Epidemiologi Alergi Makanan
Data epidemiologi menunjukkan bahwa alergi makanan memengaruhi sekitar 10% individu di seluruh dunia. Anak-anak lebih sering mengalami alergi makanan daripada orang dewasa. Alergi makanan yang paling sering dijumpai adalah terhadap susu sapi, yaitu sekitar 2,5%.[14]
Global
Alergi makanan merupakan masalah kesehatan yang cukup sering terjadi. Prevalensi alergi makanan secara global diperkirakan mencapai 10%, dan terus meningkat dalam 2–3 dekade terakhir.
Prevalensi alergi makanan sesungguhnya sulit untuk diketahui secara pasti, sebab baku emas pemeriksaan alergi makanan adalah dengan controlled food challenge, yang hanya dapat dikerjakan pada pusat kesehatan khusus. Makanan tersering yang menyebabkan alergi berat, antara lain kacang tanah, kacang pohon (tree nuts), ikan, makanan laut bercangkang, seafood, telur, susu, gandum, kedelai, dan biji-bijian.[14]
Anak-anak lebih sering mengalami alergi makanan dibandingkan orang dewasa. Angka kejadian alergi makanan pada bayi dilaporkan sebesar 2,8%, sedangkan pada anak usia 1-2 tahun adalah 10%. Pada remaja usia 14-17 tahun dilaporkan sebesar 7,1%.[2]
Indonesia
Data epidemiologi nasional mengenai angka kejadian alergi makanan di Indonesia belum tersedia. Namun, sebuah studi epidemiologi di Surabaya mendapatkan prevalensi atopik pada anak-anak usia sekolah sebesar 61%.[16]
Riwayat atopik, terutama dermatitis atopik merupakan faktor risiko terjadinya alergi. Hal ini diakibatkan oleh gangguan fungsi sawar kulit pada penderita dermatitis atopik. Alergen makanan yang masuk melalui kulit yang luka atau digaruk dapat menyebabkan gangguan toleransi makanan di saluran pencernaan.[14,16]
Mortalitas
Alergi makanan dapat menyebabkan mortalitas dan morbiditas melalui reaksi imun yang berlebihan terhadap protein makanan tertentu, yang paling berat berupa anafilaksis, yaitu reaksi alergi sistemik cepat yang dapat menimbulkan bronkospasme, penurunan tekanan darah, syok, hingga kematian bila tidak segera ditangani dengan epinefrin.
Selain risiko kematian akut, alergi makanan juga menyebabkan morbiditas jangka panjang berupa gangguan nutrisi jika dilakukan pembatasan makanan yang terlalu ketat. Kondisi alergi makanan juga berkaitan erat dengan dermatitis atopik dan asma.
Pasien juga bisa mengalami gangguan kualitas hidup karena kecemasan terhadap pajanan makanan, serta mengalami peningkatan kunjungan gawat darurat dan rawat inap akibat reaksi alergi berulang.[1,2,5,8]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha