesuaian dosis perlu dilakukan pada penderita gangguan fungsi ginjal.[1,7,9]
Clonidine juga telah diteliti penggunaannya untuk post traumatic stress disorder (PTSD). Meski beberapa hasil awal mengindikasikan adanya manfaat penggunaan clonidine untuk PTSD, basis bukti yang mendukung efikasinya masih belum adekuat.[5]
Antihipertensi
Clonidine untuk terapi hipertensi dapat diberikan peroral atau injeksi.
Dosis Peroral
- Dosis inisial untuk pasien dewasa: 50‒100 μg, diberikan 3 kali/hari, dan dapat ditingkatkan setiap 2 atau 3 hari tergantung respon terapi
- Dosis pemeliharaan: 100 μg, diberikan 2 kali/hari, dapat ditingkatkan bertahap 100 μg/hari setiap minggu, dengan dosis maksimal 2,4 mg/hari.[7]
Dosis Injeksi
Pada kondisi krisis hipertensi, dosis clonidine untuk pasien dewasa adalah 150‒300 μg, diberikan melalui infus selama 10‒15 menit. Pemberian dapat diulang, dengan dosis maksimal 750 mg/24 jam.[7]
Efek hipotensi dari clonidine dipengaruhi dosis obat, sehingga pemberian obat harus dititrasi sesuai kebutuhan setiap pasien. Dosis juga perlu diawasi secara hati-hati pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal, di mana terjadi pemanjangan waktu paruh obat.[1,2]
Antinyeri Kanker
Clonidine untuk nyeri berat akibat kanker diberikan bersama dengan analgesik opioid. Clonidine diberikan melalui infus epidural, dengan dosis:
- Inisial pasien dewasa: 30 μg/hari
- Inisial pasien anak: 0,5 μg/kgBB/
- Pemeliharaan: dosis dititrasi sesuai dengan tingkat nyeri dan ada tidaknya efek samping.[1,7,10]
Menopausal Flushing
Dosis inisial adalah 50 μg, diberikan 2 kali/hari. Dosis dapat ditingkatkan hingga 75 μg, 2 kali/hari, jika tidak ada remisi setelah 2 minggu.[2,7]
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Clonidine dapat digunakan untuk anak ADHD berusia 6‒17 tahun, sebagai monoterapi atau tambahan dengan agen psikostimulan lainnya. Clonidine sebaiknya diberikan dalam bentuk tablet extended-release, dengan ketentuan:
- Dosis inisial: 100 μg sebelum tidur
- Dosis dapat ditingkatkan 100 μg/hari, setiap minggu sampai ada respon terapi
- Dosis diberikan 2 kali/hari dengan dosis terbagi sama, atau lebih tinggi untuk dosis sebelum tidur
- Dosis maksimum 400 μg/hari
- Saat dihentikan, dosis harus tapering off tidak lebih dari 100 μg setiap 3‒7 hari.[7]
Penggunaan Lainnya
Terdapat juga indikasi lain clonidine, di antaranya penanganan gejala withdrawal opioid use disorder, sindrom Tourette, dan terapi berhenti merokok (smoking cessation therapy).[9,10]
Penyesuaian Dosis pada Gangguan Ginjal
Penyesuaian dosis clonidine perlu dilakukan berdasarkan tingkat keparahan gangguan ginjal. Respons obat pada penderita gangguan ginjal lebih bervariasi, sehingga pengawasan klinis perlu dilakukan secara lebih ketat terhadap risiko hipotensi dan bradikardia.
Pada pasien yang menjalani hemodialisis rutin, hanya sebagian kecil clonidine yang akan terbuang, sehingga dosis suplemental clonidine tidak diperlukan.[1,2,7]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha