Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Farmakologi Pentoxifylline general_alomedika 2026-08-29T16:58:39+07:00 2026-08-29T16:58:39+07:00
Pentoxifylline
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Farmakologi Pentoxifylline

Oleh :
dr.Dina Fauziah
Share To Social Media:

Secara farmakologi, pentoxifilin atau pentoxifylline dapat menurunkan kekentalan darah dan memperbaiki rheology darah. Pentoxifylline merupakan derivat methylxanthine dan digolongkan dalam grup vasodilator perifer. Obat ini dapat diabsorpsi sempurna melalui saluran cerna, mengalami metabolisme dalam hati, dan diekskresikan 50-80% melalui ginjal.[1,7]

Farmakodinamik

Pentoxifylline bekerja terutama dengan memperbaiki sifat aliran darah (hemorheologi) dan mengurangi inflamasi. Obat ini meningkatkan fleksibilitas eritrosit sehingga lebih mudah melewati mikrosirkulasi, mengurangi agregasi eritrosit dan trombosit, menurunkan kadar fibrinogen plasma, serta menghambat aktivasi neutrofil, sehingga viskositas darah berkurang dan perfusi jaringan meningkat.

Aksi obat terjadi melalui penghambatan nonspesifik fosfodiesterase yang meningkatkan kadar cyclic adenosine monophosphate (cAMP) intraseluler. Namun, karena konsentrasi pentoxifylline yang dicapai dalam praktik klinis jauh lebih rendah daripada yang diperlukan untuk menghambat PDE secara bermakna, saat ini diduga bahwa sebagian besar efeknya diperantarai melalui peningkatan respons reseptor adenosin A2A.

Peningkatan kadar cAMP mengaktifkan protein kinase A (PKA), yang kemudian menghambat aktivasi faktor transkripsi NF-κB sehingga menurunkan produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1, dan IL-6, serta molekul adhesi vaskular seperti ICAM-1 dan VCAM-1. Selain itu, pentoxifylline menghambat jalur p38 MAPK dan ERK yang berperan dalam pembentukan radikal oksigen oleh neutrofil, sehingga memberikan efek antioksidan.

Aktivasi PKA juga meningkatkan aktivitas CREB yang menghambat sinyal transforming growth factor-β1 (TGF-β1), sehingga menurunkan sintesis kolagen, fibronektin, connective tissue growth factor, dan mediator fibrosis lainnya. Melalui kombinasi efek hemorheologis, antiinflamasi, antioksidan, dan antifibrotik tersebut, pentoxifylline dapat memperbaiki mikrosirkulasi jaringan dan mengurangi kerusakan jaringan.[7]

Farmakokinetik

Pentoxifylline merupakan obat yang diabsorbsi sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi puncak dalam plasma tercapai setelah 1 jam.[1,7]

Absorpsi

Pentoxifylline hampir seluruhnya diserap setelah pemberian oral, tetapi bioavailabilitas sistemiknya relatif rendah, hanya sekitar 20–30%, karena mengalami metabolisme lintas pertama (first-pass metabolism) yang ekstensif di hati dan eritrosit.

Setelah pemberian oral bentuk lepas cepat, kadar puncak plasma (Tmax) umumnya dicapai dalam waktu 0,3–0,4 jam, sedangkan sediaan lepas lambat (extended-release) memperpanjang Tmax menjadi sekitar 2–4 jam dan menghasilkan fluktuasi kadar plasma yang lebih stabil. Makanan dapat memperlambat waktu tercapainya kadar puncak plasma, tetapi tidak mengurangi jumlah obat yang diserap secara keseluruhan.[1,7]

Distribusi

Pentoxifylline memiliki distribusi jaringan yang luas dengan volume distribusi sekitar 4,15 ± 0,85 L/kg setelah pemberian intravena. Berbeda dengan banyak obat lain yang berikatan kuat dengan protein plasma, pentoxifylline diketahui sekitar 45% berikatan dengan membran eritrosit.

Distribusi ke eritrosit berkontribusi pada efek hemorheologis pentoxifylline, yaitu meningkatkan fleksibilitas sel darah merah dan memperbaiki aliran darah mikrosirkulasi. Selain itu, interkonversi antara pentoxifylline dan metabolit M1 sebagian besar terjadi di dalam eritrosit, sehingga sel darah merah berfungsi tidak hanya sebagai target farmakodinamik tetapi juga sebagai tempat metabolisme obat.[1,7]

Metabolisme

Segera setelah absorpsi, pentoxifylline dimetabolisme menjadi beberapa metabolit aktif, terutama M1 (lisofylline), M4, dan M5, yang muncul dalam plasma dalam jumlah lebih besar dibandingkan obat induknya. Konsentrasi plasma metabolit M1 dan M5 masing-masing dapat mencapai sekitar lima dan delapan kali lebih tinggi daripada pentoxifylline itu sendiri.

Pentoxifylline mengalami reaksi reduksi yang bergantung pada NADPH untuk membentuk metabolit M1 (lisofylline), yang kemudian dapat dioksidasi kembali menjadi pentoxifylline. Karena klirens pentoxifylline melebihi aliran darah hati dan rasio metabolit M1 terhadap obat induk tidak banyak berubah pada pasien sirosis, diperkirakan bahwa eritrosit merupakan lokasi utama interkonversi pentoxifylline–M1, meskipun proses ini juga terjadi di hati.

Berbeda dengan M1 yang dapat mengalami reaksi reversibel, metabolit M4 dan M5 terbentuk melalui oksidasi ireversibel di hati. Beberapa data menunjukkan bahwa enzim CYP1A2 berperan dalam pembentukan metabolit tertentu dan dalam oksidasi kembali lisofylline menjadi pentoxifylline. Dari seluruh metabolit yang terbentuk, M5 merupakan metabolit dominan dalam sirkulasi dan ekskresi.[7]

Eliminasi

Pentoxifylline dieliminasi dengan cepat dari tubuh. Waktu paruh eliminasi obat induk relatif pendek, yaitu sekitar 0,39–0,84 jam, sedangkan metabolit utamanya memiliki waktu paruh sedikit lebih panjang, sekitar 0,96–1,61 jam.

Ekskresi terjadi hampir seluruhnya melalui ginjal. Sekitar 57–65% dosis diekskresikan dalam urin sebagai metabolit M5, sedangkan metabolit M4 diekskresikan dalam jumlah yang lebih kecil. Pentoxifylline tidak berubah dan metabolit M1 masing-masing menyumbang kurang dari 1% dari dosis yang ditemukan dalam urin.

Jalur fekal hanya berperan kecil, yaitu kurang dari 4% dari dosis yang diberikan. Klirens sistemik pentoxifylline cukup tinggi, sekitar 3,62 ± 0,75 L/jam/kg pada individu sehat, tetapi menurun secara bermakna pada pasien dengan sirosis hati, sehingga paparan obat dan metabolit dapat meningkat pada kelompok pasien tersebut.[7]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. ASHP. Pentoxifylline. 2025. https://www.drugs.com/monograph/pentoxifylline.html
7. National Center for Biotechnology Information (2026). PubChem Compound Summary for CID 4740, Pentoxifylline. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Pentoxifylline.

Pendahuluan Pentoxifylline
Formulasi Pentoxifylline

Artikel Terkait

  • Perbandingan Revaskularisasi Endovaskular dan Latihan Fisik untuk Penanganan Klaudikasio Intermiten
    Perbandingan Revaskularisasi Endovaskular dan Latihan Fisik untuk Penanganan Klaudikasio Intermiten
  • Efikasi dan Keselamatan Penggunaan Kolkisin Dosis Rendah Setelah Infark Miokardium: Colchicine Cardiovascular Outcomes Trial – Telaah Jurnal
    Efikasi dan Keselamatan Penggunaan Kolkisin Dosis Rendah Setelah Infark Miokardium: Colchicine Cardiovascular Outcomes Trial – Telaah Jurnal
  • Kadar HDL Tinggi Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular
    Kadar HDL Tinggi Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular
  • Regresi Plak Aterosklerosis: Mungkinkah?
    Regresi Plak Aterosklerosis: Mungkinkah?
  • Apakah Semua Pasien Hiperkolesterolemia Perlu Mendapat Statin?
    Apakah Semua Pasien Hiperkolesterolemia Perlu Mendapat Statin?

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
dr. Bakry R.S., Sp.JP FIHA
Dibuat 10 Agustus 2025, 14:38
Pemberian Acetyl Cysteine (antioksidan) dapat menurunkan progresivitas aterosklerosis
Oleh: dr. Bakry R.S., Sp.JP FIHA
0 Balasan
ALO Dokter. Berikut saya lampirkan hasil penelitian saya terkait pemberian antioksidan (acetyl cysteine) terhadap kelompok tikus...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 29 Desember 2022, 16:17
Manfaat suplemen omega untuk pasien dengan skor kalsium tidak nol - Jantung Ask the Expert
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO dr. Farhanah SpJP(K), apakah ada manfaat suplemen omega dalam mencegah perburukan atherosklorosis koroner?Terimakasih
Anonymous
Dibalas 09 Oktober 2022, 22:26
Pasien usia 48 tahun dengan tidak nyaman ketika berdiri maupun berjalan, kaki jadi dingin bila berdiri lama
Oleh: Anonymous
6 Balasan
Alo dokter, konsul pasien usia 48 tahun dengan keluhan rasa tidak nyaman bila berdiri, membaik bila duduk dan istirahat, memberat bila berjalan. Kaki pasien...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.